Kesantunan Berbahasa Sudah Semakin Hilang Dalam Tindak Tuturan Era Milineal


Agoeshendriyanto.com - Kesantunan (politiness) adalah hal yang memperlihatkan kesadaran akan martabat orang lain (Kridalaksana, 2011:119).  Tuturan mininal dua orang yang satu sebagai penutur yang lainnya mitra tutur,  Artikel ini sebagai bentuk keprihatinan kami sebagai akademisi dalam perbincangan di benkel Peradaban Desa Sirnoboyo, Pacitan, Jawa Timur, kamis, ((14/2/2020)

Prinsip kesantunan menurut Leech (1993) menyangkut hubungan antara peserta komunikasi, yaitu penutur dan mitra tutur. Mereka menggunakan strategi dalam mengajarkan suatu tuturan dengan tujuan agar kalimat yang dituturkan santun tanpa menyinggung pendengar. Prinsip kesantunan adalah peraturan dalam percakapan yang mengatur penutur (penyapa) dan petutur (pesapa) untuk memperhatikan sopan santun dalam percakapan.

Hakikatnya kesantunan berbahasa merupakan etika dalam bersosialisasi di masyarakat dengan penggunaan dan pemilihan kata yang baik harus memperhatikan konteks dan situasi dengan tujuan berbicara yang santun. Secara umum, santun merupakan suatu yang lazim dapat diterima oleh khalayak umum. Santun tidak santun bukan makna absolut sebuah bentuk bahasa.

Karena itu tidak ada kalimat yang secara inheren santun atau tidak santun, yang menentukan kesantunan bentuk bahasa ditambah konteks ujaran hubungan antara penutur dan mitra tutur. Oleh karena itu, situasi merupakan varibel penting dalam kesantunan. Kesantunan dalam berbahasa ditentukan pada suatu ujaran atau tuturan yang diungkapkan oleh penutur yang dimaksudkan sebagai ujaran yang santun dan dianggap santun juga oleh mitra tutur sebagai pendengar ujaran. Sehingga kesantunan itu dikaitkan dengan hak dan kewajiban penyerta interaksi.

Leech (1993:25) mengkaji kesantunan berbahasa dari maksim percakapan tokohnya. Maksim adalah kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual, kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Selain itu maksim juga disebut sebagai bentuk pragmatik berdasarkan prinsip kerjasama dan prinsip kesopanan. Maksim tersebut menganjurkan agar penutur mengungkapkan keyakinan-keyakinan dengan sopan dan menghindari ujaran yang tidak sopan. 

Apalagi sekarang ini dengan dunia digital yang telah berkembang dengan pesat, memungkinkan manusia melakukan interaksi hanya lewat android ataupun perangkat lainnya. pertemuan secara langsung sangat sulit diwujudkan disebabkan aktivitas manusia sudah tidak bisa diprediksi lagi.  Situasi dan kondisi yang mempengaruhi tuturan tidak bisa diketahui oleh mitra tutur.  Sehingga seringkali terjadi salah paham antar manusia disebabkan hubungannya secara tidak langsung.  Kesantunan baik secara lisan dan tulisan harus senantiasa diperhatikan betul-betul sehingga tidak terjadi kesalahan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.