Musyawarah Untuk Mufakat: Nilai Kearifan Lokal Yang Harus Kita Lestarikan



Agoeshendriyanto.com - Manusia hidup tak lepas dari kegiatan berfikir, bagaimana kita berfikir untuk kedepan menjadi lebih baik, berfikir untuk menyelesaikan suatu persoalan, berfikir untuk mencari kemufakatan, salah satunya dengan kita berfikir secara mendalam dalam menjawab persoalan. 

Berpikir secara mendalam sangat bermanfaat  bagi kehidupan manusia. Manusia diciptakan mempunyai akal pikiran yang mempunyai sifat keunikan sendiri-sendiri.  Keunikan tersebut kita ramu menjadi sebuah kekuatan untuk mengembangkan kehidupan kita.

Ibaratkan sebuah hidup suatu harmoni irama musik, yang dihasilkan dari berbagai alat musik.  Oleh sebab itu perbedaan tersebut bukan untuk kita tiadakan namun harus kita rangkul untuk tujuan bersama. 

Sebuah persoalan tidak bisa kita pikirkan dengan satu orang, satu kelompok saja.  Hal ini akan menimbulkan sebuah persoalan baru jika diaplikasikan di lapangan.  Terkadang manusia dalam bertindak selalu bilang bahwa itu sudah takdir.  Sebuah contoh misalnya: Indonesia lalu lintas di jalan raya, selalu berjalan di sebelah kiri.  Coba anda praktikan saudara mengendarai sepeda motor dengan berjalan di sebelah kanan atau berlawanan arah.  Pertanyaannya apakah akan mati atau anda ke rumah sakit, atau saudara akan selamat.  Hidup ini manusia dikasih akal untuk berpikir dan berusaha. 

Akal digunakan manusia untuk mempelajari secara lebih mendalam dan menerapkan dalam keseharian. Hal ini yang kita sebut dengan filsafat sebuah cara berpikir yang senantiasa  mencintai kebijaksanaan, dan juga cara manusia untuk berfikir yang mendalam, yaitu bagaimana kebijaksanaan manusia dalam mengambil dan menentukan keputusan terhadap suatu permasalahan atau persoalan yang sedang dihadapi. 

Tak dapat dipungkiri bahwa manusia di alam semesta ini pasti pernah mendapatkan masalah dalam hidup, bahkan dapat dikatakan hampir setiap hari manusia akan mendapatkan suatu permasalahan. Akan tetapi, yang terpenting adalah bagaimana cara kita dalam menyelesaikannya dan mengambil tindakan dan keputusan yang tepat. 

Sehingga kita tidak larut-larut dalam masalah. Salah satunya dengan menerapkan musyawarah untuk mufakat. Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa filsafat sangat mencintai kebijaksanaan. Musyawarah merupakan pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas suatu permasalahan.  

Tentu di negara kita ini sudah tidak asing lagi dengan kata musyawarah, karena musyawarah sudah mendarah daging dalam diri Bangsa Indonesia. Keberagaman yang ada, tentu budaya bermusyawarah tidak dapat hilang begitu saja meskipun tergerus oleh perubahan zaman yang begitu pesat atau sering kita sebut dengan era globalisasi yang mendorong kepada pola pikir manusia yang lebih maju dan mengikuti perkembangan zaman. 

Pada dasarnya musyawarah untuk mufakat  merupakan salah satu ciri dari pada Bangsa Indonesia yang terkandung dalam sila ke-empat yaitu “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakila”. 

 Musyawarah sendiri dapat terjadi atau dapat dilaksanakan dimana saja, baik di Negara, Provinsi, dan bahkan di lembaga terkecil sekalipun dalam ruang lingkup Negara, yaitu Desa. “memang benar musyawarah itu memiliki peranan yang sangat penting dalam hal untuk memecahan suatu persoalan atau permasalahan,” ungkap Bapak Mulyadi (47 tahun) salah satu warga di Desa Kalikuning, yang mengikuti musyawarah hari Senin, (9/3/2020). 

Tak hanya di ranah pemerintahan saja, kita juga dapat menemui berbagai bentuk musyawarah di lingkungan keluarga dan masyarakat. 

Contoh kecil di lingkungan keluarga yaitu, musyawarah dalam membeli suatu barang, sehingga diharapkan tidak terjadi gaya hidup konsumtif yang dapat merugikan. Secara tidak langsung musyawarah sendiri memberikan banyak manfaat bagi kehidupan, selain salah satu cara untuk menyelesaikan suatu persoalan atau permasalahan, kegiatan ini juga melatih kita untuk mengemukakan pendapat atau ide gagasan sehingga membuat kita lebih aktif dalam memberikan sumbangsih gagasan tanpa mengesampingkan pendapat dari orang lain. (Elly  & Rahmat/Ahy/2020)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.