Novel Siti Nurbaya Karya Sastra Balai Pustaka




Agoeshendriyanto.com - Novel yang berjudul Siti Nurbaya” karya Marah Rusli termasuk ke dalam karya sastra periode Balai Pustaka. Karya sastra pada angkatan ini ditandai dengan ciri-ciri yaitu :

  1. Bersifat didaktis, sifat ini berpengaruh sekali pada gaya penceritaan dan struktur penceritaannya. Semuanya ditujukan kepada pembaca untuk memberi nasihat
  2. Bercorak romantis (melarikan diri) dari masalah kehidupan sehari-hari yang menekan
  3. Permasalahan adat, terutama masalah adat kawin paksa
  4. Pertentangan paham antara kaum tua dengan kaum muda
  5. Gaya bahasa mempergunakan perumpamaan klise, pepatah, dan peribahasa.
  6. Latar cerita ini merujuk pada latar daerah, pedesaan, dan kehidupan daerah. 
NovelSiti Nurbaya” mengangkat tema mengenai percintaan, perjuangan, serta budaya atau adat di daerah tersebut. Novel ini juga memiliki tema anti-pernikahan paksa, atau menjelaskan perselisihan antara nilai Timur dan Barat.  

Novel. Sitti Nurbaya dianggap hanya sebuah cerita tentang kawin paksa, sebab hubungan antara Nurbaya dan Samsul dapat diterima masyarakat. Novel ini merupakan perbandingan pandangan Barat dan tradisional terhadap pernikahan, yang dilengkapi dengan kritik sistem maskawin dan poligami

Novel Sitti Nurbaya menceritakan tentang kisah cinta antara Sitti Nurbaya dengan Samsu Bahri yang kemudian karena alasan ekonomi, Sitti Nurbaya harus menikah dengan Datuk Meringgih.
Amanat yang terkandung dalam novel tersebut yaitu :

  1. Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana, tidak memutuskan suatu persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu belaka sehingga mungkin berakibat penyesalan yang tak terhingga
  2. Cinta itu tidak dapat dipaksakan dan tidak dapat dikekang, karena hakikatnya cinta itu bebas
  3. Demi orang-orang yang dicintainya, seorang wanita bersedia mengorbankan apa saja meskipun ia tahu pengorbanannya dapat merugikan dirinya sendiri. Lebih-lebih pengorbanan tersebut demi orang tuanya
  4. Akhir dari segala kehidupan adalah mati, tetapi mati jangan dijadikan akhir dari persoalan hidup

Penulis: Al Rifa Rahayu Dianthi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.