Puitika Roestam Effendi dan Percikan Permenungan



Agoeshendriyanto.com - Pacitan - Puitika Roestam Effendi Dan Percikan Permenungan merupakan buku yang ditulis oleh Ajip Rosidi. Dalam buku tersebut terdapat kumpulan-kumpulan sajak Roestam Effendi pada tahun 1920-an.



Bukan Beta Bijak Berperi


Bukan beta bijak berperi

Pandai menggubah madahan syair

Bukan beta budak Negeri

Musti menurut undangan mair



Syarat sarat saya mungkiri

Untai rangkaian seloka lama

Beta buang beta singkiri

Sebab laguku menurut sukma



Susah sungguh saya sampaikan

Degup-degupan di dalam kalbu

Lemah laun lagu dengungan

Matnya digamat rasaian waktu



Sering saya susah sesaat

Sebab madahan tidak nak datang

Sering saya sulit menekat

Sebab terkurung kikisan mamang



Bukan beta bijak berlagu

Dapat melemah bingkaian pantun

Bukan beta berbuat baru

Hanya mendengar bisikan alunan
Roestam Effendi (1953:28)



Bukan Beta Bijak Berperi merupakan salah satu karya Roestam Effendi yang terdapat dalam buku Puitika Roestam Effendi Dan Percikan Permenungan. Tema yang diangkat dalam puisi tersebut adalah nasionalisme. Perjuangan jiwa mencapai kebebasan atau melepaskan diri dalam berkarya sastra. 

Isi dari puisi Bukan Beta Bijak Berperi yaitu penyair merasa bahwa dirinya bukan orang pandai yang mampu mengubah ketetpan syair yang telah ada. Ia pun menganggap bahwa dirinya bukan budak negeri sendiri yang harus selalu menuruti aturan orang asing, yang telah menjajah negerinya sendiri. Penyair ingin bebas dari halangan yang ia hadapi. 


Puisi ini pada dasarnya merupakan manifestasi sikap dan cita-cita angkatan muda terhadap persajakan yang lama, adat istiadat usang dan peraturan kaum penjajah yang menghalangi cita-cita kebangsaan yang sedang tumbuh. 


Amanat yang terkandung dalam puisi Bukan Beta Bijak Berperi yaituK
  1. Kebebasan itu perlu untuk mengapresiasikan suatu pemikiran yang bersumber dari dalam hati, asalkan kebebasan tersebut masih dibatas wajar. 
  2. Jangan mudah putus asa untuk meraih apa yang kita inginkan, percaya pada diri sendiri dan hargailah setiap pendapat atau hasil karya orang lain.

Penulis: Indriana Retnawati, Suci Fitrianingsih, Uun Atnisya


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.