Semoga Covid-19 Segera Berlalu

 
Agoeshendriyanto.com - Mudik sebuah budaya yang turun temurun dilakukan di Indonesia.  Budaya cityzen yang dibawa ke netizen.  Seharusnya dalam era digitalisasi sekarang ini manusia menasbihkan dirinya sebagai manusia modern zitizen sudah terbiasa dengan zoom, google clasroom, teleconference. 

Budaya tradisional atau cityzen mudik sangat  kontras dengan penanganan wabah Covid-19 dengan physical distancing pembatasan interaksi sosial dengan kontak secara langsung namun aktifitas tetap berjalan melalui media online seperti whatshaap, google classroom, zoom, youtube dan aplikasi lainnya.  

 Setiap orang diberi jarak saat bertemu, tak boleh langsung bersinggungan apalagi bersalam-salaman demi menghindari penularan virus yang sangat cepat. Apakah sosialisasi lewat media sosial tidak memberikan arti bagi masyarakat yang sebagaian besar golongan menengah ke bawah yang budaya literasinya sangat rendah.  Inilah sebanarnya yang perlu kita evaluasi efektifitas dari sosialisasi yang berkaitan dengan mudik lebaran.

Sebagai contohnya yang menarik yang saya temukan di pemberitaan TVRI yaitu ketika kepala desa mencoba untuk memahami makna physical distancing dan lock down.  Beberapa desa misalnya ketika diwawancarai mengemukakan bahwa mereka menjaga jalan yang masuk desa dan ketika ada orang yang asing bagi mereka, mereka melakukan pemeriksaan sebelum membiarkan lewat jalan tersebut.  Mereka dengan suka rela tidak lagi kumpul-kumpul ngobrol sambil ngopi atau wedangan,  Bagi kita yang paham litearsi membaca di media sosial kita melaksakan physical distancing disebabkan  mengikuti anjuran pemerintah.

Konsep sosial pagi kita masih kumpul-kumpul. Semangat  gotong royong untuk membantu sesama masih sangat kuat berakar karena memang kita masyarakat yang dikategorikan sebagai high context culture. Permasalahan pada high context culture seperti pada masyarakat kita, saya dan kamu berbentuk sosial. Sehingga, kita jaga warga kita, bukan saya jaga diri saya. Maka warga bersama-sama melakukan hal tersebut. Egosentrismenya bersifat kelompok, bukan individual. Inilah yang menjadi persoalan besar kita. 

Padahal budaya kita yang high context culture yang suka menolong sesama walaupun diri kita dalam bahaya virus Covid-19 tidak masalah.  hal ini disebabkan mudik lebaran yang mengedepankan budaya tersebut, akan mengakibatkan kontaks fisik diebabkan lama tidak berjumpa.  Budaya salaman dan cium pipi kanan dan kiri menjadi budaya yang telah mengakar.  Budaya yang telah mengakar lama apa hanya lewat himbauan di media sosial padahal sebagian besar masyarakat kita tidak mempunyai perangkat android, paket internet, wifi dan sebagainya. 

Penularan lewat manusia yang cepat itulah yang akhirnya membuat jarak sosial antarsesama, tak pandang keluarga, saudara, teman, dan handai taulan lainnya. Apalagi bila berkumpul dalam jumlah besar pada satu tempat, ibarat jalan tol menuju penularan masif.

Namun masih ada saja yang beranggapan bahwa tradisi mudik tak boleh hilang begitu saja walau ada bala menghadang. Mudik tetap harus berjalan dalam situasi apapun dengan cara bagaimanapun.

Aparat tentu akan kewalahan membendung arus mudik bila sebagian masyarakat tetap memaksakan mudik sementara pemerintah tetap melarang mudik. Jadi harus ada jalan tengah untuk menjembatani hal tersebut.

Di zaman modern ini berkomunikasi sudah bukan yang sulit lagi. Video call sudah gratis alias hanya menggunakan paket data yang bisa dipilih unlimited agar tak memakan kuota. Ini permasalahannya Budaya kita masih high context culture, namun anak-anak kita sudah berubah budayanya menjadi low context culture.  Mereka suka menyendiri melakukan aktifitas secara pribadi.  Perangkat elektronik menjadi kebutuhan primer bagi mereka.

Mereka yang sudah berubah menjadi nityzen dengan budaya Low Context Culture  dengan perangkat ponsel dengan kouta yang terhubung internet sudah cukup untuk bersilaturahmi tanpa harus mudik. Toh sama-sama tak boleh mendekat alias cipika cipiki walau ketemu langsung sekalipun, jadi sama saja dengan video call. 
Peran pemerintah sangat penting untuk menghalangi mereka mudik.  Salah satunya dengan merubah libur lebaran ke hari yang lainnya, adanya intensif bagi yang mudik pada hari libur pengganti, setiap wilayah ada karantina selama 14 hari di sana diberikan materi seperti halnya pelatihan, sampai di lokasi tujuan diharusnya karantina lagi 14 hari.  Daerah dengan kriteria zona merah  akan diberikan bantuan kepada masyarakatnya selama masa karantina. Apresiasi terhadap kebijakan pemerintah dengan mempertimbangkan segala aspek dari hilir sampai hulu, sehingga  akan menjadi pertimbangan pemudik untuk mengurungkan niatnya. 


Pemerintah juga harus mempertimbangkan masyarakat bawah. Jika ada lock down siapa yang akan memberi makan mereka. Bagi masyarakat kelas bawah, jika sakit ya sakit saja ! Tiap hari kami hidup sudah susah !  Jika sakit ya diterima saja. Kalau waktunya meninggal ya meninggal saja. Bagi kita, kematian bukanlah sesuatu yang ditakutkan karena kita meyakini takdir. Masyarakat kita sebagaian besar dari golongan seperti mereka.  Hal ini seharusnya yang menjadi pertimbangan dengan menjamin kehidupan mereka selama masa karantina.  

Kalau 80% saja kompak untuk karantina mandiri.   Padahal penduduk kita yang menengah ke atas tidak 80 %.  Pertanyaannya kurangnya itu harus ditambahkan dengan metode apa ? Jika sekenario pemerintah berhasil mengarantina 80 %, Insya Alloh di awal bulan puasa virusnya sudah mulai punah bila dihitung masa inkubasinya 14-21 hari. Biar lebih aman, tambah satu dua minggu lagi sehingga tepat menjelang waktu akan mudik semua sudah berakhir. Seberapa efektifkan himbauan ini sampai pada masyarakat ?

Biarlah yang 20% mencari nafkah atau membantu menyebarkan logistik kepada yang kurang mampu untuk dapat bertahan hingga masa inkubasi selesai. Jadi sebenarnya tak perlu terlalu khawatir, badai pasti berlalu asal kita semua kompak untuk karantina mandiri. (redaksi/AHy/Mahasiswa Doktoral UNS)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.