Kerendahan Hati: Taufik Ismail Karya Sastra 66


KERENDAHAHAN HATI

  Oleh: Taufiq Ismail

 Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

Yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

 Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak sanggup menjadi jalan raya,

jadilah saja jalan kecil,

tetapi jalan setapak yang membawa orang

ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

Tentu harus ada awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

Rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu

Sevaik-baiknya dari dirimu sendiri

1965

 

Puisi yang berjudul “ KERENDAHAN HATI” merupakan salah satu karya penyair angkatan ‘66 yakni Taufiq Ismail. Taufiq Ismail merupakan tokoh angkatan 66, dimana sastra pada angkatan 66  memiliki ciri sebagai berikut:

  • Puisinya menggambarkan kemuraman (batin) hidup yang menderita.
  • Prosanya menggambarkan masalah kemasyarakatan.
  •  Banyak terdapat penggunaan gaya retorik dan slogan dalam puisi.


Dalam puisinya ini penulis mengajarkan seseorang untuk selalu rendah hati dan selalu bermanfaat bagi orang lain. Adapun gaya bahasa yang disajikan penulis menggunakan bahasa konotasi atau bahasa yang memiliki makna bukan makna sebenarnya.


Citraan yang digunakan dalam puisi ini yaitu lebih mengarah pada penglihatan hal ini dibuktikan pada larik yang berisi “ Yang tegak di puncak bukit” itu membuktikan citraan yang digunakan adalah penglihatan.


 Selain itu untuk pemilihan majas atau gaya bahasa penulis dalam puisinya tersebut menggunakan beberapa majas seperti majas personifikasi yaitu pada larik “ Jalan setapak yang membawa orang ke mata air” disini pengarang membuat suatu benda yang tidak hidup seolah-olah hidup. Terdapat juga majas metafora yaitu pada larik “ Menjadi jalan raya” dan juga majas hiperbola yaitu pada larik “ Tidak semua kapten menjadi kapten”.


Adapun amanat yang dapat kita ambil dari puisi “ Kerendahan Hati” karya Taufiq Ismail ini adalah puisi tersebut memberikan pesan pada pembaca untuk selalu menjadi orang yang rendah hati, meskipun tidak dalam cakupan yang terlalu besar dan selama hidup mereka bisa bermanfaat bagi orang lain.

 Oleh : Dika Ayu Setya Ningrum & Trias Febi Utami

  Publisher: Prabangkaranews Media Group



Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer