Mata Air






Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering.

Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan.

Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing, pecah di padang-padang gersang. 
Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mata air yang tak pernah mati itu. 

Mereka ramai-ramai menuai air membuncah-buncah, menuai airmata yang mereka tanam di ladang-ladang karang.


Bulan sering turun ke sendang itu, menemani gadis kecil yang suka mandi sendirian di situ. Langit sangat bahagia tapi belum ingin meneteskan airmata. 
Nanti, jika musim hujan tiba, langit akan memandikan gadis kecil itu dengan air matanya.

(Joko Pinurbo, 2002)



Mata Air merupakan sebuah karya sastra dalam bentuk puisi karya Joko Pinurbo. Kehadiran penyair Joko Pinurbo dengan kaya-karya mendapat tangggapan pembaca yang luas di tanah air.


Salah satu puisi karya Joko Pinurbo berjudul Mata Air tersebut termasuk dalam karya sastra angkatan 2000-an. Karya sastra angkatan 2000-an mulai memunculkan fiksi-fiksi yang bersifat islami. Berikut adalah karakteristik dari karya sastra angkatan 2000-an:

·         Ciri-ciri bahasa diambil dari bahasa sehari-hari yaitu kerakyat jelataan.
  1. Karya cenderung vulgar
  2. Kritik soisal sering muncul lebih keras
  3. Mulai bermunculan fksi-fiksi islami
  4. Muncul cyber sastra di internet
  5. Menggunakan kata-kata maupun frase yang bermakna konotatif
Puisi karya Joko Pinurbo ini pada hakikatnya lebih mirip dengan sinopsis sebuah cerpen. Penyair mengangkat tema bencana alam, yaitu tentang masyarakat yang mengalami bencana kekeringan dan merindukan musim hujan. 

Susunan bahasa yang digunakan yaitu pemotongan kalimat sebelum selesai kemudian dilanjutkan dilarik berikutnya. Hal ini memberikan kesan lompatan bila dihubungkan dengan makna puisi Mata Air tersebut, yaitu memberikan gambaran jalan yang tidak rata sehingga orang yang menggendong gentong tersebut harus berhati-hati agar air tidak tumpah. 
Dalam puisi ini penyair menyampaikan keresahannya mengenai kondisi alam yang terjadi di suatu tempat yang pernah ia temui. Rasa penuh kesedihan dan keprihatinan atas kekeringan yang menyebabkan penderitaan untuk masyarakat miskin.

Tempat yang kering akan mata air membuat orang-orang yang tinggal di desa tersebut harus berbondong-bondong berjalan jauh demi mencari mata air.

Adapun amanat yang dapat dipetik dari puisi “Mata Air” yaitu, 1) alangkah lebih baik apabila kita memanfaatkan air dengan sebaik-baiknya dimusim penghujan, 2) selalu lapang dada seberat apapun cobaan Tuhan akn selalu memberikan jalan
Penulis: UUN, Indriana, Suci

Publisher: Prabangkaranews Media Group






Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.