Alam Raya Semakin Menunjukan Kita Sebagai Makhuk Ciptaan-Nya



PEWARTA-NUSANTARA|  Pacitan - Ketika matahari memancarkan keindahan dunia dengan warna kuning kemerahan atau sang fajar muncul dari ufuk timur maka menandakan hari akan dimulai. Jika ia dapat berbicara, ia akan  menyapa dunia dengan berkata “Halo dunia!

Semoga harimu menyenangkan.” Ketika semua itu berlangsung kunikmati dengan minum teh hangat untuk mengawali hariku sinambi duduk di teras rumah dengan menkmati keindahan awal pagi yang sangat menyejukkan hati.

Burung-burung berkicau terbang kesana-kemari, ayam pagi berkokok dengan semangatnya menambah suasana pagi yang indah semakin asri. Malam hari  hujan dan menyisakan setetes  air hujan yang turun di daunan, bercampur  embun pagi yang menyejukkan hati.  Terasa indah natural alam anugerah Ilahi.

   

Aku selalu bersyukur dengan apa yang kumiliki sekarang ini, dunia yang kupunya seakan-akan hanya menjadi milikku seorang. Keindahan alam yang kulihat setiap detiknya selalu kusyukuri yang telah diberikan oleh Allah SWT yang masih memberikan kehidupan untukku di dunia ini.

Menit demi menit berjalan dengan seiringnya waktu semua orang mulai beraktivitas melalui kesibukkan masing masing. Seorang petani  yang berangkat ke sawah dengan semangatnya, pekerja kantor yang berangkat kekantor dengan niatnya, serta anak sekolah yang berangkat ke sekolah dengan gembira dan bahagiannya.
 

Ketika semua orang telah melakukan aktivitasnya masing-masig hari mulai sepi. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 09.00 pagi, tiba-tiba saja aku mendengar suara gemuruh alat penebang pohon. Suara itu terdengar sangat jelas karena keberadaan rumahku di sebuah desa dekat  dengan hutan. Aku tidak habis pikir mengapa seseorang melakukan hal semacam itu aku juga belum tahu itu karna disengaja ataupun tidak.

Yang tentu saja dapat menimbulkan bencana seperti banjir dan tanah longsor karena tidak ada pohon pohon yang mencegahnya agar tidak terjadi bencana. Jika itu benar-benar  terjadi hutan maupun alam akan merasakan kesedihan seperti manusia sewajarnya. Lantas apa yang bisa kulakukan  saat itu? aku hanya bisa diam dan menanti cepat berakhirnya penebangan itu.



Tapi semua itu hanya berlangsung kurang lebih 15 menit saja dan akupun semakin lega bahwa pohon pohon itu tentu saja akan selamat dan baik-baik saja. Karena semua orang tidak akan suka ketika alam menjadi rusak karena ulah manusia sendiri, tentu mereka semua akan melakukan apa saja demi kebaikan dan keindahan alam semesta ini. Karena dengan keindahan alam  manusia akan merasakan kenyamanan dalam hidup melalui keindahan tersebut.

Ketika pagi berganti siang dan siang berganti sore suasana desa menjadi ramai karena semua orang telah kembali kerumahnya masing-masing. Tidak heran ketika sore hari orang-orang berkumpul untuk  berbicara, bersundau gurau dan  saling bahagia. Sedangkan aku memilih untuk merasakan segarnya angin sore dan mengabadikan senja di sore hari. Aku sangat menikmati ketika matahari perlahan menghilang dengan sendirinya. Semua itu merupakan keindahan alam yang sangat indah yang kulihat.  

Bukan  hanya  berhenti saat melihat senja, tetapi masih ada malam  yang sangat damai. Malam  bulan purnama dengan bintang-bintang yang bersinar, menambah keelokan malam.  Betapa Agung Sang Pencipta Alam Semesta.  Semakin tunduk dan patuh dan bertekad untuk selalu membersihkan hati dari kemunafikan dan kepalsuan. 

Walaupun hidup ini ujian dan simulasi namun dengan hati nurani kita untuk saling mengasihi menghilangkan semua ambisi duniawi.  Suasana malam akan selalu ku abadikan dengan kamera jadulku untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta Alam Semesta.  Betapa kerdilnya manusia dihadapan Ilahi.  Selagi masih kuasa gunakanlah untuk selalu bermanfaat bagi sesama.  Jangan untuk ambisi pribadi.  (redaksi/Irdaputri/2020)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer