Empat Dolar .....Saksi Bisu Kisah Asmara Dua Insan Berbeda Negara

Agoeshendriyanto.com - Pacitan - Jum'at (5/06/2020) Empat Dolar ditulis Winda Afianti yang saat ini masih menyelesaikan kuliahnya di STKIP PGRI Pacitan semester 6. 

Hiruk pikuk dan suara bising kendaraan mulai memekakan telinga. Di tengah padatnya para pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang memenuhi pinggir jalan raya yang mulai terlihat semakin banyak, Tasiran terus mengikuti langkah kakinya untuk menjajakan dagangan nya. Naik bis, menawarkan dagangannya kepada para penumpang bis kemudian turun di pemberhentian bis berikutnya, hal itu ia lakukan setiap hari demi mengisi perut kosongnya. 


Beginilah hidup yang harus dijalaninya. Tasiran, dia adalah lelaki berusia 36 tahun. Lelaki asal Sumatera yang merantau di kota Pacitan, kota yang dikenal dengan sebutan “Kota Seribu Satu Goa”. Dia merantau melewati batas pulau kelahirannya untuk mengubah nasibnya. Namun,  karena mungkin keberuntungan belum memihaknya, ia pun berakhir hanya sebagai padagang asongan di kota yang terkenal dengan ikon “Ketheg Ogleng”. 

Sebenarnya, orang ini pernah mengalami masa kejayaannya di kota Pacitan, dimana dia pernah menjadi “ Saudagar Kambing” yang tersohor di kota ini. Hidupnya pun terbilang serba tercukupi. Namun sejak peristiwa banjir yang pernah menimpa Kota Pacitan pada tanggal 28 November 2017 yang lalu semuanya berubah.  Lokasi  rumahnya yang terletak dekat dengan  Sungai Grindulu, menyebabkan ia  mendapatkan dampak  kerugian yang paling besar, dimana semua harta bendanya hanyut terbawa arus banjir.

Begitupun dengan  ternak kambingnya banyak yang  mati  dan  juga terbawa  arus banjir.  Hanya menyisakan  bangunan pondok rumahnya.  Karena tuntutan hidup yang semakin mendesak, ia pun harus bangkit untuk menopang hidupnya. Dan ia pun memutuskan menjadi pedagang asongan.

 
Seperti hari-hari biasanya, pagi ini dia mulai menata dagangannya ke dalam kotak kayu berbentuk persegi panjang berwarna coklat usang. Setelah dirasa cukup, ia pun mengambil sepatu butut teman setianya, yang selalu menemani kemana kakinya melangkah untuk mencari sesuap rejeki.  Ia mulai melangkah menapaki jalan kerikil yang biasa Ia lewati untuk mencapai jalan raya.

Hari ini ia berniat menjajakan dagangannya di sekitar Pasar Arjowinangun Pacitan. Suara kemrengseng dari penjual dan pembeli yang saling menawar harga dan bunyi kendaraan bermotor mulai terdengar ditelinganya. Ya, inilah suasana Pasar Arjowinangun Pacitan. Dimana banyak sekali orang menggantungkan hidupnya untuk pundi-pundi rupiah sebagai penghasilan.

              
Lokasinya yang terletak dipinggir jalan raya, terkadang membuat kemacetan sering terjadi. Jika masuk lebih dalam ke pasar, banyak sekali penjual dengan bermacam-macam barang dagangan. Sejauh mata memandang hanyalah lautan manusia. Disinilah tempat Tasiran mencari rupiah hari ini. Dengan modal suara lantang, Ia pun meneriakan dagangannya.

kripik-kripik, rokok, batu korek buk  pak....!!! , monggo-monggo dibeli, murah meriah !! kualitas jos gandos...!!”, suara lantang Tasiran.

Ia terus meneriakan barang dagangannya, berharap ada banyak pembeli yang akan membeli dagangannya hari ini.  Ia melangkah lebih jauh, masuk ke dalam pasar. Menyusuri koridor-koridor yang dipenuhi penjual emperan. Desak-desakan, sumuk, dan segala hiruk pikuknya, merupakan hal biasa baginya.

Tidak jarang juga umpatan sering diterimanya, karena dianggap menggangu pembeli dengan ocehan barang daganganya.  Hari ini berlangsung sangat melelahkan. Hanya beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang didapat. Tapi tak apa, ini juga rejeki dari Tuhan untuknya.  Ia pun memutuskan kembali ke pondoknya untuk melepas penatnya sepanjang hari ini.


Malam ini, hujan masih terus bergerilya merayakan kekuasaanya untuk membasahi bumi. Memadamkan api, yang menyulut dalam jiwa-jiwa yang sedang dilanda kobaran amarah. Aroma tanah yang khas di kala hujan turun, memenuhi isi ruang tamu di mana Ia duduk di sebuah kursi kayu tua yang pudar warnanya, mungkin karna faktor dimakan usia sehingga cat nya pun tak mampu bertahan di bagian-bagian permukaan kursinya.  

Sambil memegang segelas cangkir kopi, Ia pun menikmati rintik-rintik hujan yang menyentuh jendela tua nya.

Hujan deras mulai berganti dengan rintik-rintik gerimis. Matanya menerawang keluar jendela yang terpasang di tembok ruangan.  Gelap..., sunyi..., dan genangan kabut..., adalah hal pertama yang ditangkap indra penglihatannya. Nampaknya semua orang sudah damai dalam lautan mimpi indah, hanya menyisakan dirinya yang masih terjaga.


Entah kenapa, malam ini Ia sulit sekali memejamkan matanya. Padahal jam sudah menunjukkan larut malam. Sambil menyecap secangkir kopinya, pikirannya melayang mengingat kenangan indahnya 6 tahun silam. Ya..., kenangan indahnya dengan seorang gadis bule dari Jerman. Alesya.

Bahkan hanya dengan mengingat namanya saja sudah mampu menggetarkan hatinya. Membuat luka yang tertutup rapat dihatinya menganga kembali. Sebuah insiden kecil yang mempertemukan keduanya, hingga berujung pada perkenalan.
September,  2011 (6 tahun silam).

 Tasiran duduk termenung ditemani pasir dan senja di pesisir Pantai Kelayar. Merenung di pesisir pantai, adalah hobi yang sudah melekat pada dirinya. Setiap ada waktu luang ia selalu menyempatkan menghibur dirinya dengan hobi tersebut. Setelah dirasa cukup, Ia pun memutuskan mengikuti langkah kakinya menyusuri pantai sambil bersua dengan ombak biru. 

Saat menapaki pasir, tak sengaja matanya bertemu dengan sebuah amplop merah jambu yang tergeletak di sebuah karang kecil.  Karena rasa penasaran, Ia tidak bisa mencegah dirinya untuk tak membuka amplop misterius itu. Beberapa helai dolar....dan ...tepatnya empat dolar, isi dari amplop tersebut. Ia pun bingung,milik siapakah ini. Ingin ia letakkan kembali amplop itu ketempatnya, namun niatnya segera ia urungkan.

Barang temuan”, pikirnya.

Jadi ia bebas menggunakan uang tersebut. Dengan hati gembira, Ia berniat meninggalkan pantai tersebut dengan uang dolar temuan di genggamannya.  Tiba-tiba, seorang gadis berkulit putih menghentikan langkahnya.

“ Hey... itu milikku “, ucap gadis itu dengan senyum menawannya.
“ Oh, benarkah? Maaf aku tak tau... ,ini untukmu “ kata Tasiran sambil menyerahkan amplop tersebut.
  “ Tak apa, oh ya... namaku Alesya, I am from Jerman “, sambil mengulurkan tangannya padaku.   “ Aku Tasiran, kau bisa memanggil ku Tasi,”  ucap Tasiran asmbil menjabat  tangan gadis itu.     “hahahaha...ouh .. aku tak tau jika nama mu itu benar-benar unik “,  ucap Alesya sambil tertawa lepas.   Menawan... indah.., dua kata yang ada di benak Tasiran.

Sejenak Tasiran terbius dengan mata biru indah milik gadis keturunan Jerman itu.   Teduh... itulah perasaan yang Ia rasakan  melihat mata gadis tersebut. Entah kenapa, damai dan terasa nyaman melihat gadis tersebut tertawa lepas sambil bercerita tentang dirinya kepadanya. Mungkin inilah yang namanya cinta pada pandangan pertama. Ouhh..!! Tasiran sudah terjebak dengan rasa itu. Rasa yang mampu menggetarkan hatinya. Dan juga, Rasa yang mampu memporak-porandakan logikanya hanya dengan senyuman kecil dari gadisnya.   

Dari  perkenalan singkat itu, nampaknya hubungan kedua insan tersebut menjadi lebih dekat. Setiap senja mereka selalu bertemu di Pantai Kelayar. Entah sekedar bercengkrama, ataupun menghabiskan waktu berdua. Benih-benih cinta pun mulai bersemi diantara keduanya. Perbedaan negara ternyata tidak jadi  tombak penghalang antara mereka.

Toh, Alesya pun fasih berbahasa Indonesia, karena gadis itu memang sudah tinggal lama di sini. Sehingga memudahkan Tasiran berkomunikasi dengannya. Bagi Tasiran, Alesya adalah jawaban dari kekosongan hatinya selama ini.  Kedua insan tersebut bahkan memutuskan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan. Inilah keputusan final yang diambil dua insan yang dimabuk asmara itu. 
 

Hari-hari mereka lalui dengan bahagia , sampai suatu ketika......  insiden besar memisahkan mereka berdua. Satu hari setelah pernikahan, Alesya mengalami kecelakaan tunggal saat ingin pergi menemui suaminya, Tasiran. Cairan merah kental menerobos keluar lewat hidung, telinga dan mulut wanita itu. Kejadian ini merenggut nyawa wanita bule bermata biru, Alesya.                   

Perih dan hancur yang dirasakan Tasiran melihat mayat istrinya terbujur kaku didepannya. Cinta nya telah terkoyak oleh takdir. Gambaran memiliki keluarga kecil yang bahagia pun runtuh seketika bersama hilangnya sosok istrinya. Itulah cinta, kenikmatan yang diberikan oleh “Penyebab Tanpa Sebab” terkadang bisa berakhir menyakitkan.

Mengapa harus ada kata “Jatuh” yang berada didepan kata “Cinta” ?,
Mengapa harus kata “Mati” yang berada dibelakang kata “Cinta” ?
Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata ?

Entahlah, tiada yang tau pasti tentang itu semua. Manusia hanya bisa menerka-nerka akhir kisah asmaranya. Entah itu membahagiakan ataupun merundung luka, kita tidak tau sebelum mengalaminya.

Itu semua adalah bagian dari proses kehidupan. Meski memakan waktu yang lama, Tasiran akhirnya bisa menerima kepergian istri tercintanya dengan lapang dada. Akhirnya setelah bertahun-tahun Ia bisa berdamai dengan luka nya, dan menata masa depannya kembali. Ia akan terus mengingat semua kenangan indah bersama mendiang istrinya dan menyimpanya rapat-rapat di lubuk hati terdalam. Empat dolar..... lembaran mata uang asing itu menjadi saksi pertemuan kisah asmara dua insan berbeda negara.


Penulis: Winda Afianti
Publisher: Prabangkaranews Media Group

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer