Tuturan Langsung Sangat Dibutuhkan Dalam Komunikasi


PEWARTA_NUSANTARA | PACITAN - Pandemi Covid-19 sangat berpengaruh dalam semua sendi kehidupan manusia.  Manusia yang mampu adaptif dalam setiap perubahan akan memenangkan dalam kompetisi saat pandemi Covid-19 maupun New Normal.  Sekarang ini walaupun teknologi digital dengan aplikasi whatshapp, youtube, google meeting, zooom dan banyak aplikasi lainnya namun belum mampu menggantikan komunikasi secara langsung.  Tuturan langsung apalagi dalam mentransfer sebuah ilmu pengetahuan baik profesi guru, dosen, motivator, dan profesi lainnya membutuhkan konteks yaitu ruang dan waktu.  Makna dalam sebuah pesan sangat ditentukan oleh ruang dan waktu kapan pesan tersebut disampaikan. 

Jurnalis @Prabangkara mewancarai salah satu mahasiswa STKIP PGRI Pacitan semester 6, Tri Wahyuni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia .Apakah tuturan secara langsung masih relevan saat pandemi Covid-19?

Tris Wahyuni menjelaskan, "Austin (dalam Leech, 1993: 280) menyatakan bahwa semua tuturan adalah bentuk tindakan dan tidak sekedar sesuatu tentang dunia tindak ujar atau tutur (speech act) adalah fungsi bahasa sebagai sarana penindak, semua kalimat atau ujaran yang diucapkan oleh penutur sebenarnya mengandung fungsi komunuikatif tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa mengujarkan sesuatu dapat disebut sebagai aktifitas atau tindakan. Hal tersebut dimungkinkan karena dalam setiap tuturan memiliki maksud tertentu yang berpengaruh pada orang lain."

"Sehubungan dengan pengertian-pengertian di atas, tuturan dapat disebut sebagai ujaran yang di dalamnya terkandung suatu arti dan digunakan dalam situasi-situasi tertentu. Seperti pada saat pandemi ini, tuturan masih dianggap relevan karena masih menjadi aktivitas dan tindakan terutama guna mengampanyekan mengenai protokol kesehatan dan pemberian informasi, "sambung mahasiswa yang aktif diorganisasi  kampus.

Jurnalis juga menanyakan, "Bagaimana fungsi guru  atau dosen dalam  penyampaian  pesan nilai karakter  di era pandemi  Covid-19?

"Dulu, siswa dan guru bertatap muka langsung untuk proses belajar-mengajar. Kini, setelah pandemi Covid-19 merundung Indonesia, belajar mesti dilakukan dari jarak jauh. kebanyakan interaksi melalui digital. Selaku pendidik, guru maupun dosen harus menyadari betul  bahwa tidak hanya ilmu yang hendak diberikan kepada peserta didik, namun juga  sebagai contoh dan teladan  yang menstransfer adab dan tata nilai.  Keberadaan fisik seorang guru atau dosen  tetap dibutuhkan oleh peserta didik didalam proses belajar mengajar  karena fungsinya  tidak hanya menyampaikan  materi dan mentransfer ilmu  tapi juga mendidik karakter serta mengajarkan bagaimana memaknai dan menjalani hidup  dengan lebih baik, " jawabnya dengan bersemangat.

"Hal yang perlu direfleksikan, bahwa hal penting  dalam hidup seperti  tanggung jawab, kedislipinan, rasa empati, , kerja keras, jujur,  kesederhanaan dan juga keikhlasan yang tidak bisa ditemukan  dalam  teknologi yang canggih sekali pun. Oleh karena itu, guru atau dosen bisa melakukan melalui pendekatan membangun komunikasi yang efektif, tidak terlalu lama berbicara satu arah. Sebagai contoh perlu mempersiapkan presentasi menjadi menyenangkan, desain yang menarik dan bahkan penampilan style fashion pun mesti tidak membosankan, formal namun casual sehingga lebih fresh turut menjadi tantangan. Menjadi tantangan untuk menciptakan interaksi antar peserta didik dan kelompok agar suasana interaksii menjadi lebih hidup dan juga menjadikan kesan yang menyenangkan dalam membentuk karakter," jawabnya.

Bagaimana setelah pandemic Covid-19 yang kita tidak tahu kapan  berakhirnya, khususnya profesi  yang mengharuskan  untuk bertatap muka secara langsung seperti guru atau dosen?

Era digital ini justru sangat membutuhkan peran guru dan dosen dalam memfilter informasi kepada para peserta didik. Oleh karena itu, menjadi tantangan pendidik yang dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman terutama era digital ini membuka inovasi dalam mengajar. Pendidik, guru dan dosen mestinya tidak enggan dan segan untuk mencoba platform digital, melalui platform digital pembagian tugas menjadi semakin mudah dan juga menjadwalkan proses pembelajaran menjadi lebih gampang, "jawabnya.


Apa yang saudara lakukan  seandainya kultur  atau budaya kita akan berubah paska pandemic Covid-19?

"Saya sebagai generasi milenial harus lebih kuat menghadapi berbagai tantangan ke depan dalam menghadapi perubahan kultur dan budaya . sebisa mungkin sebagai kaum milenial selalu berkomitmen untuk mengkampanyekan budaya-budaya dan kultur yang mulai berubah akibat pandemic. Generasi milenial harus mampu mengidentifikasi apa komponen yang unik dan signifikan dari warisan budayanya, dan untuk menentukan komponen mana yang hendak dipertahankan. Oleh karena itu, rencana dapat disusun tentang bagaimana mencapainya, misalnya kegiatan di  masyarakat, membangun industi lokal yang berbasis budaya lokal," Jawab Tri Wahyuni.

Jurnalis menyimpulkan begitu pentingnya menjalin komunikasi secara langsung disebabkan ruang dan waktu komunikasi sangat mempengaruhi adanya signifikansi ataupun kesepakatan antara penutur dan mitra tutur.  Sehingga diharapkan adanya sebuah aksi dari mitra tutur mapun penutur untuk melaksanakan kesepakatan dalam sebuah komunikasi langsung.  Maka sangat diperlukan sekali komunikasi. (redaksi/Agoeshendriyanto/Dosen STKIP PGRI Pacitan/Studi Doktoral di UNS)

Publisher: Prabangkaranews Media Group


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer