Pemanfaatan Tumbuhan Lumbu Untuk Menunjang Ketahanan Pangan Di Desa Temon, Pacitan, Jawa Timur




PEWARTA_NUSANTARA | PACITAN -  Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan semester akhir dalam kegiatan KKN 2020 dalam masa pandemi mencoba membuat kripik dari tanaman talas atau sering disebut dengan lumbu.

Di Indonesia banyak ditemukan sejumlah tumbuhan yang dapat dikonsumsi sehari-hari salah satunya adalah tumbuhan lumbu. Tumbuhan lumbu adalah sejenis tumbuhan  talas berwarna hijau yang memiliki daun berbentuk hati dengan batang yang lunak.

Tumbuhan lumbu sejenis tanaman talas ini merupakan tanaman tropis yang banyak ditemukan di negara-negara tropis dan subtropis.  Salah satu warga di dusun Gading desa Temon mengatakan bahwa tumbuhan lumbu ini disebut dengan istilah “Lumbu Semarang” hingga istilah tersebut masih ada didesa saya sampai sekarang, karena bisa dikonsumsi  dan dijadikan sebagai pembeda dari tumbuhan talas pada umumnya.


Tumbuhan ini dikenal banyak hidup di kawasan pendesaan yang biasanya diolah oleh masyarakat menjadi bahan makanan. Tumbuhan Lumbu ini biasa hidup dikawasan tempat yang yang dingin dan lembab atau dekat dengan air. Tumbuhan ini, dapat ditemukan didaerah perkebunan, sawah, atau disekitar perairan.

Tumbuhan Lumbu adalah tumbuhan yang banyak digemari untuk dikonsumsi oleh  warga karena rasa yang khas dan tekstur yang lembut. Tanaman yang dikenal Lumbu ini masyarakat mengkonsumsi dengan diolah menjadi masakan seperti sayur karena dikenal tumbuhan yang tidak gatal  dan mudah untuk didapatkan. Beraneka ragam sayur yang biasa diolah dalam sehari-hari seperti buntil lumbu, sayur asem, tumis lumbu dan masih banyak olahan lumbu lainnya .

Adapun cara pembuatan keripik dari daun lumbu yaitu dengan bahan seperti siapkan 7 lembar daun lumbu atau sesuai yang dibutuhkan dengan menghilangkan batangnya, 250 grm tepung beras, 50 grm tepung kanji, 1 butir telur, 3 siung bawah putih, 2 butir kemiri, 1 sdt ketumbar, 1 ruas kunyit, 1 sdt garam halus, 1 sdm bubuk kaldu ayam/penyedap rasa, dan 270 ml air.

Cara pembuatanya yaitu cuci daun lumbu hingga bersih, rendam daun lumbu menggunakan 1 sdm garam selama 1 menit, potong daun tersebut menjadi kotak memanjang atau sesuai dengan selera dan letakkan di wadah supaya mengering, setelah itu bumbu yang harus dihaluskan seperti kemiri, bawah putih, kemiri, ketumbar, dan  kunyit, selanjutnya campurkan tepung beras, kanji, telur,garam, bubuk kaldu ayam atau penyedap rasa, dan bumbu yang sudah dihaluskan. Setelah semua bahan dimasukkan tuang 270 ml air ke dalam adonan lalu aduk hingga adonan merata, langkah terakhir lumuri daun lumbu ke dalam adonan dan goreng hingga berwarna kecoklatan. Ini adalah salah satu proses pembuatan keripik dari daun lumbu.

Jika ingin menjualnya bisa menggunakan modal dengan kisaran 50 ribu. Dengan modal tersebut akan menghasilkan sekitar 17 bungkus keripik. Keripik lumbu ini dapat dijual mulai dari harga 5 ribu. Dengan mendapatkan laba atau  untung sebesar 1.500 /kemasan.

Meskipun lumbu ini nikmat diolah menjadi makanan namun orang-orang harus perspective dalam menyeleksi tumbuhan yang dinilai serupa dengan talas ini untuk dikonsumsi.  Jenis tumbuhan talas tidak semua bisa dikonsumsi seperti lumbu yang bisa diolah menjadi apa saja. Lumbu ini memiliki karakteristik tersendiri untuk membedakan dengan tumbuhan talas lainnya.

Bisa diamati dengan seksama bahwa lumbu memiliki daun yang relatif kecil dan juga batang yang memiliki ketinggian antara 50-70 cm berwarna sedikit keunguan serta memiliki tulang daun yang rata. Jika terdapat tumbuhan lumbu atau talas yang sama, apabila tulang daun menonjol dan ukuran daun dan batang terlalu besar, maka harus berhati-hati jangan salah mengonsumsinya seperti menghindari tumbuhan talas yang biasanya dijadikan tanaman hias.

Hal ini bertujuan untuk membuktikan bahwa tumbuhan lumbu memiliki karakteristik yang berbeda karena tidak memiliki ubi dan hampir memiliki kemiripan dengan talas lainnya yang kebanyakan diambil umbinya. Namun untuk memanfaatkan daun “Lumbu Semarang” dijadikan keripik jauh lebih aman karena orang pedesaan telah mengkonsumsinya dan tumbuhan tersebut tidak memiliki sifat gatal ketika sudah dimakan.

Jika dilihat dengan sekilas tumbuhan lumbu merupakan tumbuhan biasa yang jauh berbeda dengan makan yang sudah trendi saat ini, namun sebenarnya tumbuhan ini memiliki manfaat dan gizi didalamnya. Dari berbagai sumber informasi salah satu diantaranya yang dilansir dari Boldsky tumbuhan daun lumbu atau talas mengandung protein, total lipid (lemak), karbohidrat, serat makanan, gula, kalsium dan lainnya.

Manfaatnya berupa mencegah kanker, tingkatkan kesehatan mata, menurunkan tekanan darah tinggi, memperkuat sistem kekebalan tubuh, mencegah diabetes, membantu pencernaan, membantu pencernaan, mencegah anemia dan lain sebagainya.

Karena tanaman lumbu terbukti aman dikonsumsi, selain di olah menjadi sayur dan memanfaatkan umbinya maka diolahlah daun lumbu  tersebut menjadi keripik daun lumbu. Setelah mencoba membuat keripik dari daun lumbu tersebut ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Saat ini seluruh dunia sedang mengalami pandemi Covid -19 dan sementara harus dilockdown.

Sehingga semua penduduk masyarakat khususnya di Indonesia harus dirumah aja. Maka tujuan membuat kripik dari tumbuhan yang mudah didapatkan ini mereka agar selalu produktif dan juga sebagai ketahanan pangan walaupun dirumah. Selain itu informasi serta edukasi yang dapat diberikan agar mereka tahu bahwa lumbu selain dimasak sebagai sayur juga bisa dijadikan keripik. Selain itu, membantu mereka untuk berwirausaha sebagai tambahan ekonomi dengan memanfaatkan bahan yang murah karena tersedia dilingkungan sekitar. (redaksi / Zaning Laila/Mahasiswa Semester Akhir STKIP PGRI Pacitan)

Referensi

https://nusantaranews.co/konsumsi-daun-talas-dan-rasakan-manfaat-sehatnya/

https://intisari.grid.id/

http://www.lintasmedika.com/


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer