Plengsengan Sebagai Sarana Pencegahan Tanah Longsor


PEWARTA-NUSANTARA || PACITAN - Artikel ini ditullis oleh Shofiatun Muhajir Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasadan Sastra Indonesia semester 4, STKIP PGRI Pacitan.  Sofi biasa dipanggil tertarik judul esay "plengsengan Sebagai Sarana Pencegahan Tanah Longsor." Selain tulisan Sofi masih banyak lagi karya mahasiswa STKIP PGRI Pacitan yang layak untuk dibaca. Melalui WA kepada redaksi @Prabangkaranews Senin (08/06/2020) menyampaikan tulisan sebagai berikut ini.  Monggo bisa dibaca mungkin dapat memberikan pengetahuan. 

Dinding penahan tanah atau yang umum disebut plengsengan sering digunakan untuk meminimalisir terjadinya tanah longsor. Plengsengan ini biasanya terbuat dari beton yang kuat. Plengsengan memiliki fungsi sebagai bangunan penahan tekanan tanah. Pembuatan plengsengan dilakukan atas kekhawatiran terjadinya tanah longsor. Apalagi jika musim hujan mencapai puncaknya tanah longsor menjadi problem yang harus menjadi ancaman setiap warga yang tinggal di  dekat lereng umumnya .

Menurut Brook dkk (1991) mengungkapkan bahwa tanah longsor adalah salah satu bentuk dari gerak masa tanah, batuan, dan runtuhan batuan/tanah yang terjadi seketika yang bergerak menuju lereng bawah yang dikendalikan oleh gaya gravitasi dan meluncur dari atas suatu lapisan kedap jenuh air (bidang luncur). Sedangkan menurut Arsyad (1989) manyatakan, longsor terjadi sebagai akibat meluncurnya suatu volume di atas suatu lapisan agak kedap air yang jenuh air. Dalam hal ini lapisan terdiri tanah liat atau mengandung kadar tanah liat tinggi dan juga dapat berupa lapisan batuan seperti napal liat (clay shale) setelah jenu air akan bertindak sebagai peluncur.


Dapat disimpulkan bahwa tanah longsor merupakan pergerkan tanah menuruni lereng terdiri dari tanah,batuan, runtuhan batuan yang dapat membahayakan keselamatan. Tanah longsor merupakan bencana yang patut di waspadai karena dapat menimbulkan beberapa akibat seperti timbulnya korban jiwa, terauma psikis, perekonomian tersendat, jalu transportasi terputus, dan sebagiannya. Maka diperlukannya edukasi serta pencegahan terhadap tanah longsor karena sering terjadi di setiap musim penghujan tiba.

Pada tahun 2012 Kota Pacitan mengalami kemajuan di bidang jalur transportasi. Di tahun ini dibangunlah Jalan Lintas selatan yang menjadi jalur baru di Kota Pacitan sebenarnya ini merupakan rangkaian proyek jalur lintas selatan Jawa pada tahun 2002. Di bangunnya jalur ini menjadikan akses jalan menjadi lebih cepat, akan tetapi pembangunan jalan ini memicu terjadinya tanah longsor. Jalur yang dilalui jalan lintas selatan ini merupakan pegunungan sehingga mau tidak mau dalam pembuatan jalan membelah pegunungan.



alur lintas selatan juga melewati rumah penduduk sehingga banyak rumah yang tergusur. Dalam pembuatan jalan lintas selatan dibuat lebih rendah dari jalan sebelumnya sehingga pengerukanpun dilakukan,  pengerukan ini berimbas pada rumah penduduk yang notabennya dulu berada di atas jalan. Pemilik rumah-rumah di atas jalan menjadi khawatir terjadinya tanah longsor karena setelah pengerukan rumah mereka tepat berada disisi lereng. Kemudian pihak proyek  membuat plengsengan yang menjadi alternatif untuk mencegah tanah longsor. Plengsengan dibuat di pinggir jalan sebagai tembok yang melindungi agar tanah tidak bergerak. Sehingga saat musim penghujan tiba warga yang memiliki tempat tinggal lereng bekas pengerukan merasa lebih aman.

Plengsengan sebagai alternatif penahan tanah hendaknya harus dirawat dengan dilakukan pengecekan oleh pihak yang bersangkutan mulai dari warga dan pihak yang menanganinya. Jika ada kerusakan hendaknya warga melapor dan pihak yang berwenang dalam hal ini juga tanggap dalam menangani permasalahan sehingga tanah longsor dapat diminimalisir mengingat wilayah Indonesia merupakan daerah tropis yang memiliki curah hujan tinggi.

Banyak kasus tanah longsor di Pacitan sehingga ini perlu menjadi kewaspadaan agar masyarakat selalu sadar akan bahaya tanah longsor. Masyarakat selalu berhati-hati. Begitu pula pemerintah daerah harus selalu memberikan edukasi serta pencegahan bersama-sama dengan warga Pacitan khususnya yang bertempat tinggal di daerah rawan longsor.

Referensi.

Purba, J Otniel. 2014. Pembuatan Peta Zona Rawan Tanah Longsor di Kota Semarang dengan Melakukan Pembobotan Parameter. https://eprints.undip.ac.id   diakses 14 Mei

Kominfo Jatim, 2012. Jalur lintas selatan Jatim menyambung pacitan malang. http://kominfo.jatimprov.go.id/read/laporan-utama/842.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer