Seorang Gadis Bermata Bening Menenggelamkan Wajahnya di Atas Sajadah Untuk Beribadah Pada Sang Illahi.


PEWARTA-NUSANTARA| Pacitan - Udara sejuk yang menenangkan hati pagi ini membuat nyaman setiap orang yang menghirupnya. Suasana pagi di desa yang hijau itu tak sesibuk dan seramai di kota. Celoteh burung yang membangunkan manusia setiap pagi selalu terdengar riang. Tak ketinggalan ayam jantan pun saling bersahutan untuk membangunkan penghuni rumah yang masih asyik dengan dunia mimpinya.
Pagi itu, seorang gadis bermata bening sedang menenggelamkan wajahnya di atas sajadah untuk beribadah pada Sang Illahi. Berdoa kepada-Nya untuk segala kebaikan dan mencurahkan semua keluh kesahnya. Biyah, gadis mungil bermata bening itu kini sedang membaca ayat-ayat suci milik-Nya setelah selesai dengan sholatnya. Suaranya mengalun lembut menciptakan melodi indah di setiap telinga orang yang mendengarnya.

Terbangun setiap pagi adalah rutinitas yang harus dijalaninya. Setelah selesai dengan urusan akhiratnya, ia segera bersiap-siap untuk urusan dunianya. Apalagi kalau bukan untuk membantu orang tuanya. Biyah adalah sosok gadis yang terlatih untuk mandiri sejak kecil. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana di sebuah desa yang hijau nan indah. Biyah adalah sosok gadis yang unik, ia berbeda dengan anak-anak lain.

Biasanya teman-temannya sangat senang apabila pergi jalan-jalan atau liburan, tapi lain dengan Biyah. Ia lebih suka di rumah menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang berguna seperti membantu orang tuanya. Dia sadar dengan doa dan usaha, dengan ijin-Nya semua akan dilalui dengan indah.

Biyah bukan tidak mau untuk keluar mencari udara segar atau refreshing seperti halnya anak-anak seusianya. Sebenarnya ia ingin untuk pergi layaknya teman-teman yang lain. Namun ia tak tega melihat kedua orang tuanya harus bermandikan keringat setiap hari. Membanting tulang untuk menghidupi keluarga. Sadar diri dengan keberadaannya bukan berarti dia rendah diri.

Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini, mereka bertahan melawan teriknya matahari, rasa gerah yang tak tertahankan, dan kaki yang kering dan pecah-pecah karena tak beralas. Tak jarang Biyah menitikkan air matanya bila melihat dua malaikatnya itu tersiksa. Itulah mengapa Biyah tak tega untuk keluar bersenang-senang, sementara kedua orang yang dikasihinya menahan sakit dan perih untuk menjalani kehidupan, mencari sandang pangan untuk anak-anaknya.
Biyah harus lebih giat membantu orang tuanya, apalagi di musim seperti ini. Ia hanya bisa membantu ketika ia pulang dari sekolah, biasanya hari jumat sampai minggu. Mengapa hanya tiga hari ? Karena Biyah sudah berada di bangku kuliah. Ia baru memasuki semester pertama tahun ini. Biyah sekolah di STKIP PGRI Pacitan dan mengambil program studi PBI. Hal in terbayang untuk mendapatkan ilmu dari kampus terbesar di Pacitan.  Perjuangan untuk terus membayar SPP, dengan tujuan agar tetap masih bertahan untuk kuliah untuk nyandang gelar sarjana.

Biyah ikut ngekos temannya di rumah bibinya. Dia biasanya pulang seminggu sekali atau dua minggu sekali. Ia adalah gadis yang ramah pada semua orang. Biyah termasuk anak yang termuda di kelasnya, umurnya baru 18 tahun. Kalau dalam girlband kpop disebut sebagai Maknae (member termuda).
#...#
Pukul 03.20 dini hari, ibu membangunkan Biyah. Mereka harus segera bersiap-siap untuk pergi mengambil air. Begitulah kondisi pada musim kemarau. Sumber air mulai lelah untuk mengeluarkan airnya, ia sudah tak mampu menahan teriknya sang surya. Air hanya mampu keluar perlahan dari tempat persembunyiannya.Masalah pada musim kemarau, tentu saja kurangnya air bersih.

Biyah dan ibunya segera bersiap-siap untuk berangkat. Ibunya tak tega membangunkan ayah karena ia terihat begitu kelelahan. Jadi ibu hanya mengajak Biyah untuk mengambil air. Sebuah jiligen besar dan ember dibawa oleh Biyah.

Ibunya yang membawa senter kecil sebagai sumber cahaya. Rembulan sepertinya sedang tidak bersahabat pagi itu, ia hanya memancarkan cahaya remang-remang yang menembus dedaunan. Perjalanan dari rumah menuju sumber air yang berjarak sekitar 1 km ditempuh dengan berjalan kaki. Mereka harus menapaki jalanan menanjak ditemani cahaya dari senter dan remangnya cahaya bulan.
Sekitar 15 menit berlalu, Biyah dan ibunya sampai di sumber air. Harapan untuk mendapatkan air pagi itu sirna. Mereka harus menunggu air itu sampai memenuhi cekungan yang telah dibuat. Kurang lebih satu jam berlalu, jiligen dan ember yang dibawa Biyah sudah terisi dengan air.

Biyah dan ibunya segera mandi dan tak lupa mengambil wudhu. Ibu membawa jiligen yang berisi 30 liter air tersebut, sedangkan Biyah yang membawa embernya. Biyah sebenarnya tak tega melihat ibunya harus membawa beban seberat itu, tapi mau bagaimana lagi, Biyah belum kuat untuk membawa 30 liter air.

Sesampainya di rumah, Biyah segera melaksanakan Sholat Subuh berjamaah dan kemudian bertilawah. 10 menit berlalu, Biyah segera membantu ibu di dapur. Mereka harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan rumah dan kemudian pergi mencari rumput.

Tidak usah ditanya, Biyah sudah pasti ikut membantu orang tuanya mencari rumput. Ia memang berbeda dengan anak-anak lain yang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, Biyah lebih suka ikut orang tuanya mencari rumput. Rasa panas, sakit dan perih terkena duri sudah menjadi hal yang biasa bagi Biyah.
Orang tua Biyah memelihara beberapa ekor kambing. Tidak ada pilihan lain selain beternak. Perawakan ayahnya yang kecil dan kurang tinggi tidak memungkinkan untuk pergi merantau seperti orang lain.

Terkadang Biyah sangat kasihan pada ayahnya, membawa beban berat dengan kondisi fisiknya yang kurang memungkinkan. Di desanya memang banyak orang yang memelihara kambing maupun sapi. Pekerjaan di desa yang sangat cocok hanyalah bertani ataupun beternak.

00000000---0000000000
Ketika sang surya mulai meninggi, hampir di atas kepala, Biyah dan orang tuanya pulang dari mencari rumput. Sampai di rumah ia istirahat sebentar dan kemudian pergi dengan membawa dua ember yang besar.
" Mau ke mana, nduk?"tanya ibu Biyah
" Mau ke kali, bu. Di rumah airnya sedikit, jadi Biyah ke kali saja," sahut Biyah.
" Yo wis, hati-hati," pesan ibu pada Biyah
" Iya bu, assalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Sesampainya di sumber air (warga biasa menyebut kali), Biyah dihadapkan dengan pemandangan yang khas, tentu saja sudah banyak orang yang mengantri untuk mengambil air. Biyah hanya bisa mrengut dan menghela napas berat. Ia kemudian melipir pergi ke sebuah gubuk kecil (ranggon) untuk mengatur napasnya yang naik turun.

Dalam hati Biyah menggerutu, "ihh...lama banget sih orang-orang ngambil air. Nggak tau apa kalo lagi panas gini...huh". Cepat-cepat Biyah mengucap istighfar atas apa yang ia ucapkan barusan.
Sekitar 50 menit berlalu, baru Biyah bisa masuk ke sumber air dan mengambil air, walaupun masih ada sedikit rasa kesal dalam hatinya. Setelah selesai dengan urusannya, Biyah segera pulang. Ia segera menunaikan sholat dzuhur, baru setelah itu ia makan. Satu hal unik pada diri Biyah, ia adalah penggemar pedas.

Ia bisa menghabiskan satu lemper sambal sekali makan, itu pun kalau tidak ketahuan ayahnya. Ya, ayahnya melarang keras Biyah untuk mengonsumsi terlalu banyak sambal. Biyah tahu kalau banyak konsumsi sambal bisa berbahaya bagi pencernaannya, tapi terkadang ia nekad.
00000000000----000000000000

Setumpuk buku sudah menumpuk di hadapan Biyah. Tentu saja tugas kuliah yang harus segera diselesaikan. Mereka menunggu untuk dikerjakan. Biyah harus bisa membagi waktunya ketika di rumah, antara membantu orang tua dan tugas-tugasnya. Kalau di tempat kos mah bebas, Biyah bisa ngerjain tugas tanpa ada gangguan. Tapi di rumah, itu tidak bisa dilakukan. Biyah sadar bahwa orang tuanya membanting tulang setiap hari tidak lain juga untuk biaya kuliahnya. Biaya kuliah harus wajib dibayarkan oleh Biyah untuk menatap asa di depan.  Keringat dan doa dari kami semoga menjjadi semangat anak-anak petani mencapai mimpi.
Semangat untuk mengerjakan tugasnya yang menumpuk sudah di puncak kepala. Memikirkan tugasnya yang belum kelar sudah membuat mumet kepala Biyah, belum lagi jika ditambah tugas kimia dan fisika dari adiknya. Biyah sepertinya butuh angin segar untuk menjernihkan kepalanya. Tapi itu tidak mungkin, ia harus banyak-banyak bersabar. Biyah segera saja mengerjakan tugasnya agar cepat selesai. Setelah itu baru beralih ke kimia dan fisika. Benar-benar melelahkan jiwa raga.
Tak butuh waktu lama untuk mengerjakan tugasnya. Ia hanya butuh waktu 35 menit untuk menyelesaikan dua tugas, ya baru dua yang dikerjakan. Karena kalau semua tugas dikerjakan bisa-bisa sampai maghrib baru kelar.

Lepas dari itu, Biyah segera bangkit dan mengambil jiligen lalu pergi ke kali. Ia bertugas mengisi jiligen, sedangkan nanti ibunya yang mengambil. Biyah segera berangkat, menapaki jalan berbukit untuk menuju ke kali. Beruntung saat itu Biyah bareng dengan budenya, dan akhirnya mereka berangkat bersama ke kali.

Harapan Biyah saat itu adalah agar ia mendapat air untuk dibawa pulang. Namun harapan itu pudar setelah ia sampai di kali. Lagi-lagi ia dibuat kesal dan kecewa. Airnya habis sementara banyak orang yang masih mengantri. Mungkin jika dibandingkan, air dengan warga yang mengatri 1 : 1000. Suasana seperti itulah yang akhirnya banyak dimanfaatkan warga untuk mengobrol, berbagi cerita, dan melepas lelah sambil guyonan.

Biyah pun ikut ngerumpi bareng emak-emak. Kalau perempuan ngobrol sama perempuan ujung-ujungnya pasti nggosip, pada ngomongin berita yang lagi anget-angetnya. Di saat lagi enak-enaknya nggosip, tiba-tiba Arum teriak,
" woy,...siapa nih yang naruh tanah di air gue?" Sambil menunjuk air di ember yang kecoklatan.
" ya nggak tau lah, emang nggak ada kerjaan lain apa selain masukin tanah ke air?
 " Nggak ada gunanya juga kali."sahut Riski
Semua mata pun tertuju ke arah mereka. Tiba-tiba Arum menoleh ke arah emak-emak,
"Jangan-jangan salah satu dari kalian ya yang masukin tanah ke emberku?" Sindir Arum
" Enak wae kamu nuduh kita, kaya nggak ada kerjaan aja,"bantah salah satu teman Biyah.
" halah...nggak usah ngeles deh. Kalian pasti iri kan karena belum dapat air.
  "Dasar munafik,"ejek Arum.
Biyah yang tak tahan dengan tuduhan Arum pun segera angkat bicara.
" eh...Arum. jaga bicaramu. Kamu tuh datang langsung marah-marah, main nuduh orang tanpa bukti, itu namanya suuzon".
" hhh..dasar. Biyah, nggak usah sok alim deh lo, gitu aja langsung tersinggung. Ohhh...atau jangan-jangan kamu yang masukin tanah ke airku?iya?"bentak Arum
Biyah pun semakin panas.
" eh...Arum, jaga bicaramu ya. Aku nggak mungkin ngelakuin hal kaya gitu. Lagian nggak ada juga untungnya buat aku. Kamu tuh nggak usah main nuduh tanpa bukti,"tegas Biyah
Ketegangan semakin memuncak, Arum dan Biyah akhirnya bertengkar. Biyah yang biasanya alim dan lembut kini berubah menjadi singa. Pertempuran tak dapat terelakkan, mereka saling menjambak dan dibarengi dengan adu mulut.
Melihat kejadian itu, warga berusaha untuk memisahkan pertempuran sengit mereka. Namun sepertinya mereka tidak mau dipisahkan. Mereka terus saja adu mulut. Wajah mereka sudah memerah, baju acak-acakan , apalagi rambut koyo wong edan. Warga bingung harus bagaimana. Akhirnya Bang Azis mencari pak RT untuk memisahkan pertarungan sengit tersebut.

000000000000----0000000000000
Pak RT sedang membersihkan selokan di rumahnya. Musim kemarau adalah saat yang tepat untuk bersih-bersih, apalagi selokan. Berbekal cangkul dan cikrak, pak RT sibuk bersih-bersih sejak pagi tadi. Sambil mendengarkan lagu tayub, pak RT bersih-bersih sambil ikut bernyanyi ria. Di saat sedang asyik-asyiknya bernyanyi, tiba-tiba Bang Azis datang sambil teriak-teriak,
"Pak RT, pak...,"teriak Bang Azis sambil ngos-ngosan.
"Ada apa, Zis. Kamu ngagetin saja,"sambung pak RT
"Anu pak...."
"Apa, coba bicara yang jelas,"kata pak RT
"Itu, di kali. Biyah sama Arum bertengkar, pak"
"Hah...kok bisa?"tanya pak RT
"Iya pak, gara-gara air."
"Astaghfirullah...ayo kita ke sana,"ajak pak RT
"Mari pak"
Pak RT dan Bang Azis segera menuju ke kali. Mereka khawatir kalau sampai ada yang terluka. Akhirnya mereka pun setengah berlari agar cepat sampai.
000000000---000000000
Adu mulut di antara Biyah dan Arum pun semakin tak terkendali. Kata-kata pedas dari mulut Arum pun kini terdengar. Biyah semakin tidak tahan mendengarnya. Lama-kelamaan, energi mereka rupanya sudah mulai berkurang. Dan pada saat itulah, Arum yang lebih tinggi dan kuat dari Biyah pun menjegal kaki Biyah. Biyah terjatuh, dan tak sengaja tangannya terkilir. Biyah merintih kesakitan,
"Aduh....sakit,"rintih Biyah
Mungkin karena rasa sakitnya begitu terasa, embun dari kedua kelopak bening itu akhirnya menetes.
"Halah....gitu aja nangis  dasar cengeng,"ejek Arum
Warga segera membantu Biyah dan berusaha untuk menyelesaikan pertengkaran itu.
"Heh...Arum. Kamu tuh apa-apaan sih? Ini tangan Biyah terkilir, kamu tuh tega banget sih,"sahut Arin.
"Hhh...biarin aja. Toh yang terkilir bukan aku. Biar tau rasa. Makanya jangan berani-berani lawan gue,"ejek Arum
Arin tak mau meladeni Arum, ia segera membantu Biyah. Arin tak tega melihat sahabatnya itu terluka. Warga yang menyaksikan kejadian itu hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Arum yang setega itu. Tak lama kemudian, pak RT dan Bang Azis datang.
"Astaghfirullah...kalian ini apa-apaan sih?masa udah gede masih aja ribut,"tegur pak RT.
Arum pun dengan ketus menjawab,
"Itu tuh, pak. Biyah masukin tanah ke airku, kan kotor."
"Nggak, pak. Biyah ndak masukin tanah ke airnya Arum. Biyah ndak tahu apa-apa masa dituduh gitu aja," bela Biyah tak mau kalah.
"Memangnya kamu punya bukti, Rum?"tanya pak RT.
Arum diam seribu bahasa.
"Rum, kalau kamu ndak punya bukti jangan asal menuduh orang, itu dosa. Tuh lihat tangan Biyah sampai terkilir. Kalian itu sudah sama-sama besar mbok ya bersikap dewasa, jangan seperti anak-anak gini," nasihat pak RT.
"Sudah-sudah, semua pada bubar" lanjut pak RT.
Warga yang tadinya masih memperhatikan akhirnya satu-persatu pulang. Walaupun ada beberapa warga yang belum mengambil air, mereka terpaksa harus pulang dulu sampai keadaannya normal kembali.
Arum yang dari tadi tak bersuara masih saja mematung di tempatnya. Sebenarnya ia juga tak tega melihat Biyah jadi terluka karenanya.
Beberapa saat kemudian, hanya tinggal Biyah, Arin, Arum, pak RT, dan Bang Azis di kali. Warga sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Semua masih terdiam dan hanya terdengar lirih rintihan Biyah yang menahan nyeri di tangannya. Wajah Biyah juga terlihat pucat karena merasakan sakit di tangannya. Melihat wajah Biyah yang semakin pucat dan karena tidak suka dengan suasana yang kaku ini, Bang Azis pun angkat suara,
"Biyah, sebaiknya kita segera pulang. Dan tanganmu itu harus segera diurut," kata Bang Azis yang sedari tadi mengkhawatirkan sepupunya itu. Bang Azis dan Biyah masih bersaudara.
Arin setuju dengan Bang Azis,
"Betul Biyah, sebaiknya tanganmu harus segera diurutkan  kalau terlambat bisa bahaya,"nasihat Arin.
Biyah yang dari tadi diam hanya bisa mengangguk pasrah. Ia takut bagaimana kalau ayah dan ibunya tahu, mereka pasti akan marah. Belum lagi kalau tangannya parah. Ahhh...Biyah mencemaskan hal tersebut.
"Arum, kamu sebaiknya minta maaf sama Biyah. Kita itu bersaudara, jadi sudah sepantasnya kita bisa saling memaafkan,"begitu nasihat pak RT.
"Kok cuma aku? Biyah kan juga salah," sahut Arum tak terima
"Tapi kan kamu dulu yang mulai,"kata Arin membela Biyah
"Sydah...sudah, kalian jangan ribut terus. Biyah, kamu juga harus minta maaf sama Arum ya," pinta pak RT
"Iya, pak," sahut Biyah lirih.
Biyah dan Arum saling berjabat tangan meminta maaf dan mereka berpelukan. Pak RT, Bang Azis, dan Arin senang melihat dua orang itu sudah meminta maaf. Namun, raut wajah Arum masih seperti tidak ikhlas saat meminta maaf. Hal tersebut diperhatikan Arin. Mata elang Arin bisa menangkap ekspresi Arum yang tidak disadari oleh yang lain. Tidak lama kemudian Arum pamit pulang dulu.
Dalam perjalanan pulang, Arum masih menggerutu dan rasanya nggak ikhlas banget buat minta maaf sama Biyah. Dia juga merasa sudah dipermalukan di depan warga. Arum pulang tergesa-gesa dengan hati yang masih panas.
0000000000------000000000000
Pak RT mengajak Biyah, Arin, dan Bang Aziz untuk segera pulang. Pak RT menyuruh Bang Azis untuk menemani Biyah dan Arin pulang. Pak RT tidak bisa menemani mereka karena mau mampir dulu ke rumah Pak Somad, ada urusan yang harus dibicarakan. Bang Azis pun mengiyakan, ia tak tega melihat sepupunya itu merintih kesakitan.
Dalam perjalanan pulang tidak ada pembicaraan sama sekali. Sesekali Arin menanyakan tangan Biyah, apa sudah mendingan atau malah bertambah sakit. Bang Azis yang melihat kecemasan di wajah sepupunya itu segera berbicara,
"Biyah, kamu nggak usah takut. Nanti kalau pakde dan bude nanya nanti bakal aku jelasin yang sebenarnya terjadi. Nanti Arin  juga bantu ya"
"Ok, siap bang. Biyah kamu tenang aja, orang tuamu gak akan marah kok. Kalau kita nggak salah nggak usah takut," ucap Arin pada Biyah.
Biyah yang mendengar hal tersebut merasa agak lega. Kecemasan yang tergambar di wajahnya kini sudah mulai hilang.
Sesampainya di rumah Biyah, ayah dan ibunya langsung menginterogasi anaknya. Apalagi setelah melihat pergelangan tangan Biyah membengkak. Biyah hanya bisa minta maaf. Lalu Bang Aziz pun menjelaskan dengan detail apa yang sudah terjadi sampai Biyah seperti itu. Biyah merasa kesal dan tidak terima setelah dibilang munafik, dan Biyah hanya membela diri. Arin juga menambahkan kalau Arum itu emang orangnya suka ngeyel dan maunya menang sendiri. Masa main nuduh aja tanpa bukti, kan bikin kesal.
Orang tua Biyah mulai paham apa yang terjadi. Mereka mempersilakan Arin dan juga keponakannya untuk masuk terlebih dahulu, tapi mereka menolak karena sudah sore dan harus segera pulang. Orang tua Biyah mengucapkan terimakasih pada Bang Azis dan Arin karena telah mengantar Biyah. Setelah Bang Azis dan Arin pulang, Biyah segera masuk ke dalam rumah.
Malam harinya Biyah akan dibawa ke tukang urut untuk memijat tangannya. Tukang urut yang biasa memijit orang yang terkilir adalah Mbah Pon, rumahnya berada di desa sebelah. Setelah 15 menit perjalanan, Biyah dan kedua orang tuanya sampai di rumah Mbah Pon.

Di sana, tangan Biyah segera diurut. Biyah terlihat cengar-cengir karena menahan sakit akibat diurut. Sekitar 10 menit berlalu, Biyah selesai diurut. Kemudian tangannya dibalut dengan kain. Setelah selesai, Biyah dan orang tuanya segera pulang, tak lupa ibu memberikan tanda ucapan terima kasih pada Mbah Pon.
00000000000----0000000000
Sudah tiga hari Biyah berada di rumah. Ia belum diizinkan sekolah sebelum tangannya benar-benar pulih. Ia benar-benar bosan di rumah. Ia bingung harus melakukan apa untuk mengusir kebosanannya. Biyah kemudian menghubungi Arin agar menemaninya di rumah. Arin segera datang ke rumah Biyah untuk menemani sahabat tercintanya itu. Tidak butuh waktu lama bagi Arin untuk sampai di rumah Biyah, karena jarak rumah mereka yang lumayan dekat.
"Rin, kita mau ngapain nih? Aku bosan di rumah terus," tanya Biyah
"Gimana kalau kita nonton drakor aja, kan seru," saran Arin
"Hhmm...oke tuh. Let's go" ajak Biyah
Memang dasarnya anak perempuan, kalau nonton drakor suka lupa waktu dan tentu saja nggak bisa ngalihin pandangannya. Kali ini mereka nonton DOTS yang ada Song Jong Ki dan Song Hye Kyo nya, serasi banget. Dari pagi sampai sore mereka masih berada di depan laptop, melototin drakornya. Sekitar pukul 4 sore, Arin pamit karena takut dicariin ibunya. Dia juga harus membantu ibunya. Masa anak gadis pergi seharian. Setelah Arin pulang, tak lama terdengar suara ketukan pintu,
Tok..tok..tok, "assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Biyah
Biyah membuka pintu dan alangkah terkejutnya Biyah melihat siapa yang datang, Arum. Biyah mempersilakan Arum masuk.
"Arum...ayo masuk, Rum,"
"Iya, Biyah. Biyah, aku ke sini mau minta maaf sama kamu karena kemarin udah nuduh kamu, terus tanganmu jadi terluka. Apa tanganmu sudah sembuh?"tanya Arum
"Iya, Rum. Nggak apa-apa kok. Tanganku sudah mendingan. Aku juga minta maaf sama kamu ya," sahut Biyah
"Iya, kamu nggak salah kok. Juatru aku yang sudah nuduh kamu sembarangan, aku nggak bersikap dewasa. Aku janji nggak akan bersikap kaya gitu lagi."
"Iya, sama-sama," balas Biyah
Mereka pun saling berpelukan. Setelah itu mereka ngobrol panjang lebar. Arum kemudian langsung cerita, bahwa yang menaruh tanah di airnya adalah anak-anak kecil yang sedang bermain. Mendengar itu, Biyah pun tertawa. Ternyata gara-gara anak kecil mereka jadi bertengkar.
Sekitar pukul 5 sore, Arum pamit pulang. Ia takut dicari orang tuanya, karrna tadi dia cuma bilang mau pergi sebentar. Biyah mengantar Arum sampai depan rumah dan mereka saling melambaikan tangan.
#...#
2 hari kemudian, tangan Biyah sudah mendingan dan sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Biyah sudah bisa mengambil air ke kali. Dan terkadang Biyah bertemu dengan Arum. Arum sering membantu Biyah untuk mengambil air. Warga yang melihat Biyah dan Arum sudah berbaikan juga merasa senang.
Keesokan harinya, Biyah bersiap-siap mengemasi barang-barangnya karena besok ia harus balik ke kos. Adik Biyah juga membantu kakaknya mengemasi barang. Lalu adiknya bertanya,
"Kak, besok kan kakak sudah balik ke kos. Nah, gimana kalau nanti sore kita jalan-jalan, biar otak kakak seger lagi, nggak serius aja," gurau adiknya
"Hhh...memangnya kakak stress. Hmm....tapi boleh juga kalo jalan-jalan. Tapi kita mau kemana?"tanya Biyah pada adiknya
"Mmm...gimana kalau kita ke pantai, bisa lihat sunset nanti"
"Ok..boleh juga. Kakak juga udah lama gak ke pantai. Nanti kamu yang bonceng kakak ya"
"Ok, siap komandan," sahut adiknya
Biyah dan adiknya melanjutkan beres-beres. Sore harinya mereka pergi ke pantai setelah minta izin sama bapak dan ibu. Sesampainya di pantai, Biyah langsung ngibrit lari ke arah pasir, adiknya mengikuti dari belakang. Sudah lama sekali Biyah tidak menginjakkan kakinya di pantai. Merasakan angin lembut yang menerpa wajah secara perlahan dapat melupakan sejenak masalah-masalah yang sudah terjadi.

Deburan ombak yang mengenai kakinya serasa mengajak Biyah bermain sejenak. Biyah menghirup udara pantai dalam-dalam, lalu merasakannya masuk ke sel-sel di tubuhnya. Menyegarkan otaknya yang tegang agar kembali tenang setelah melewati hari-hari yang panjang dan melelahkan. Melupakan sejenak akan tugas-tugas yang masih menumpuk.  Namun dalam pikirannya semoga kelak Biyah tetap Biyah yang dulu dengan keluguannya dan kepolosannya.  Namun Biyah akan selalu membela kebenaran apapun resikonya.  Biyah percaya bahwa kebenaran akan selalu berpihak pada dirinya jika selalu ingat kepada Allah SWT dan selalu menjaga hubungan dengan sesama.  Tidak ada ambisi dalam pribadi.
 Menyaksikan sang raja siang yang mulai menyembunyikan dirinya terasa menyenangkan dan menenteramkan jiwa. Sudah lama sekali gadis itu tidak merasakan hawa pantai atau untuk pergi keluar sebentar. Gadis yang selalu disibukkan dengan aktivitas-aktivitas di kampus, membantu orang tuanya, dan selalu berkutat dengan tugas-tugasnya, akhirnya biaa merasakan kebebasan. Rasanya seperti baru melihat dunia luar.
Begitulah Biyah, gadis mungil bermata bening yang terkadang harus membebaskan jiwanya agar tidak terkungkung dengan segala aktivitas dan tugas-tugas yang ada. Kini gadis itu sedang duduk di atas pasir dan menikmati langit yang berubah warnanya menjadi jingga, menenteramkan setiap jiwa yang menyaksikan keindahan ciptaan-Nya. Semoga menjadi manusia tanpa kemunafikan dibungkus dengan kain sutra dengan wangi bunga melati.  Hidup hanya sekali hilangkan penyakit dalam hati.  (redaksi/Noni Agus Tina).

Publisher: Prabangkaranews Media Group

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer