Pesan Dalam Puisi "Membaca Tanda-Tanda" Karya Taufik Ismail



Membaca Tanda-Tanda

Karya : Taufik Ismail

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
 tapi kini kita mulai merasakannya

Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam didesak karbondioksida itu menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Biskah kita membaca tanda-tanda?

Allah

Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
 Kami telah dihujani abu dan batu

Allah

Ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
 akan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kami mulai merindukanya


Taufik Ismail merupakan seorang penyair dan sastrawan asal Indonesia bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah. Karya-karyanya sangat luar biasa dan banyak mendapatkan penghargaan, karena setiap baitnya mempunyai makna yang dalam dan banyak karyanya yang memberikan motivasi bagi generasi muda untuk selalu memperjuangkan kehidupan berbangsa untuk memajukan bangsa ini menjadi lebih baik.



Salah satu puisi karya Taufik Ismail adalah “Membaca tanda-tanda”. Puisi yang berjudul “Membaca tanda-tanda” karya Taufik Ismail ini termasuk dalam karya sastra angkatan 1966-1970. Angkatan ini muncul ditengah-tengah keadaan politik bangsa Indonesia yang sedang kacau yang berakibat kacau juga dalam bidang kesenian dan kesusastraan.

Karya sastra pada periode ini ditandai dengan karakteristik umum seperti, puisinya menggambarkan kemuraman (batin) hidup yang menderita, mulai dikenal gaya epik (bercerita) pada puisi (muncul puisipuisi balada), mencintai nusa, bangsa, dan persatuan. Tema yang diangkat dalam puisi ini adalah tentang Alam. Puisi “Membaca tandatanda” memiliki makna bahwa Taufik Ismail selaku penciptanya mengajak pembaca untuk dapat membaca gejala-gejala alam yang terjadi di sekitar kita.

Pembaca diajak untuk peka terhadap perubahan alam yang semakin lama semakin memprihatinkan keadannya. Alam yang dulunya asri, indah dan nyaman, kini terusik dengan kerusakan akibat tangan-tangan manusia yang banyak merusak lingkungan.

Taufik dalam puisi ini mencurahkan perasaannya yang merindukan lingkungan yang alami dan murni. Ia sangat menyesalkan apa yang terjadi saat ini. Sudah banyak gejala alam yang memperingatkan manusia untuk sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.

Namun dengan banyaknya gejala alam ini Taufik masih mempertanyakan apakah kita (manusia) bisa membaca gejala-gejala perubahan pada alam. Amanat yang terkandung dalam puisi “Membaca tanda-tanda” yaitu; kita sebagai generasi muda harus tetap menjaga dan melestarikan alam, karena kita masih membutuhkan itu semua dan jangan pernah merusak nikmat apa yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, karena dengan hal sekecil apapun sebelum semua menjadi penyesalan.

Tanda-tanda yang ada di sekitar kita membutuhkan kepekaan kita dengan selalu evaluasi diri kita sebagai insan manusia. Semoga amanat dalam puisi Taufik Ismail menjadi bahan evaluasi diri untuk lebih baik lagi dan bermanfaat.

Penulis: ANGGI ERIA RAHAYU Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer