Pesan Mendalam dalam Puisi Rumahku Karya Chairil Anwar


RUMAHKU
Chairil Anwar


Rumahku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dari luar sengaja nampak
Ku lari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah ku dirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah kemana
Rumahku dari unggun timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu


Rumahku merupakan sebuah karya sastra dalam bentuk puisi karya Chairil Anwar. Kehadiran penyair Chairil Anwar dengan karya-karya mendapat tanggapan pembaca yang luas di tanah air. Salah satu puisi karya Chairil Anwar berjudul Rumahku tersebut termasuk dalam karya sastra angkatan 45.



Berikut adalah karakteristik dari karya sastra angkatan 45:

  1. Puisi bebas, tidak terikat pembagian bait, jumlah baris, dan persajakan (rima).
  2. Pilihan kata atau diksi mempergunakan kosakata bahasa sehari-hari.
  3. Menggunakan kata-kata, frasa, dan kalimat-kalimat ambigu sehingga bermakna ganda dan banyak tafsir.
  4. Mengekspresikan kehidupan batin atau kejiwaan manusia melalui peneropongan batin sendiri.
 Isi dari puisi “Rumahku” yaitu penyair menganggap bahwa rumah itu seperti api unggun yang dibuat dari kayu dan ranting untuk menguisr dinginnya malam. Api unggun yang hanya bersifat sementara memiliki usia yang singkat. Hadirnya api unggun cukup mengusir dinginnya malam, sebelum berharap pagi datang dengan cahaya mentari.

Seperti itulah makna dari sebuah sajak, petuah, cerita dan kata yang tidak akan bertahan lama serta tak dapat mengubah rupa diri dan dunia. Penyair mencoba menggambarkan pencarian suasana baru dan dunia baru diluar rumah, tetapi arah pun tak dapat ditemukan sampai bertemu pada titik kerentaan penyair menyadari makna hidup.

Dalam sajak “dipagi entah kemana” menggambarkan masa muda yang terlalu sibuk dengan kefanaan serta di isi dengan segala hal yang sia-sia. Ingin menghabiskan masa tua bersama keluarga karena dimasa muda penyair menggambarkan bahwa dirinya mencoba berlari dari kehidupan keluarga yang begitu berarti, namun usia sudah menjemput diri semakin tua renta.

Rumah tempat kita menenangkan diri, untuk membangkitkan motivasi baru berkaitan dengan kehidupan.  Bersenda gurau dengan keluarga anak, istri, ataupun cucu untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan.  Apalagi jika usia semakin menua rumah tempat kita berteduh dan beribadah untuk mencapai suatu kebahagian dalam kehidupan.   

Amanat yang terkandung dalam puisi “Rumahku” yaitu:  sejauh mana kita pergi dari rumah, jangan sampai lupakan tempat tinggal kita;  jika kamu tidak menemukan kebahagiaan di luar rumah, maka pulanglah ke rumah sehingga kamu akan mendapatkan kenyamanan, ketentraman dan ketenangan dalam hidup. 

Penulis:
Uun Atnisya Pramadani Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Pacitan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.