ANALISIS KRITIS ARTIKEL; WATU SEMAR SEBUAH REFLEKSI PEMIKIRAN DAN BUDAYA LOKAL MASYARAKAT SAMBONGREJO, BOJONEGORO

ANALISIS KRITIS

Oleh: Agoes Hendriyanto


Untuk judul seharusnya dituliskan “Mitos Watu Semar: Sebuah Refleksi Pemikiran dan Budaya Lokal masyarakat Sambongrejo Bojonegoro.  Seharusnya mitos dijelaskan terlebih dahulu dengan buku yang relefan.  Subyek matter kurang jelas, jika yang dijadikan subyek matternya Watu Semar sangat luas, bisa mitosnya, bisa tempat, dan persepsi lainnya.  Sehingga pembatasan ini akan lebih memfokuskan sebuah penelitian sehingga hasil dan simpulan akan mendekati kebenaran.  Artikel tersebut langsung pada Watu Semarnya. 

Sehingga yang ditulis atau dikaji meluas seperti budaya gembrekan yang dikaitkan dengan Watu Semar. Jika berbicara masalah mitos seharusnya yang dikaji yang berkaitan dengan mitos Batu Semar, keskaralan misalnya dikasih dupa, adanya rutinitas sesaji disekitar Watu Semar.  Hal ini merujuk pada Edward B. Tylor (1832-1917) bahwa mitos tidak boleh ditafsirkan sebagai kesalahpahaman, tetapi sebagai upaya filosofis yang disengaja. untuk menjelaskan dan memahami dunia. Meskipun Tylor mengakui bahwa hasil upaya mitologis pada penjelasan itu jelas salah, mitos masih tidak dapat diabaikan "sebagai kesalahan dan kebodohan belaka." Sebaliknya, itu harus dipelajari "sebagai produk yang menarik dari pikiran manusia" untuk wawasan tentang apa yang Tylor dan orang lain lihat sebagai cara berpikir "primitif".  Tylor memunculkan pandangan evolusi perkembangan sosial manusia dari "orang biadab" seperti anak kecil ke "beradab". "Manusia," dalam jalannya beberapa penjelasan primitif bertahan sebagai "bertahan" dalam adat-istiadat agama modern tertentu (Catherine Bell, 1997: 4)

Pendekatan terhadap mitos ini terkait dengan apa yang dilihat Tylor sebagai perannya dalam asal-usul agama. Agama, katanya, berawal dari pengalaman melihat orang mati dalam mimpi. Orang-orang "primitif" menjelaskan pengalaman-pengalaman ini melalui teori jiwa dan roh, pada dasarnya, mendalilkan bahwa bagian dari orang yang meninggal terus hidup dalam beberapa cara setelah kerusakan tubuh. Mereka juga menjadi percaya bahwa kekuatan spiritual atau animistik yang sama menghuni hal-hal yang tidak manusiawi seperti binatang dan tumbuhan (Catherine Bell, 1997: 4)

Mitos bukan hasil pemikiran masyarakat namun lebih pada kepercayaan semasyarakat Sumberejo terhadap keberadaan Watu Semar. Apalagi dikaitkan dengan cerita Mahabarata yaitu Seemar sebagai abdi yang merupakan hasil dari cipta rasa manusia berupa cerita Mahabarata.  Jika dihubungkan dengan salah satu Desa sebenarnya secara logika tidak ada titik temu dengan tempat  Semar dalam cerita Mahabarata dengan Semar yang terletak di wilayah Bojonegoro. 

Pada Judul selanjutnya probematika atau predikatnya   “Sebuah Refleksi Pemikiran Dan Budaya Lokal”.  Pertanyaannya budaya local masyarakat yang mana padahal Semar tokoh dalam cerita mahabarata, yang dihasilkan oleh manusia yang bukan orang Sumberejo.  Oleh sebab itu perlu sekali memperhatikan subyek matter sehingga untuk kajian selanjutnya tidak lari kemana-mana.  Sehingga sebuah keilmuwan harus bisa dibuktikan kebenrannya. Sehingga  tidak tepat bahwa artikel ini sebuah mitos Watu Semar bertujuan untuk mengetahui pemikiran dan budaya lokal masyarakat. 

Selain itu juga untuk mendapatkan data berdasarkan  wawancara hanya satu orang yaitu Bapak Eko sebagai kepala Desa.  Sehingga pembahasannya hanya berdasarkan penjelasan dari Bapak Eko. Ini perlu dipertanyakan validitas data.  Selain itu hanya  studi lapangan dengan wawancara mendalam yang dipadukan dengan teori Kritik Sastra Lisan dari Alan Dundes. Padahal mitos bukan termasuk karya sastra lisan disebabkan objek watu semar tersebut berbentuk batu yang menyerupai sosok Semar dalam cerita Mahabarata.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos Watu Semar yang dipercaya memiliki hubungan kuat dengan sosok Punakawan Semar dilanggengkan melalui pewarisan secara turun-temurun sebagai budaya kepercayaan khas masyarakat Sambongrejo.  Mitos watu Semar yang dihubungkan dengan Semar dalam cerita Mahabarata sebenarnya sudah salah kalau kita hubungkan dengan makna dari mitos tersebut.  Kata budaya kepercayaan pemakaian kalimat di atas tidak tepat. Seharusnya ada silsilas turun-temurun yang bisa dijadikan validitas yaitu menggunakan triangulasi sumber.

Alan Dundes dalam The Meaning of  Folklore: The Analytical Essays of Alan Dundes (Bronner, 2007) mengatakan bahwa mitos (termasuk di dalamnya foklor terujar/speaking folklore) sangat berkaitan dengan way of life atau cara hidup dan keseharian masyarakat di mana foklor tersebut berkembang.

Menurut Dundes, foklor merupakan sebuah etnografi yang bersifat autobiografi, yakni deskripsi masyarakat akan diri mereka sendiri. Dengan menganalisis kumpulan-kumpulan foklor, seseorang dapat melihat budaya orang lain dari dalam keluar, bukan dari luar ke dalam.  Menjadi fatal bahwa yang dipergunakan untuk buku acuan bukan buku Induk.  Sebagai sebuah sastra lisan yang tidak tertulis, cerita yang menjadi mitos msayarakat Sumbererjo karena tuturan maka akan terjadi peruabahan makna karena konteks setiap generasi berbeda.  Sehingga cerita yang ada sekarang ini tidak bisa dipastikan masih asli.  Hal ini tidak ada sebuah ukuran sehingga untuk dijadikan sebagai refleksi pemikiran masyarakat Sumberejo masih perlu ada kajian lebih lanjut.  Oleh sebab itu simpulan bahwa foklor dalam studi ini berupa mitos Watu Semar menjadi cerminan hidup atauway of life dari pemiliknya.

Mitos Watu Semar, bukan merupakan perwujudan pemikiran masyarakat Sumberejo,  dari generasi ke generasi yang menganggap bahwa batu Semar mempunyai kekuatan.  memiliki arti yang signifikan sebagai dulur, saudara kandung mereka sendiri, dan bernilai historis, sehingga begitu dihormati. Watu Semar berperan sebagai simbol kepercayaan lokal serta bentuk ekspresi budaya (uri-uri budoyo) masyarakat Desa Sambongrejo. Kajian ini sangat perlu dipertanyakan disebabkan metodeloginya juga perlu dipertanyakan dan yang paling fatal yaitu narasumbernya hanya Bapak Kepala Desa, unsur subyektifitas sangat tinggi. Untuk narasumber seharusnya tidak Cuma satu, selain itu juga harus ada sebuah tulisan ataupun bentuk lainnya yang bisa memperkuat argumentasi peneliti. Sehingga boleh saya katakana bahwa penelitian ini hanya mitos. 

Oleh karena itu, bagi masyarakat Sambongrejo, keberadaan Watu Semar memiliki pengaruh yang sangat besar dan subtansial. Simpulan ini seharusnya tidak mengatasnakan warga masyarakat apalagi berkaitan dengan budaya lokal.  Persoalan selama ini di Indonesia jika akan mengkaji khususnya budaya kurangnya bukti otentik yang menyebabkan kita sulit untuk menyimpulkan secara spesifik.  

Kemudian peneliti harus berpartisipasi aktif  atau menjadi bagian dari masyarakarat Sumberejo dan lama di lokasi penelitian.  Peneliti menjadi warga masyarakat Sumberejo sehingga setiap apa yang dimjumpai akan ditulis.  Jika hanya beberapa hari simpulan artikel ini perlu dipertanyakan. 

Penelitian Budaya sangat rawan jika dalam simpulannya tidak mencerminkan kondisi realitas di tengah masyarakat. 

Referensi

 Milawati. (2019). Watu Semar; Sebuah Refleksi Pemikiran dan Budaya Lokal Masyarakat          Sambongrejo. Bojonegoro. Jurnalmasyarakat dan Budaya, Vol. 21 No. 3 (2019). 

Catherine Bell. (1997). Ritual Perspectives And Dimensions. Oxford University Press, Inc., Publishes Works That Further Oxford University’s Objective Of Excellence In Research, Scholarship, And Education.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.