KERIS SURAKARTA

KERIS SURAKARTA

Oleh: Widodo Aribowo

Perkerisan mengenal istilah pasikutan dan guwaya. Pasikutan artinya penilaian keris berdasarkan kesan karakter bilah keris. Sedangkan guwaya secara leksikal artinya cahyaning praen (rona muka). Maka dalam penilaian perwajahan dan karakterini keris Surakarta dikenal memiliki karakter bagus dan nggenthileng. Bagus artinya: 1) rupa kang becik tumrap wong lanang; 2) sesebutane bocah (wong) lanang sing rada dhuwur pangkate.

Dalam ilmu tangguh, keris Surakarta juga disebut keris nem-neman. Bagus artinya Mengapa bagus dan nggenthileng? Perkerisan Jawa melewatkan satu episode penting: masa PB III. Tidak ada satu pun buku sejarah perkerisan yang mengakui adanya karya empu keris di masa ini. Apakah benar begitu? Tidak! Sepertinya masyarakat Surakarta terpengaruh sejarawan,   yang biasanya berbicara karena pengaruh sentimen historis  yang mengatakan bahwa PB III adalah boneka Kumpeni.

Di tengah sangat tipisnya kekuasaan raja Mataram, perselisihan menuju perpecahan Mataram (palihan nagari 1755), dan kelangkaan bahan keris munculah keris Rapalan yang merupakan simbolisasi kisah Arjuna seperti tergambar dalam Arjunawiwaha.  Kakawin Arjunawiwaha sebagai momen kembali ke awal (tergambar dalam dhapur Kala Misani) bercermin pada peristiwa palihan nagari di masa raja Erlangga (Kerajaan Kahuripan).

Kakawin yang ditulis oleh Empu Kano tersebut lalu ditulis ulang oleh Sinuwun PB III menjadi Serat Wiwaha Jarwa. Pujangga Yasadipura muda tidak ketinggalan dengan menulis Serat Mintaraga. Keris Rapalan merupakan transformasi sekaligus visualisasi Arjunawiwaha dan tokoh Arjuna.

Selain Arjuna, tokoh yang divisualkan dalah Supraba dalam bentuk penampang ganja. Keris Surakarta berkarakter bagus seperti Raden Arjuna.  Sejatinya prajurit Jawa sangat andal dalam hal naik kuda, dan senjata utamanya adalah tombak dan keris.

Prajurit Jawa sangat payah dalam mengoperasikan meriam dan musket (senapan lantak), meskipun orang Jawa sangat mahir membuat meriam dan musket.

Konflik-konflik dengan keraton Jawa menyebabkan Kumpeni sejak tahun abad ke-17 mencegah masuknya besi, baja, mesiu, dan amunisi ke Jawa. Oleh sebab itu bahan-bahan pembuatan senjata sangat langka sampai akhir abad ke-18.

Sekitar tahun 1760-an PB III  dan pujangga Keraton Surakarta mulai melakukan riset untuk menemukan tambang besi di Jawa.  Beberapa tambang (Kebumen, Kulonprogo, dan Pegunungan Seribu) menyediakan biji besi dengan karakter dan tuah yang berbeda dari yang ada selama ini yaitu yang didapat dari Karimata dan Sulawesi Tengah.

Besi di Jawa berwarna hitam pekat dan berat. Namun bahan ini menjadi berkah tersendiri bagi perkerisan karena menghasilkan bilah keris yang hitam legam. Penemuan berikutnya dalah batu meteorit di daerah Prambanan yang akhirnya diangkut ke Keraton Surakarta pada 13 Februari 1784. Pamor yang dihasilkan sebagai bahan keris sangat cemerlang, sehingga saat digabungkan dengan besi Jawa yang hitam legam menghasilkan karakter nggenthileng. Secara leksikal nggenthileng artinya (mata) yang hitam legam dan bercahaya.

Prototipe berikutnya untuk keris Surakarta adalah keris Jalak Tilamsari (koleksi Bp. Maher Algadri), di mana keris ini memiliki semua ciri keris Surakarta awal dan menjadi semacam pedoman bagi keris-keris setelahnya baik Surakarta maupun Yogyakarta. 

Ciri utama lain keris Surakarta adalah adanya ricikan tungkakan (garis menanjak di sisi atas kepet ganja) dan garis greneng membentuk bokong Semar. Cara memandang Keris Surakarta yang memiliki greneng: setelah dihunus dengan arah hadap ke kiri (seperti biasa) kemudian dibalik sehingga menghadap ke kanan. Greneng membentuk huruf ‘sin’ aksara Arab.

Sumber:

Harsrinuksmo, Bambang. 2008. Ensiklopedi Keris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Haryoguritno, Haryono. 2006. Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar. Jakarta: PT. Indonesia Kebanggaanku.

Horne, E.C. 1974. Javanese-English Dictionary. New Haven & London Yale University Press.

Pratama, A. 2015. Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia Tulisan Terpilih dari

B. Schrieke Jilid 2 Penguasa dan Kerajaan Jawa Pada Masa Awal. Yogyakarta Ombak.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.