Kethek Ogleng Pacitan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2019

  

 
 Kethek Ogleng Pacitan
 
Oleh: Agoes Hendriyanto

Kethek Ogleng Asli Pacitan semakin menjadi topik pembicaraan baik di Pacitan maupun di kota sekitar Pacitan.   Setelah gebyar tanggal 14 Oktober 2018 masyarakat Pacitan mulai sadar terhadap arti pentingnya Kethek Ogleng bagi pengembangan wisata budaya serta pemberdayaan masyarakat.   Seni kethek Ogleng jika ingin eksis harus terjalin semangat yang sama antara anak didik, orang tua wali, pelatih, pemerintah atau sekolah untuk satu tujuan yang sama mengembangkan seni Kethek Ogleng Pacitan. Unsur tersebut harus selalu dipenuhi agar pelaksanaan latihan dan pementasan berjalan dengan baik dan lancar. 

Sebagai contohnya tidak ada keluhan dari orang tua siswa yang mengatakan, setiap hari latihan terus-menerus apa nanti ada imbalan.  Tantangan materialisme menjadi kendala yang berarti jika tidak dilakukan pendekatan kepada orang tua siswa baik dari pihak sanggar “condro wanoro” maupun dari pihak sekolah.

Pemahaman terhadap pementasan Kethek Ogleng juga terjadi perbedaan yang mendalam baik dari pihak sanggar, pemerintah, masyarakat, maupun orang tua siswa. Bagi pihak sanggar sebagai pemerhati seni Kethek Ogleng harus selalu berpikir positif bagi perkembangan Seni Kethek Ogleng.  Oleh sebab itu kita juga perlu jiwa pantang menyerah agar perjuangan ini dapat mencapai tujuan yang kita inginkan bersama.

Jika generasi penerus melihat sisi historis dan nilai filosofis dari tari kethek Ogleng seharusnya mereka akan paham bagaimana perjuangan bapak Sutiman dalam menciptakan dan mengembangkan tari Kethek Ogleng. Terciptanya tari Kethek Ogleng tahun 1962 oleh  Sutiman yang saat itu masih berusia 18 tahun memerlukan sebuah perjuangan yang tidak mudah. Sambil istirahat selepas bekerja di ladang Bapak Sutiman melihat kawanan kera  liar bermain-main di antara pohon-pohon hutan.  

Niat Sutiman mulai terlihat saat melihat atraksi yang lucu dan menarik memotivasi untuk menirukan gerakan tersebut sebagai sebuah tari.  Perenungan Sutiman akhirnya memutuskan untuk melihat secara utuh gerak-gerik kera di kebun Binatang Sriwedari Surakarta tahun 1962 (Sutopo.B. dkk,  2018: 20).  Perjuangan Sutiman dalam menghasilkan sebuah karya cipta Tari kethek Ogleng peru kita lestarikan secara bersama-sama.  Sehingga warisan budaya tak benda tersebut dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Ide atau gagasan pemikiran Sukiman dalam tari kethek Ogleng diperlukan sebagai bahan bagi pelaku seni Kethek Ogleng dalam pelestarian dan pengembangan.  Jangan sampai tidak tersampaikan kepada pelaku seni sehingga hilang ciri khas tari Kethek Ogleng. Tari Kethek Ogleng harus senantiasa mempertahankan keasliannnya sebagai pusat studi dalam pengembangan tari Kethek Ogleng yang disesuaikan dengan era mileneal.

Sukiman atau Sutiman lahir pada tanggal 04 Mei 1945 di Dusun Banaran Desa Tokawi Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur.  Sutiman yang lahir awal kemerdekaan hanya lulus pendidikan Sekolah Rakyat (SR) atau yang sekarang setingkat SD.  Walaupun hanya lulusan Sekolah rakyat (SR) Sutiman mempergunakan  akal untuk memikirkan meniru gerakan kera.  Maksudin (2016: 34) mengemukakan bahwa berpikir adalah manusia, karena manusia yang tidak berpikir akan kehilangan eksistensi kemanusiannya dalam kehidupan ini.  Pikiran Sutiman / Sukiman meniru gerakan kera dijadikan tari yang dapat menghibur  masyarakat. 

Tokawi tahun 1962 dipimpin oleh  Daman Harjo Prawiro minta kepada Sukiman untuk mementaskan Kethek Ogleng dalam rangka kunjungan Bupati Tedjo Soemarto di Tokawi (Sukisno, 2018: 7). Sukiman mulai tertarik untuk menciptakan Tari Kethek Ogleng atau dalam bahasa Jawa disebut munyuk atau kera dengan kelincahannya mampu membuat Sutiman muncul ide membuat tari yang menyerupai gerakan akrobatik kera.  

Sutiman saat itu berusia 18 tahun  setelah melihat kera yang lucu di ladang saat mencari kayu.  Keberadaan kera saat di hutan dengan kelincahan dan gerakan akrobatik Sukiman merasa terhibur.  Sutiman akhirnya pulang ke rumah dan saat itu pikirannya terbayang oleh gerakan akrobatik kera yang sangat menghibur.  Timbul pikiran imajinasi untuk menciptakan tarian yang mirip dengan gerakan kera. Oleh sebab itu Sutiman disebut sebagai kreator Kethek ogleng Pacitan.  Kreator berdasarkan arti kata pencipta atau  pencetus gagasan diakses dari https://www.kbbi.web.id/kreator tanggal 16/12/2018.

Sukiman memilih hewan kera dengan pertimbangan perilaku mirip manusia dengan kelincahannya mampu untuk membuat orang lain tertawa dan terhibur.  Untuk mendapatkan model tariannya dengan tekad kuat tidak ada yang mendorong maupun yang mensponsori bertekad pergi ke Kebon Binatang Sriwedari Surakarta pada tahun 1962.  Berbekal tekad dan niat Sukiman berusia 18 tahun berjalan kaki sampai Baturetno untuk menanti Kereta Api Uap.   

Akhirnya Sukiman naik kereta api tersebut dari Baturetno sampai di Kebun Binatang Sriwedari untuk mengamati gerak-gerik kera.   Di kebun binatang Sriwedari Sukiman berhari-hari mengamati perilaku kera.  Kemudian Sukiman waktunya hanya dihabiskan untuk merenung di dekat kandang kera sambil terus menghayati perilaku kera baik disaat makan, bercanda, bercengkerama, berjalan, bergelantungan dan tingkah lainnya yang menurutnya sangat lucu dan menghibur. Pengalaman Sutiman dalam mengamati gerakan kera di kandang Kebon Binatang Sriwedari Surakarta yang diwujudkan dalam bentuk gerakan yang lucu, lincah, dan indah seperti perwujudan dari kera di alam bebas.  Kreatifitas Sutiman diuji dengan mewujudkannya menjadi sebuah gerakan  tari Kethek Ogleng Pacitan. 

Sutiman rela menghabiskan uangnya untuk pergi ke Kebun Binatang Sriwedari Surakarta dengan berjalan kaki sampai ke Wonogiri atau batu untuk meneruskan perjalanan ke Surakarta menggunakan kereta api dari Batu.  Tari kethek ogleng yang asalnya dari desa Tokawi Nawangan mempunyai nilai luhur masyarakat Pacitan.  Tari Kethek Ogleng yang berasal dari Desa Tokawi Kecamatan Nawangan,  dengan manusia yang menyerupai kera putih dengan kelincahannya memberikan semangat bagi generasi sekarang dalam menggapai cita-cita yang dilandasi dengan nilai gotong royong, toleransi, mengahargai pendapat orang lain, cinta pada lingkungan alam. 

Kethek Ogleng sebagai hasil cipta karsa Sutiman tahun 1962 perlu  upaya pelestarian dan pemajuan.  Upaya tersebut harus dilakukan oleh pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan yang tertuang dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Pacitan tahun 2018.   PPKD 2018 Kabupaten Pacitan  merekomendasi agar seni pertunjukan tidak punah sebagai berikut:  1) perlu wahana untuk pementasan berbagai seni tradisional yang ada di Pacitan, dan 2) penyediaan sarana dan prasarana untuk pelestarian seni tradisional .

 
 

Era mileneal dengan berbagai perkembangan dunia virtual dengan berbagai kemudahan untuk mengakses seni budaya luar yang lebih ngepop.  Tari modern dengan status sosial yang melekat bagi penari maupun penikmat seni.   Generasi muda mileneal  atau  dengan sebutan  “Kids Zaman Now” sedang menggandrungi segala hal yang berbau modern.  Budaya modern dengan tari modern  sedikit demi sedikit namun pasti akan membuat seni tradisional akan ditinggalkan oleh genarsi mileneal.  Hanya tinggal menunggu waktu saja seni tradisional tidak ada pelaku seninya.  Seni Kethek Ogleng jika tidk segera kita sesuaikan dengan kemajuan jaman akan  terancam kepunahan. 

Upaya pemerintah dalam rangka pemajuan dan pelestarian Seni Kethek Ogleng banyak mengalami kendala di lapangan.  Halini disebabkan masih terbatasnya sumber daya kebudayaan serta anggaran yang masih minim walaupun sudah diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 32, bahwa Pemerintah memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia yang dijelaskan lebih lanjut, bahwa usaha kebudayaan harys menuju ke arah kemajuan adab, budaya, persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asin yang dapat meperkebangkan atau emperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan Bangsa Indonesia. 

Walaupun demikian upaya pemerhati  Tari Kethek Ogleng Pacitan perkembangannya sangat masif jika dibandingkan sebelum tahun 2017.  Sejak diamanatkan dalam  Undang-Undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan kebudayaan, bahwa pemajuan kebudayaan diantaranya bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur, memperkaya keberagaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa melestarikan warisan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.   

Walaupun ditingkat Kabupaten Pacitan belum adanya peraturan daerah yang berkaitan dengan upaya pemajuan seni dan budaya namun Kethek Ogleng Pacitan mulai melakukan upaya pemajuan dan pelestarian.  Apalagi saat pandemi Covid-19 semua aktivitas  seni Kethek Ogleng yang merupakan seni pertunjukan vakum atau ditunda. Era new normal Kethek Ogleng bisa tampil dengan syarat  mematuhi protokol kesehatan dengan selalu menjaga jarak, cuci tangan, memakai masker, memakai faceshield dalam pertunjukan.  Pertunjukan dengan jumlah masa yang sedikit. 

 

Photo di atas diambil dilokasi kamar masa kecil dan remaja Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudoyono.  Kesederhanaan menghantarkan jadi Presiden RI yang ke-6 selama dua periode.  Mudah-mudahan Kethek Ogleng Pacitan bisa berkembang dan banyak insan seni tari yang peduli untuk mengembangkan Kethek Ogleng Pacitan.

Sebenarnya gerakan Kethek Ogleng harus disesuaikan dengan perkembangan jaman tanpa menghilangkan keasliannya.  Musik iringan perlu untuk dikreasi kembali.  Pandemi Covid-19 agnda tahunan festifal Kethek Ogleng yang telah rutin dilaksanakan untuk tahun 2020 tidak ada egenda Festifal Kethek Ogleng. 

Untuk mengembangkan Kethek Ogleng ke tiap-tiap wilayah memerlukan kerja keras agar terus lestari dan berkembang.  Hal ini tidak mudah disebabkan generasi mileneal sangat tertarik dengan teknologi informatika yang lebih menarik jika dibandingkan dengan Tari Kethek Ogleng.  Kethek Ogleng perlu sentuhan teknologi digital dengan digitalisasi Kethek Ogleng Pacitan.  Mari pelestari seni budaya Pacitan untuk terus bergerak dengan kreatifitas masing-masing. Semoga Seni karya asli Pacitan bisa dinikmati oleh generasi mendatang.  

Jangan sampai terjadi kepunahan sebuah karya seni tari, disebabkan  tidak adanya penerus dari kesenian tersebut.  Hal ini disebabkan oleh bebarapa faktor diantaranya; seni tari tersebut kuno, semakin sedikitnya manusia yang menekuni bidang seni dan budaya, kalah bersaing denan budaya modern.  Oleh sebab itu perlu adanya usaha baik pemerintah, swasta, sanggar, komunitas, lembaga Swadaya masyarakat untuk turut melestarikan Tari kethek Ogleng dengan berbagai upaya. 

Tantangan dalam upaya pelestarian kebudayaan khususnya kesenian tradisional tersebut semakin berat karena berkembangnya zaman serta adanya arus globalisasi pada masa sekarang ini. Perkembangan zaman serta adanya arus globalisasi ini mengakibatkan banyak perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pola kehidupan masyarakat, yang juga berpengaruh pada kebudayaan masyarakat itu sendiri.  

Mari kita bersama-sama untuk selalu menjaga dan melestarikan seni pertunjukan Kethek Ogleng Pacitan.  Sekolah, sanggar, kelompok yang ada di Pacitan mari untuk melestarikannya. Kethek Ogleng Pacitan milik Pacitan. Salam Budaya

 
 
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.