Alhamdulillah ! Tiga Warisan Budaya Pacitan Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2020

  

PEWARTA_NUSANTARA || PACITAN - Berdasarkan surat  Nomor : 1370 /F4/KB/2020, KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN  DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN, perihal Pemberitahuan Hasil Rapat Penilaian Tim Ahli ke-2 Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2020. 

Dengan hormat, menindaklanjuti hasil penilaian ke-2 Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda yang telah dilaksanakan tanggal 11 – 14 Agustus 2020 di Jakarta, bersama ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut: 

  1. Berdasarkan hasil rapat penilaian Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda ke-2 telah dihasilkan sebanyak 154 usulan Warian Budaya Takbenda Indonesia tahun 2020.
  2. Rapat penilaian tersebut telah menghasilkan beberapa keputusan diantaranya; a) dilanjutkan, sudah memenuhi kriteria dan dapat dilanjutkan ke Sidang Penetapan WBTb tahun 2020; b) ditangguhkan, belum memenuhi kriteria untuk ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda tahun 2020 dan dapat diusulkan kembali tahun berikutnya.
Direktur Perlindungan Kebudayaan di Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan 153 Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2020. 
 
"Kegiatan ini sudah berlangsung sejak 2013, dan pada tahun ini kami telah menetapkan 153 warisan budaya tak benda Indonesia melalui sidang penetapan warisan budaya tak benda Indonesia pada 6 hingga 9 Oktober 2020," ujar Direktur Perlindungan Kebudayaan Fitra Arda, yang disampaikan pada Virtual Zoom Meeting Sidang Penetapan Warisan Budaya Tak Benda, Jumat 9 Oktober 2020.

Penetapan warisan budaya tak benda dikatakan Fitra, bertujuan untuk melakukan perlindungan sekaligus mencatat budaya tersebut.Sepanjang 2013 hingga 2020, Kemendikbud telah menetapkan 1.239 karya budaya.

Sementara provinsi dan jumlah WBTB yang ditetapkan, untuk Prov. Aceh  sebanyak 3 karya budaya, Bengkulu (2), Jambi (2), Riau (11), Sumatra Selatan (2), Sumatra Utara (2), Sumatra Barat (8), Lampung (3), Banten (3), DKI Jakarta (1), Jawa Barat (11), DI Yogyakarta (14), Jawa Tengah (14), Jawa Timur (6), Bali (11), Nusa Tenggara Timur (1), Nusa Tenggara Barat (4), Kalimantan Barat (8) Kalimantan utara (5), Kalimantan Timur (2), Kalimantan Selatan (3), Sulawesi Tengah (3), Sulawesi Selatan 3, , Sulawesi Tenggara (1), Sulawesi Utara (1),  Gorontalo (1), Maluku utara (14) dan Papua (2).

Provinsi Jawa Timur meloloskan 6 usulan Warisan Budaya Tak Benda di Jawa Timur.  Kabupaten Pacitan meloloskan 3 yang akan lanjut dalam sidang penetapan WBTb Indonesia 2020.  Alhamdulillah kerja keras seluruh Tim  Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Drs. Daryono, M.M,  Kabid Kebudayaan Edi Sukarni, Tim peneliti  Socio Cultura Indonesia, Tim pendukung baik seniman, pelestari dan pengembang budaya di Pacitan, yang mulai bulan September 2019 mempersiapkan kajian, penelitian dan publikasi di jurnal nasional dan seminar nasional.

UPACARA ADAT BADUT SINAMPURNO 

Badut Sinampurna jenis upacara ruwatan yang ada di tengah masyarakat Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur yang telah berusia 10 generasi. Generasi ke sepuluh Ki Saidi dan Katmin yang mendapatkan warisan alat untuk upacara adat berupa Topi  Badut Sinampurno, warisan dari Mbah Jayaniman.   Jika kita hitung 1 generasi memegang warisan Topi Badut sekitar 15 tahun maka usia dari Topi Badut yang digunakan sebagai alat untuk upacara ruwatan sekitar 150 tahun yang lalu tepatnya tahun 1869 M.

Upacara ruwatan Badut Sinampurna telah dilaksanakan oleh warga masyarakat Desa Ploso Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan secara turun-temurun, setiap bulan Selo / Lungkang Bulan Jawa,  yang pada saat ini sudah turun kesepuluh. Adapun geneologis pewarisan upacara ruwat Badut Sinampurna secara berurutan bermula dari Mbah Jayaniman, Mbah Kanjeng Kendang, Kanjeng Jimat,  Kanjeng Gimbal, Mbah Rono Kenco, Nara Kenco, Nala Jaya, Nala Krama, Mbah Misdi, dan Saidi. 

BROJO GENI TREMAS PACITAN 


Upaya pelestarian permainan tradisional Brojo Geni di Kabupaten Pacitan sebagai berikut. Pertama memperkenalkan Brojo Geni di Pondok Pesantren nahdhatul Ulama yang tersebar di seluruh Kabupaten Pacitan, serta Madrasah Aliyah beserta Riyadhoh yang dilaksanakan sebelum menjadi pemain Brojo Geni. 

Melalui bimbingan serang guru atau kyai mempersiapkan siswa kelas atas untuk ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan permainan Brojo Geni pada saat wisuda dan 1 Muharram. Pemain dipilih dan dibawah bimbingan guru atau kyai untuk menjadi pemain jika telah lulus melaksanakan Riyadhoh yaitu puasa tidak makan nasi putihdilanjutkan dengan puasa ngebleng satu hari satu malam 73 tidak kelurkamar. Setelah prosesi ini dilanjtkan dengan berendam di air sungai atau kolam tujuannya untuk media menjadikan dirinya seperti air yang tidak bisa dibakar dengan api. 

Keberhasilan tiap santri berbeda-beda yang terlihat pada saat pelaksanaan permainan mana santri yang mampu memegang bola api atau menjadi emain terbaik berarti prsesi riyadhohnya paling sukses. Kedua permainan Brojo Geni untuk setiap 1 Muharram, dan wisuda santri tingkat atas di pondok pesantren. Ketiga kerjasama antara Kementrerian Agama Pacitan, Nahdathul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor dalam rangkaian Hari Santri Nasional di Pacitan dalam memasukkan Brojo Geni dalam rangkaian kegiatan. Permainan Brojo Geni telah menjadi agenda dalam Hari Santri Nasional di Kabupaten Pacitan. 

Permainan Brojo geni menjadi agenda kegiatan Hari Santri Nasional sejak tahun 2015 oleh Kementerian Agama Kabupaten Pacitan. Brojo Geni dalam pelaksanaannya melibatkan seluruh Lembaga Sekolah Madrasah di Lingkungan Kementerian Agama Pacitan. Keempat, Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan yang membidangi kebudayaan di Kabupaten Pacitan melakukan pencatatan terhadap objek permainan tradisional Brojo Geni. 

Proses pencatatan Brojo Geni secara otomatis melakukan pengkajian asal-usul, nilai filosofis, penyebaran, serta fungsinya terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan. Kelima, membangun komunitas Brojo Geni khususnya santri laki-laki di pondok pesantren dengan tergabung dalam Gerakan pemuda Ansor Pacitan. Keenam, melakukan kebiasaan riyadoh di kalangan santri dengan puasa selama 7 hari 7 malam, dilanjutkan dengan puasa ngebleng sehingga santri akan terbiasa untuk melakukan kegiatan keagmaan sebelum memainkan Brojo Geni. 

Brojo Geni sebagai salah satu permainan tradisional keberadaannya harus dilestarikan dan dikembankan agar nilai filosofis dalam rangka pengendalian manusia dari sifat amarah. Nilai karakter dan filosofis dalam permainan tradisional keberadaanya, dan harus mampu terdifusi ke dalam diri anak pada masa sekarang ini, sehingga nantinya kecanduan anak terhadap games online dapat teratasi dan beralih ke permainan tradisional (Fatkhu Royana, Ibnu, 2017: 542). Sedangkan penyebarluasan dengan menggunakan media sosial baik facebook, youtube yang dikelola oleh Kementerian Agama Kabupaten Pacitan, Gerakan Pemuda Ansor, serta komunitas lainnya. 

Penggunaan media sosial dalam rangka penyebarluasan informasi berkaitan dengan Permainan atau olahraga tradisional Brojo geni akan menjadi daya tarik generasi mda utuk ikut berpartisipasi. Permainan Brojo Geni tidak seperti permainan lainnya yang memerlukan proses ritual puasa atau sering disebut dengan Riyadhoh. Oleh sebab itu selain menyebarluaskan Brojo geni juga berisi himbauan bahwa permainan ini berbahaya bagi orang yang belum berpengalaman. Pemain Brojo Geni harus santri tingkat atas yang telah melewati proses riyadhoh. 

UPACARA ADAT TETAKEN


Upacara adalah sistem aktivitas atau rangkaian atau tindakan yang diatur oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa tetap yang biasanya terjadi dalam masayarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1980:140). Oleh sebab itu upacara adat akan lestari dan berkembang jika didasarkan dari budaya masyarakat suatu wilayah secara turun-temurun. 

Manusia tidak bisa menciptakan sebuah upacara adat secara instan seperti halnya membuat sebuah produk. Pada hakikatnya upacara adat sebagai bentuk dari warisan budaya leluhur yang berwujud takbenda berupa rangkaian kegiatan yang disusun berdasarkan budaya msyarakat setempat, yang memiliki nilai luhur masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Nilai luhur tersebut akan terpelihara dengan eksistensi pelestarian upacara adat tersebut. Nilai-nilai sosial dan budaya yang dapat berkedudukan sebagai modal sosial (Social Capital) bangsa. 

Modal sosial tersebut dapat dipergunakan sebagai sarana untuk membangun masyarakat yang berbasis budaya. Namun demikian manusia sebagai makhluk religious tidak akan melupakan eksistensinya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Sikap dan perilaku masyarakat yang mentradisi, karena didasari oleh nilai-nilai yang diyakini kebenarannya ini merupakan wujud dari kearifan lokal (Maryani, (2011). 

Ernawi, (2010) memaknai kearifan lokal (local wisdom) merupakan sebagai suatu kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah’ Nilai kearifan lokal Pacitan tercermin dari berbagai keragaman budaya dan adat istiadat terutama upacara adat. Salah satu dari beberapa upacara adat tersebut yang diaksanakan secara rutin tiap tanggal 15 Muharram yaitu Upacara Adat tetaken. Tetaken berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti teteki atau 65 maknanya adalah orang menyucikan diri dengan bertapa di lereng Gunung Limo. 

Siswa Padepokan Tunggul Wulung yang belajar ilmu di Lereng Gunung Limo akan diwisuda oleh guru atau biasa disebut juru kunci untuk diserahkan kepada masyarakat Desa Mantren. Upacara adat sangat berhubungan dengan tiga hal, yaitu berhubungan dengan kehidupan manusia, berhubungan dengan alam, serta berhubungan dengan agama dan kepercayaan, bahwa masyarakat Jawa sangat mendambakan hubungan dinamis antara manusia dengan alam dan Tuhan (Sri Wintala, 2017:, 57). 

Oleh sebab itu Upacara Adat Tetaken sebagai wujud ungkapan rasa syukur warga Desa Mantren selepas murid atau siswa yang menimba ilmu. Tetaken merupakan tradisi masyarakat sekitar Gunung Lima, yang masih terpelihara hingga saat ini. Tetaken berasal dari kata Sansekerta yang berarti Teteki mengandung pengertian pertapan. Di mana tradisi ini sangat kental yang masih menggunakan ritual namun unsur syirik sudah ditinggalkan oleh masyarakat Mantren setelah Islam masuk di Mantren sekitar abad 16 M. 

Walaupun demikian tradisi Upacara Adat Tetaken yang menyatu dalam kehidupan masyarakat Mantren. Bahwa menurut Parsudi Suparlan yang dikutip oleh Jalaluddin bahwa “Tradisi merupakan unsur sosil dan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit untuk diubah (Jalaluddin, 2004: 187-188).


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.