Madrasah Corona (Hasan Khalawi)

Madrasah Corona

Oleh: Hasan Khalawi, M.Pd (*)

Pada hari-hari ini, marilah kita memperbanyak dhikir, sehingga hati kita tertuju kepada Alloh SWT. Sholawat beriringan salam semoga tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mudah mudahan kita termasuk umatnya yang mendapat syafaatnya di akherat kelak, amin ya robbal ‘alamin.

Seniscayanya, nikmat sangat besar yang dianugerahkan Alloh Subhanahuwataala kepada kita adalah nikmat ‘ada’, ‘maujud’, kesempatan menghirup udara dan melihat jutaan ciptaanya; sebagaimana manusia telah mengalami 4.5 milyar tahun silam di rumah kita, yakni planet bumi. Demikian pula, keberadaan kita sampai detik ini yang merupakan nikmat dan  kesempatan luar biasa.  

Di tengah pandemi Corona, kita merasakan dimensi semiotis yang khas; yakni tanda-tanda yang membawa pesan kepada kita, sebagaimana tertulis dalam beberapa pemikiran di bawah ini: 

Pemikiran pertama: Badiuzzaman Said Nursi, sinar ke sebelas, asy-Syu’a’at.

Alloh Subhanahu wataala berfirman: 

Maka, ia pun (Yusuf AS) mendekam di penjara selama beberapa tahun (QS. Yusuf, 12: 42).

Dari sejumlah rahasia ayat al-Quran di atas dapat dipahami bahwa (Nabi) Yusuf AS merupakan teladan bagi para tahanan. Dengan demikian, penjara menjadi semacam madrasah Yusufiyah. 

(Sebagaimana fenomena saat ini, Covid 19 adalah bagaikan penjara bagi gerak manusia. Hikmahnya, manusia bisa menunda hingar-bingar, melihat dunia dari jalan yang sunyi dengan mata hati ‘betapa berharganya waktu’ dan ‘nikmat hidup’). Modal hidup kita adalah 24 jam dalam sehari sebagai salah satu nikmat dari Sang Pencipta agar pada setiap jamnya kita bisa meraih apa yang harus kita raih serta apa yang penting bagi kehidupan dunia dan akherat kita. Sehingga, “Madrasah Yusufiyah” ini dan dari ujian yang ada sejatinya bisa mendidik dan mendewasakan (kita). 

Pemikiran ke-2 Hujjatul Islam, Imam al-Ghozali, Ihya’ Ulumuddin

بِأَنَّ الأَمْرَ اِدٌّ وَالخَطْبَ جِدٌّ والاَخِرَةَ مُقْبِلَةٌ وَالدُّنْيَا مُدْبِرَةٌ وَالاَجَلَ قَرِيْبٌ وَالسَفَرَ بَعِيْدٌ

Bahwa persoalan yang menyangkut masalah ini sangat serius dan sekaligus dikelilingi persoalan yang siap menghadang. Hari kiamat pasti akan datang, dan dunia ini akan segera ditinggalkan. Kematian akan segera menjelang, dan perjalanan yang ditempuh kemudian akan sangat panjan.

 Dari Umar bin al-Khathab, ia berkata, “Rosululloh SAW bersabda:

اْكثروا ذ كر هاذم الذا ت, قلنا يا رسول الله و ما هاذم اللذات؟ قال الموت

“Perbanyaklah oleh kalian untuk mengingat pemutus kenikmatan.” Kami bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah itu pemutus kenikmatan?” Beliau menjawab, “Yaitu kematian.” HR. Abu Na’im di dalam al-Hilyah dan al-Baihaqi di dalam as-Syu’b. 

Demikianlah, wabah ini mengingatkan kita akan tujuan negeri akherat dan tidak menukarnya pada tujuan dunia yang fana. Selagi ada kesempatan, yang bijaksana adalah dengan meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan amal. Selain itu, di hari yang fitri ini, mari kita saling memaafkan dengan mata hati. Terkhusus kedua orangtua, selagi kita bisa memandangi wajahnya yang temaram, memegang tangan yang ramping itu; karena fisik mereka dan juga kita; pelan namun pasti, bergerak meniada di dunia yang fana.   

Pemikiran ke-3 Badiuzzaman Said Nursi, al-Kalim.

Bahwa wabah ini menyegarkan ingatan kita kembali, tentang apa yang sebetulnya Alloh inginkan atas nikmat yang diberikan kepada kita sebagaimana tercermin dalam pertanyaan dan jawaban berikut ini:

 

ﺳﺆﺍﻝ:  ﺇﻧﻨﺎ ﻧﺒﺪﻱ ﺍﺣﺘﺮﺍﻣﺎ ﻭﺗﻮﻗﻴﺮﺍ ﻟﻤﻦ ﻳﻜﻮﻥ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻨﻌﻤﺔ ﻋﻠﻴﻨﺎ، ﻓﻴﺎ ﺗﺮﻯ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﻄﻠﺐ ﻣﻨﺎ ﺭﺑُّﻨﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪ ﺻﺎﺣﺐُ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻨِﻌﻢ ﻛﻠﻬﺎ ﻭﻣﺎﻟﻜُﻬﺎ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﻲ؟

   ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ:  ﺇﻥ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤُﻨﻌﻢ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﻲ ﻳﻄﻠﺐ ﻣﻨّﺎ ﺛﻠﺎﺛﺔ ﺃﻣﻮﺭ ﺛﻤﻨﺎ ﻟﺘﻠﻚ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﺍﻟﻐﺎﻟﻴﺔ:

   ﺍﻟﺄﻭﻝ:  ﺍﻟﺬﻛﺮ.. ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺍﻟﺸﻜﺮ.. ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ: ﺍﻟﻔﻜﺮ..

الكلمات - 8

 

Pertanyaan: 

Kita menghargai seseorang yang menjadi sebab nikmat bagi kita, seperti pelayan yang mempesona. Lantas, harga atau nilai apa yang Alloh inginkan, sebagai sang pemilik yang hakiki?  

Jawaban: 

Ya, sesungguhnya Sang Maha Pemberi nikmat dan kebaikan yang berharga tersebut menginginkan tiga hal dari kita: pertama adalah al-dhikru, kedua adalah al-syukru, dan yang ketiga adalah al-fikru (refleksi dengan merasakan dan memikirkan anugerah-Nya). Tentu, semua ini akan kita dapatkan caranya dari belajar dengan orang yang ‘alim dan soleh. Demikianlah hikmah madrasah Yusufiyah, perjalanan yang masih panjang, dan yang Alloh subhanahuwataala inginkan atas kita. Kita mesti optimis menghadapi semuanya.

 

Allah SWT berfirman:

  وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (Quran Surat Yusuf: 87)

وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ

Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Quran Surat al-A’rof: 156)

Syaikh Ibnu Sina menulis dalam kitabnya al-Isyarot wa al-Tanbihaat seputar metafisika

ولا تضع الي من يجعل النجاة وقفا علي عدد, .....واستوسع رحمة الله

Keselamatan bukanlah milik sedikit orang…(yakni karena) rahmat Alloh SWT itu luas dan berlimpah.

Mudah-mudahan cobaan ini segera berakhir dan semoga semua kejadian saat ini menjadi hikmah yang berharga bagi kita.

Penulis: Mahasiswa Doktoral Universitas Darussalam Gontor

 

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.