Cita-Cita si Tukang Tidur; By Lutfi Abdul Majid Amin

 

Cita-Cita si Tukang Tidur

Tono, anak orang kaya yang baru menginjak kelas 3 SMA suka begadang sampai pagi hanya untuk bermain game di ponselnya. Kebiasaannya ini sudah berlangsung sejak kelas 1 SMP. Oleh karena itu ia sering tidak mengerjakan PR dan ketiduran saat KBM di sekolah entah siapapun gurunya dan kapanpun jam pelajarannya. Sampai-sampai ia dijuluki tukang tidur oleh teman-temannya.

Suatu pagi, Tono pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Seperti biasa dengan muka lesuh, rambut acak-acakan, seragam berantakan, dan salah satu ciri khasnya,... yaitu keloyongan kalau lagi berjalan.

“Hwaaaaaaahhh...Haaaaaaah,” “Ngantuk kali aku ini, haduuhuh.”.

Tono pun melihat jam tangannya “Mana ini udah jam 12 lagi, hari senin pula,”... “Eh bentar, loh kok jam 12,...Ohh kebalik ternyata, hihih.” Tiba-tiba ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang, “Perasaan ada yang ngikutin aku ini”. Lalu ia menoleh ke belakang, “Nggak ada siapa-siapa, mungkin cuma kucing lewat kali,” ucapnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya ke sekolah.

Sesampainya di sekolah dia bertemu dengan seorang satpam, namanya Pak Bejo. “Hey Tono !!, sang surya mulai melaju, malam pun telah berlalu, masih ngantuk aja kau !!, udah mukamu lesuh kayak gitu, baju berantakan, rambut kaya rumput pekarangan, tiap hari ngantuknya gak ilang-ilang, gimana mau sukes dan jadi orang yang terpandang ?!!!,” seru Pak Bejo.

Tono pun menjawab “Hwaaaaah, anu pak, abis belajar dan berjuang semaleman pak.”.

“Hahh !!, belajar dan berjuang ?, nggak mungkinlaah manusia kayak kau itu mau belajar dan berjuang, apa lagi semaleman, Impossible !!,” ujar Pak Bejo.

“Beneran pak, aku tuh semalem abis belajar dan berujuang,......namatin game,” jawab Tono.

“Halaaah, suram masa depan kau Tono, udah masuk sana upacara mau mulai tu !!” tegur Pak Bejo.

“Iya Pak,” jawab Tono.

Tono pun masuk kelas. Ia meletakkan tas di meja lalu membukanya “Loh topiku mana ya ?, perasaan tadi udah aku masukin... Duhh bisa gawat kalo upacara gak pakek topi.”. Akhirnya Tono pasrah dan mengikuti upacara tanpa memakai topi.

Sesampai di lapangan upacara Ia menempatkan diri di tengah barisan, yang dianggap aman untuk bersembunyi dari ospek kelengkapan. Tidak lama kemudian upacara dimulai, Ia sedikit membungkukkan dirinya agar tidak terlihat dari luar barisan. Lalu si Dimas, teman sekelas yang berbaris disebelahnya mengajak bicara.

“Eh Tono...Tono...woy Tono !!, sekalian budek aja kau,” sapa Dimas dengan sedikit berteriak.

“Sssssst, diem napa !!, kau nggaak liat apa ? aku nggak pakek topi, entar kalau ketahuan bisa barabe aku,” jawab Tono.

Rupanya perbincangan yang sangat singkat antara Tono dengan Dimas tersebut terdengar oleh guru dari belakang barisan. Lalu dihampirilah mereka berdua oleh guru tersebut yang ternyata adalah Pak Jonas, guru mata pelajaran matematika, jam pelajaran pertama di kelas Tono dan Dimas hari ini.“Kalian berdua, sini... Ngomongin apa kalian tadi ?, nggak dengerin apa Pak Pembina lagi bicara ? Kalau kalian mau bicara di depan sana aja tuh biar semuanya ikut dengar !.”. “Maaf pak,” jawab Tono dan Dimas. “Dimas, jangan kamu ulangi lagi itu !, Tono, kamu ikut saya ke depan,” ujar Pak Jonas. “Loh kenapa cuman saya Pak yang di suruh ke depan?,” Tanya Tono. “Banyak tanya aja kamu, kepalamu tak pakai topi itu,” jawab Pak Jonas.

Akhirnya Tono maju ke depan sendirian sambil ditertawai oleh Dimas. “Teman lucknut,” ucap Tono dengan lirih. Sesampainya di depan semua peserta upacara, Pak Jonas berbisik dengan pembina upacara, setelah itu ia memanggil Tono, “Tono, sini,” “Kamu nanti setelah pembina selesai berbiara perkenalkan diri kamu, sebutkan cita-citamu, sama alasanmu nggak pakai topi pas upacara.”. “Baik Pak,” jawab Tono.

Setelah menunggu sebentar, akhirnya Pak Pembina selesai berbicara dan kini giliran Tono. “Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Tono kelas 10 jurusan IPS, cita-cita saya ingin jadi anggota DPR”. Perkataan dari Tono tersebut sontak dibalas sorakan dari para siswa lainnya, “Hoooooo !!,” “Hooooo, cuci muka dulu sana” “Tukang tidur mau jadi DPR, Dewan Penghuni Ranjang kali !, hahaaaa.”. Tono pun menanggapinya “Tenang semuanya tenang, saya belum selesai ini. Jadi begini alasan saya tidak memakai topi saat upacara karena lupa, sebab kurang tidur tadi malam. Dan alasan saya pengen jadi DPR itu, ya kami itu punya satu ciri khas yang sama.”. Lalu Dimas dari dalam barisan bertanya, “Emang apaaan ?.”. “Hehee,...suka tidurlah,” jawab Tono dengan lirih. Sontak para siswa lain menyoraki Tono “Hoooooooo!!!,” “Apaan yang DPR!!, melek aja belum pecus.”

Setelah upacara selesai, Tono dan para siswa lainnya pergi ke kelas masing-masing. Sesampainya di kelas Tono bertemu dengan Dimas, “Heh Dimas, sengaja kau tadi ya biar aku disuruh kedepan,” ujar Tono. “Gitu doang udah emosi aja kau” jawab Dimas. Lalu Tono pun menanggapi “Tau tak kau ?!, malu aku itu, udah rambutku berantakan, tak pakai topi, berdiri di depan lagi...Yang ada kau itu yang tak pantas jadi DPR, masih muda udah jadi penghianat teman.”. Dimas pun menjawab “Yaelaaah, yang mau jadi DPR juga siapa ?, kau aja kali.”.

Tak lama kemudian Pak Jonas memasuki kelas untuk memulai jam pelajaran pertama, “Selamat pagi semuanya, Oke anak-anak hari ini pelajarannya matematika ya,” Sapa Pak Jonas. “Selamat pagi kembali pak,” jawab semua siswa kecuali Tono yang memulai rutinitasnya kembali, apa lagi kalau bukan tidur.

Melihat hal tersebut Pak Jonas menghampiri dan menggebrak meja Tono, “Tono !, bangun kamu !,” seru Pak Jonas. Tono pun kaget dan terbangun “Oh...kenapa pak ?,”Sahut Tono. “Heh, ini udah masuk jam pelajaran !, masih tidur aja kamu,” seru Pak Jonas. “Maaf pak,” ucap Tono sambil membungkukkan kepalanya.

“Maaf-maaf !!, sudah berulang kali kamu tidur di jam pelajaran bapak,” tegas Pak Jonas.

“Sekali lagi saya minta maaf Pak,” jawab Tono.

“Halah, paling-paling besoknya kamu tidur lagi. Sekarang kamu kerjain soal halaman 85 nomor 1-20,” ujar Pak Jonas.

“Baik pak,” jawab Tono.

Setelah itu pelajaran pun dimulai, para siswa mendengarkan penjelasan dari pak Jonas, sedangkan Tono sibuk mengerjakan tugasnya sendiri.

Lonceng pertanda istirahat telah berbunyi, lalu Dimas mengajak Tono pergi ke kantin, “Eh Tono, ke kantin yok traktirin aku, kamu kan anak orang kaya masa cuman nraktir satu orang aja ga bisa.”. Tono pun menjawab “Aduuuhh, tau tak kau ?,  ngantuk beerat aku ini, itukan perut kau yang lapar, nggak ada hubungannya sama aku, kalau perut kau yang lapar ya kasih  makan sendiri enggak usah ajak-ajak orang lain. Udah sana-sana !, ganggu aja kau.”. “Yaelaah, masih ngambek aja kau,” sahut Dimas. Akhirnya Dimas pergi ke kantin sendirian, sedangkan Tono memulai rutinitasnya kembali yaitu tidur.

Seluruh jam pelajaran telah usai, para siswa mulai beranjak pulang. Kali ini Tono pulang sendirian lagi, begitu sampai di gerbang sekolah, ia bertemu kembali dengan Pak Bejo.

“Hey Tono, masih ngantuk aja kau,” sapa Pak bejo.

“Apa lagi to pak ?,” tanya Tono

“Ingat Tono, kau itu calon penerus bangsa. Masa depan bangsa ini ada ditanganmu, kalu kau jalan aja keloyongan kayak gitu, bagaimana bangsa kita nanti bisa berdiri tegak Tono !!”.

“Yelah-yelaah...sini Pak bentar aja.”

“Ada apa No ?”

“Udah sini lah Pak.”

Lalu Pak Bejo pun mendekati Tono.

“Tangannya sini Pak.”

“Nih, mau ngapain to ?,” Pak Bejo pun mengulurkan tangannya ke Tono

“Nih aku kasih ke Pak Bejo,” Tono menempelkan tangan kosongnya ke tangan Pak Bejo, lalu langsung pergi begitu saja.”.

“Lah apaan yang kau kasih Tono ?, kosong ini“

“Hey Tono!!...Tono!!...apaan yang kau kasih ini ?”

Tono pun menjawab dari kejauhan “Masa depan bangsa pak, soalnya sampe rumah nanti aku mau tidur, ngapain juga bawa pulang masa depan bangsa segala,” ucap Tono sambil berjalan menjauh.

“Hey Tono !!...awas aja kau !!,” teriak Pak Bejo.

Tono pun pergi tanpa menghiraukan Pak Bejo.  Diperlakukan seperti itu Pak Bejo menjadi ingin melantunkan sebuah puisi karyanya sendiri,

Iba

Negeriku yang malang

Bala rintang terus menerjang

 

Jiwamu tak lagi utuh

Tunasmu tak kunjung tumbuh

 

Tubuh tak bertulang

Memikul besi seribu tiang

 

Berdiri di ujung duri

Mawar merah yang hendak mati

 

Janganlah menengok ke tetangga

Yang kiranya lebih bahagia

 

Kulantunkan puisi ini

Sebagai bukti ibaku di hati

 

Lalu Pak Bejo bergumam “Tonoo...Tono, kau itu seharusnya bersungguh-sungguh, belajar di sekolah demi masa depan bangsa dan dirimu sendiri Tono !!, namun kau malah menyepelekannya dan beriskap seakan-akan tidak peduli.

Sementara di tengah perjalanan pulang, Tono dihadang oleh seseorang yang tak dikenalnya. Orang tersebut memakai pakaian serba hitam dan berbau bunga melati,

“Berhenti anak muda !,”

“Apa lagi sih ini, dari tadi pagi adaaa aja yang gangguin aku,” ucap Tono dalam hati

“Hahahahahaha !, berikan apapun yang kau punya dan aku akan berikan apapun yang kau minta.”

“Haaah !, Apa-apan kau ini, udah tua gak punya sopan santun, main nongol aja...emang siapa kau ?,” tanya Tono.

“Hahahahaha, namaku adalah Sadhana. Aku adalah orang yang tak pernah ingkar janji. Aku bisa berikan apapun yang kau mau, harta, jabatan, ketenaran apapun itu.”

“Gajelas banget ini orang, mungkin gila kali ya ?,” ucap Tono dalam hati

“Yasudah, kalau begitu aku pengen ponsel canggih keluaran terbaru,” minta Tono.

“Haaahhaha !, sebelum itu kau harus penuhi syaratnya dulu...berikan sesuatu yang berharga milikmu kepadaku,”

“Nih, jam tangan mahal, tahun lalu beli 4 juta harganya. Lagi pula udah bosen aku pakeknya, nanti kalo ilang tinggal minta lagi aja,” dengan penuh kesombongan dan tidak khawatir sama sekali Tono memberikan jam tangannya itu.

“Haahhahahaha...Bagus anak muda. Sekarang kau masukkan tangan mu ke kantong ini,” ucap Sadhana dengan menodongkan kantong berwarna hitam.

Tono memasukkan tangannya ke kantong tersebut. Lalu dia pun terkejut bukan main, di temukannya dalam kantong tersebut sebuah ponsel model baru sesuai dengan keinginannya.

“Hah !, beneran ini ?, sakti benar kau Sadhana, tanpa mengucap mantra sekalipun kau bisa mengabulkan permintaan aku,” ucap Tono sambil kegirangan.

“Aku sudah bilang padamu wahai anak muda. Aku adalah orang yang tak pernah ingkar janji, hahahahaha,” sahut Sadhana.

Merasa tergiur, Tono kembali ingin mengjukan sebuah permintaan, “Kalau begitu aku ingin minta satu hal lagi padamu Sadhana.”

“Boleh-boleh saja anak muda, mau berapa kalipun kau minta akan ku kabulkan. Selama kau penuhi syarat-syaratnya,” sahut Sadhana.

Lalu Tono mendekati Shadana dan berbisik di telinganya.

“Hahahaha, Tentu saja bisa anak muda, tapi syarat yang harus kau penuhi harus setimpal dengan hasilnya,” jawab Sadhana.

“Tenang saja kalu soal itu, berapapun akan kubayar,” sahut Tono.

“Aku pergi dulu Sadhana, jangan lupa permintaanku,” ucap Tono sambil berjalan pulang.

“Tak usah risau anak muda,” jawab Sadhana.

Setelah sampai di rumah Tono langsung pergi ke kamarnya dan memikirkan tentang pertemuannya dengan Sadhana. “Bener-bener sakti tu orang,” dalam pikiran Tono.

Ia pun teringat dengan ponsel barunya “Oh iya tadi aku kan dapet ponsel baru, unboxing ahh.”. Saking senangnya Tono pun keasyikan bermain game di ponsel barunya sampai semalaman. Bahkan ia sampai kehilangan rasa mengantuknya saat bermain game. Sehingga keesokan harinya, di sekolah ia tertidur lagi dan rutinitasnya tersebut terus berulang sampai ia lulus SMA.

16 tahun kemudian Tono tertidur lagi. Tapi kali ini bukan di kamarnya, bukan di rumahnya, juga bukan di sekolah lamanya. Melainkan tertidur ditengah rapat di kursi dalam gedung DPR pusat, sesuiai dengan keinginannya yang dikabulkan oleh Sadhana.

(Karya: Lutfi Abdul Majid Amin)

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.