Tendy Firmanshah Pemuda Desa Jetak; Owner RVLT

PEWARTA_NUSANTARA  || PACITAN -   Tendi merupakan seorang anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di keluarga sederhana yang lahir di Pacitan pada 27 November 1998. 

Pemuda yang memiliki nama lengkap Tendi Firmanyah dikenal seorang pengemar musik underground. Hal itu dimulai ketika dirinya duduk di bangku SMP (sekolah menengah pertama). Dari situlah ia mulai jatuh cinta dengan musik underground.

Hasil wawancara jurnalis dengan Tendi Firmansyah sang owner RVLT bertempat di Dusun. Meling, Desa. Jetak,  Kecamatan Tulakan.  Hari,  Kamis (22/10/2020).

“Waktu itu ada beberapa teman SMP yang memutar musik underground yang jarang orang tau, mulai saat itu saya menikmati dan mulai jatuh cinta,” jawabnya ketika ditanya sejak kapan mulai menyukai musik underground.

Ketika sudah menyelesaikan pendidikan di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Tendi pun harus menerima kenyataan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya.

“Ketika saya sudah lulus SMP saya akan melanjutkan ke salah satu SMK di Pacitan, akan tetapi keinginan saya berbenturan dengan keterbatasan biaya dari orang tua,” jawabnya ketika di tanya jenjang pendidikan.

Saat dirinya tidak bersekolah ia tidak hanya diam di rumah. Banyak pekerjaan yang di cobanya, sampai suatu saat tumbul sebuah ide untuk mendirikan usaha sendiri.

“Banyak pekerjaan yang saya coba bahkan merantau dari kota satu ke kota lainya, hingga suatu ketika saya merasa lelah dan mulai berfikir untuk membuat usaha sendiri,” jawabnya saat tidak melanjutkan sekolah.

Tiba suatu hari saat mendatangi sebuah showcase dan konser musik underground di luar kota.

“Ada sebuah konser musik di kota Solo sembari menikmati konser musik di sana saya juga melihat lihat beberapa merchandise  dari band-band yang pentas di konser tersebut, setelah berjalan bebrapa saat saya mulai berfikir untuk mendirikan usaha yang menjual marchendise dari band-band underground di Pacitan, karena saya tahu bahwa di Pacitan belum ada distro atau toko yang khusus menjual merchandise dari band-band undergroung,” jawabnya ketika saya bertanya kenapa memilih bisnis jualan marchendise band underground.

Kemudian ia membeli beberapa barang untuk saya bawa pulang dan mencoba menawarkan ke teman-teman dekatnya.

“Ketika itu saya hanya menawarkan melalui pesan Whatapp dan saya buat story di akun Whatapp saya,” jawabnya tentang menawarkan ke teman teman dekatnya.“Ternyata saya mendapat respon positif dari teman – teman saya, dari respon positif tersebut saya mulai memberanikan diri untuk membeli marchendise dengan kuantitas yang lebih banyak dan saya juga mulai memasarkan beberapa marchendise via online melalui beberapa marketplace,” jawabnya ketika saya bertanya bagaimana respon dari teman teman anda.

Seiring berjalanya waktu usahnya semakin berkembang pesat. Tidak mudah puas begitu saja dirinya juga mempromosikan daganganya dari kota satu ke kota lainya melalui even – event musik yang sedang berlangsung di berbagai kota.

“Setiap saya datang di sebuah konser saya selalu membawa beberapa barang dagangan untuk saya tawarkan kepada pengujung yang lain,” tuturnya.

Setelah mendatangi beberapa event musik di berbagai kota ia mulai menamai tokonya dengan nama RVLT. Dengan harapan supaya mudah di kenal banyak orang.

“Setelah mendatangi berbagai kota saya mulai berfikir untuk menamai lapak saya dengan nama RVLT dan saya buat stiker untuk dibagikan kepada pengunjung konser dengan harapkan lapak saya mudah dikenal banyak orang,” jawabnya tentang kapan nama usahanya di buat.

Nama RVLT berasal dari kata revolt dalam bahasa Inggris yang memiliki arti sebuah perlawanan. Menurutnya perlawanan itu memiliki arti yang sangat mendalam.

“Perlawanan di sini memiliki arti melawan rasa malas saya sendiri dan perlawanan terhadap presepsi masyarakat yang selalu merendahkan orang-orang dengan latar  pendidikan yang rendah,“ tuturnya.  

“RVLT berdiri pada tahun 2018 lebih tepatnya 2 tahun yang lalu, dengan omset sekitar 5 - 8 jt perbulan untuk saat ini RVLT baru memiliki satu kios di Desa Jetak Kecamatan Tulakan, rencanaya akan membuka satu kios lagi di kota pacitan setelah pandemi Covid 19 mereda,” jawabnya ketika di tanya omset dan berapa cabang yang dimiliki.

Dari kisah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tidak mudah puas dan terus berusaha karena kesuksesan tidak bisa di ukur dari latar belakang  pendidkan akan tetapi memerlukan tekat dan usaha yang kuat untuk mencapainya. Bersyukurlah bagi yang masih bisa menuntut ilmu sampai dengan perguruan tinggi dan jangan mudah bosan untuk terus belajar. (Doni April Nur Cahyo / AHY)

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.