Nelayan Sidomulyo, Pacitan, Jawa Timur Bertahan Hadapi Pandemi Covid-19

 

PEWARTA_NUSANTARA || PACITAN, 13 Oktober 2020 - Pandemi covid-19 yang muncul sejak awal tahun 2020 masih menjadi permasalahan hingga kini. Selain merenggut ribuan nyawa, covid-19 juga memberikan dampak yang cukup besar bagi kehidupan mulai dari permasalahan kesehatan hingga perekonomian. Banyak yang merasakan masa-masa sulit terlebih dari mereka kalangan masyarakat kecil.

 Di Kota Pacitan sendiri hampir semua kalangan merasakan dampak dari adanya pandemi tersebut, tak terkecuali para nelayan di Desa Sidomulyo Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan. Mungkin tidak banyak yang tahu, namun dampak yang paling dirasakan oleh nelayan yaitu harga ikan yang tidak stabil. Penghasilan yang tidak menentu tersebut tentu saja tidak sebanding dengan tenaga yang telah dikeluarkan saat berada di laut lepas. Belum lagi dengan bahan bakar yang mereka gunakan saat melaut juga harus diperhitungkan.

Harga yang turun dikarenakan adanya pembatasan wilayah sehingga tidak dapat melakukan pengiriman ke berbagai daerah. Selain itu, permintaan yang kian menurun disebabkan banyaknya usaha rumah makan yang tutup. Para pengepul pun kesulitan dalam menjual ikan yang diperoleh dari nelayan begitu pula dengan nelayan yang tidak bisa mendapatkan harga tinggi.

“Harga ikan banyak berkurang, yang dulunya waktu normal bisa mencapai harga Rp.50.000 lebih per kilogram namun sekarang rata-rata hanya laku Rp.30.000 per kilogram. Ya memang awal-awal munculnya corona kami belum merasakan dampak tersebut tapi lama-lama kami pun merasakan dampaknya” ungkap Bambang Purwanto, (Minggu 11/10/2020)

Dengan adanya pandemi mendorong para nelayan untuk mencari alternatif mata pencaharian. Sama halnya dengan nelayan di Desa Sidomulyo, pada dasarnya sebagian dari mereka bukanlah nelayan tetap. Dikarenakan pekerjaan nelayan adalah pekerjaan musiman, yang kadang mendapatkan banyak hasil tangkapan dan kadang juga sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Oleh karena itu, mereka memiliki pekerjaan serabutan seperti ternak kambing, ternak sapi, dan juga buruh bangunan. Namun, tetap saja melaut adalah pekerjaan yang harus tetap dilakukan untuk menyambung penghasilan.

“Untuk penghasilan melaut hari-hari normal kami bisa menghasilkan uang dengan jumlah yang besar. Tetapi kami juga pernah, untuk lauk saja satu ekor pun kami tidak dapat. Oleh karena itu kami juga serabutan, memelihara ternak sebagai selingan. Dan seperti musim corona ini kalau harga ikan anjlok, untuk melaut pun kami harus memikirkan dulu agar tidak rugi bahan bakar dan juga alat tangkap yang hilang” tambah laki-laki usia 51 tahun tersebut

Bambang Purwanto juga menambahkan, bahwa kesejahteraan nelayan saat ini dibantu oleh pemerintah. Seperti nelayan yang berkelompok dapat mengakses bantuan seperti sembako dan alat tangkap. (Dika/Indriana/AHY)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.