"PAMIT", By Ayu Kris Sintya & Irma Yunita

“PAMIT”











 

Kriiiingggggg !!! ….

Kriiiingggggg !!! …. 

Jam weker berbunyi, waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Segera kumatikan jam weker yang tepat berada disisi tidurku. Sorot cahaya matahari yang menembus jendela kamarku menambah semangat untuk pergi kesekolah dan bertemu dengan teman-teman.

“Selamat pagi sayang, ayo bangun udah siang!” kata ibu sambil membuka pintu kamarku.

“Pagi kembali bu, Tarissa udah bangun nih hehe,” ucapku sambil merapikan tempat tidur.

“Cepat kamu ambil handuk lalu mandi gih! Nanti terlambat kesekolah lo,” suruh Ibu.

“Siap bu, selesai merapikan tempat tidur, Tarissa segera mandi,” ucapku.

“Yaudah, ibu ke dapur dulu mau menyiapkan sarapan untukmu nanti,” ucap ibu.

“ Iya bu,”ucapku sambil berjalan ke kamar mandi.

Setelah Tarissa selesai mandi, ia pun berdandan dan segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama Ibunya.

“Masak apa pagi ini bu,?” ucapku penasaran.

“Ibu buatkan nasi goreng spesial untukmu nak,” jawab ibu.

“Wihhh enak tuh,” sautku.

“Yaudah kamu buruan sarapan, jangan lupa dihabiskan ya!” perintah ibu.

“Pasti dong bu,” jawabku semangat.

Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan sahabat Tarissa.

“Tarissaaaa !”…

“Tarissaaaaa!”…

“Berangkat yuuukkk !”

Segera Tarissa habiskan nasi goreng yang tinggal sedikit itu.

“Buu, Tarissa berangkat yaa, udah ditunggu Ririn sama Denaya didepan,” pamitku.

“Iya, hati-hati yaa. Jangan lupa bekal sama uang sakunya dibawa!” ucap ibu mengingatkan.

“Iya bu, terimakasih,” jawabku tersenyum.

Sambil mencium tangan ibunya, Tarissa kemudian pamit berangkat ke sekolah bersama Ririn dan Denaya.

Waktu menunjukkan pukul 06.45 a.m, jarak rumah mereka ke sekolah memang tidak jauh. Tidak sampai 10 menit, mereka sampai disekolah. Namun kemudian, …

“Kringggggg ! Kringgggg ! Kringggg!”  Bel tanda masuk berbunyi.

“Ayo gaes cepat masuk ke kelas, sebelum Bu Rida datang!” ajak salah seorang teman sekelas Tarissa.

Tarissa, Ririn, dan Denaya sekarang menginjak kelas 2 SMP, dari TK mereka selalu bersama satu kelas. Tentu keakraban mereka sudah bagaikan kakak dan adik. Setiap hari mereka bermain dan kumpul bersama.

-------

Tarissa dan kedua temannya kemudian bergegas masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Selang beberapa menit kemudian, Bu Rida datang dan pembelajaran pun dimulai.

Beberapa jam kemudian bell berbunyi, menandakan waktu istirahat telah tiba. Tarissa dan teman-teman beristirahat, mereka pergi ke kantin untuk makan.

" Ayo gaes cari makan, laper nih!” ajak Ririn.

“Ayok,” saut Denaya.

“Aku beli minum aja deh, tadi udah dibawain bekal sama ibuku,” ucapku.

“Oke Riss,” jawab Ririn dan Denaya kompak.

 15 menit kemudian …

Kringgggg......! Kringgggg...! Kringgggg....!

Bell masuk pun berbunyi, menandakan waktu istirahat telah habis, mereka pun kembali belajar. Mata pelajaran yang kedua yaitu Bahasa Indonesia, pelajaran kesukaan Tarissa, Ririn, dan denaya. Mereka mengikuti pembelajaran dengan semangat.

Sekarang waktu menunjukkan pukul 12:30 WIB, waktunya  dimana mereka sudah harus pulang. Tarissa, Ririn dan Denaya pun pulang jalan kaki bersama-sama. Sesampainya didepan rumah Tarissa, mereka berpisah pulang ke rumah masing- masing.

"Ririn, Naya tidak mau mampir dulu?" tanyaku.

"Enggak usah Ris, kita langsung pulang aja, udah ditunggu ibu dirumah," jawab Ririn.

“Iya Ris, aku juga,” saut Denaya.

“Yaudah deh kalo gitu, hati-hati dijalan ya,” ujarku sambil tersenyum.

“Siap Riss, amaan hehe,” jawab Denaya sambil membalas senyum.

"Oke, Sampai jumpa besok ya," Sautku.

"Okeyy  Ris,” jawab Ririn.

Percakapan berakhir, Ririn dan Denaya pun pulang ke rumah masing-masing. Sesampainnya dirumah, Tarissa segera berganti pakaian dan sholat dhuhur. Setelah selesai sholat, Tarissa pergi ke ruang makan untuk makan siang, tidak lupa sehabis makan ia membantu ibunya untuk mencuci piring.

“Bu, piringnya sudah Tarissa cuci semua.”

“Rajinnya anak Ibu, yaudah kamu istirahat gih! Pasti kamu cape kan?” jawab ibu..

“Hehehe iya bu, yaudah Tarissa ke kamar dulu ya,” Kataku sambil tersenyum.

“Iya nak,” jawab ibu sambil mengangguk.

Tarissa kemudian pergi ke kamarnya untuk istirahat. Namun rasa kantuk datang, tidak lama kemudian Tarissa tertidur.

Zzzzzzz…

Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, Tarissa terbangun dan segera ke kamar mandi untuk cuci muka dan ambil air wudhu untuk sholat ashar.

Selesainya sholat ashar, Tarissa membantu ibunya menyapu halaman rumah.

“Nanti kalau sudah bersih, kamu segera mandi ya nak,” perintah ibu.

“Siap buu,” jawabku semangat.

Hari pun berganti malam, Setelah sholat maghrib berjamaah bersama ibunya, Ayah Tarissa yang berada di kota telepon.

“ Bu, hp ibu getar tuh, ada telepon kayanya,” ucapku memberitahu ibu.

“ Biar ibu cek dulu ya,” saut ibu.

“Dari ayahmu Ris,” jawab ibu.

“Yaudah segera angkat bu,” ucapku.

Ibu Tarissa kemudian mengangkat telepon, dalam percakapan tersebut mereka membicarakan tentang rencana kepergian Tarissa dan Ibunya untuk menyusul ayahnya ke Kota. Tarissa yang belum mengetahui rencana itu dibuat kaget saat mendengar kabar tersebut. Tidak lama kemudian percakapan singkat dalam handphone itu berakhir.

“Buu apakah benar kita akan menyusul ayah ke kota?” tanyaku penasaran.

“Iya nak, maaf ibu tidak kasih tau kamu sebelumnya tentang rencana ini, ibu takut kamu kepikiran dan tidak fokus belajar,” jawab ibu dengan nada rendah.

“Tapi buu, bagaimana dengan sekolah Tarissa disini, bagaimana dengan sahabat Tarissa?” sautku sedih.

“Nanti kamu pindah sekolah di kota nak, untuk Ririn sama denaya nanti bisa dikasih tau pelan pelan. Ibu tau hal ini membuat kalian sedih, tapi mau gimana lagi? Ibu juga mau cari kerja di kota biar bisa nambah penghasilan buat keluarga,” jawab ibu menenangkan.

“Tapi buuu….?”

“Udah, ayo kita segera makan malam saja,” ibu memotong pembicaraanku.

Sambil berkaca-kaca, Tarissa berjalan menuju ruang makan. Hal ini membuat Tarissa sangat sedih, makanan yang dihadapannya tidak segera dimakan, seperti kehilangan moodbooster baginya.

“Loh kok nggak dimakan Ris?” tanya ibu.

“Tarissa sedih bu, Tarissa kepikiran tentang kepindahan kita ke kota,” jawabku sedih.

“Sebenarnya ibu dan ayah tidak mau membuat kamu sedih nak, tapi bagaimana? Keadaan yang membuat kita pindah ke kota,” kata ibu.

“Kapan kita berangkat bu?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

“Seminggu lagi kita berangkat nak,”jawab ibu.

“Kenapa mendadak sekali bu? Lalu bagaimana tentang surat pindahku di sekolah?” jawabku dengan kaget.

“Berhubung besok adalah hari minggu, maka ibu akan urus surat pindah sekolahmu hari senin nak. Yaudah cepat kamu makan makanannya, nanti kamu sakit loh kalau tidak makan,” suruh Ibu sambil tersenyum menenangkan.

“Iya bu,” Jawabku dengan terpaksa.

"Nanti kalau sudah, kamu segera ambil air wudhu untuk solat isya ya, sehabis itu tidur biar tidak sedih lagi," suruh ibu.

“Baik bu,” Jawabku sambil menundukkan kepala.

Setelah sholat isya, Tarissa pergi ke kamar untuk tidur. Namun tetap saja Tarissa tidak bisa segera tidur karena hal yang berat itu selalu di pikiran Tarissa. Dia bingung bagaimana cara untuk kasih tau Denaya dan Ririn. Ia juga sedih akan meninggalkan sekolah yang belum lama dimasukinya.

Malam semakin larut, akhirnya Tarissa mengambil foto bersama kedua sahabatnya itu diatas meja, sambil memeluk hangat foto itu Tarissa berharap pikiran dan hatinya bisa tenang. Dan benar saja tidak lama kemudian ia benar-benar tertidur.

Zzzzzzzzzzz….

-----------

Malam pun berganti pagi, Tarissa bangun dan segera membersihkan tempat tidurnya. Karena hari ini mingggu, ia membantu ibunya memasak di dapur dan membersihkan rumah.

“Selamat pagi bu, maaf ya Tarissa baru bangun tidur jadi tidak bisa bantu ibu dari pagi,” ucapku kepada ibu di dapur.

"Iya sayang gapapa kok, ini masakan ibu bentar lagi matang," jawab ibu.

“Yaudah kalo gitu Tarissa bantu goreng tempenya ya bu,” Ujarku.

“Iya nak, tapi hati-hati ya menggorengnya,” ucap ibu perhatian.

“Siapp buu,” jawabku tersenyum.

Beberapa menit kemudian masakan pun matang, mereka segera sarapan sebelum melanjutkan kegiatan lain.

"Ibu, nanti biar Risa aja yang mencuci piringnya," ujarku.

"Iya nak," sahut ibu

Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Denaya dan Ririn main kerumah Tarissa. Memang setiap hari minggu kalau tidak ada tugas yang menumpuk, mereka habiskan waktu untuk berkumpul. Dari kebersamaan itu lah yang membuat Tarissa sangat sedih mau pindah ke kota. Dan di hari ini Tarissa akan memberi tahu kepada dua sahabatnya tentang rencana kepergiannya itu.

"Assalamualaikum Tarissa..!!!" ucap Ririn dan Denaya kompak.

"Wa'alaikumsalam. Silahkan masuk nak Tarissa ada didalam," jawab Ibu Tarissa

"Baik bu," sahut Denaya sambil mengandeng tanggan Ririn untuk segera masuk menemui Tarissa.

Rupanya Tarissa sedang berada di kamarnya sambil tertunduk diam. Tarissa sedang memegang sebuah foto yang ternyata itu foto mereka bertiga. Tarissa sedih kalau ternyata persahabatan itu akan ia tinggalkan.

Kemudian Ririn dan Denaya menuju kamar tarissa…

"Tok..Tok..Tok, Tarissaaa....!!!!!," sambil membuka pintu kamar Tarissa.

Saat melihat kedua sahabatnya itu Tarissa hanya bisa terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca seolah akan meneteskan air mata. Kemudian Tarissa beranjak dari tempat tidurnya dan memeluk erat kedua sahabatnya itu sambil menangis

"Loh kamu kenapa Ris?" ucap kedua temannya itu kompak (Dengan raut wajah yang kaget).

"Risa kamu kenapa ?, Ceritalah sama kita, jangan menangis, kita jadi binggung nih!" kata Ririn.

"Maafin aku yaa temen-temen," ucapku sambil menangis.

"Minta maaf untuk apa Ris? Ceritalah! kita siap mendengarkan," ujar Denaya

Tarissa pun pelan-pelan melepas pelukan itu sembari menghapus air matanya. Ia mulai bercerita dengan tersedu-sedu.

" Rin, Nay  maafin aku yaa...!, Seminggu lagi aku akan pergi ke kota nyusul ayahku," ucap  sedih.

"Hah kamu serius?" ucap Ririn kaget.

"Kenapa mendadak Risa..?" tanya Denaya dengan muka sedih dan kaget.

"Aku baru dapet kabar tadi malem sewaktu ayahku telepon, sebenarnya aku juga nggak mau meninggalkan kalian dan desa ini, tapi rasanya tidak mungkin kalau aku tinggal sendirian di sini.” Jawab Tarissa sambil meneteskan air mata.

Tiba-tiba Ibu Tarissa datang menghampiri mereka.

"Lho...lho ada apa ini kok pada menanggis?" tanya Ibu  Tarissa kaget.

"Apa benar Ibu dan Tarissa akan ke kota?” tanya Denaya.

"Iya benar, maaf kalau ibu kasih kabar ke Tarissa mendadak. Ibu sebenarnya berat mau menyampaikan hal ini ke kalian, tapi bagaimanapun kalian harus tau,”  jawab Ibu Tarissa dengan tenang.

"Bu tapi kenapa harus nyusul Ayah Tarissa ke kota? Terus siapa yang akan menempati rumah ini?" tanya Ririn sambil meneteskan air mata.

"Ayah Tarissa meminta kami untuk ke sana, biar kita bisa kumpul sama-sama, dan rencananya ibu juga mau bekerja di kota nanti. Untuk rumah ini insyaallah akan ditempati saudara ibu untuk sementara," jawab Ibu Tarissa.

"Tapi bukannya kasihan Tarissa bu? Harus pindah sekolah? Kami juga takut nanti Tarissa akan lupa sama aku dan Denaya,” saut Ririn sedih.

"Kasihan itu pasti, tapi mau gimana lagi, keadaannya memang harus begini nak,” Jawab Ibu Tarissa.

“Aku gak akan lupa sama kalian gaes, kalian bagiku sudah seperti saudara kandungku sendiri.” Sautku sambil meneteskan air mata.

Kemudian mereka kembali berpelukan sambil meneteskan air mata. Ibu Tarissa juga ikut memeluk sambil memberikan senyuman agar mereka tidak merasa sedih lagi.

--------

Hari demi hari.

Waktu demi waktu.

Dan deetik demi detik telah berlalu ...

Kini tingal satu hari Tarissa akan pergi ke kota. Sore itu Tarissa akan pamit kepada kedua sahabatnya itu, kebetulan Ririn sedang berada di rumah Denaya. Kemudian Tarissa segera menghampiri mereka di rumah Denaya.

"Assalamualaikum wr.wb."  

"Wa'alaikumsalam, eh Tarissa tumben nih kesisni biasa juga kita yang ke situ hehe," ucap denaya sambil meledek.

Rupanya mereka belum mengetahui Tarissa akan pergi ke kota besok.

"Iya nih tumben, ada apa Ris ? kamu masih lama kan mau ke kota?” tanya Ririn.

“Kedatangkanku kesini mau pamit sama kalian gaes, aku besok pagi berangkat ke kota," ucap Tarissa sambil berkaca-kaca.

“Hah? Besok?” Ririn dan Denaya kaget.

“Iyaa, maafin aku ya temen-temen, aku pamit sekarang soalnya takut besok tergesa-gesa terus malah nggak pamit sama kalian,” Kataku sambil meneteskan air mata.

“Padahal kita mau buat sesuatu buatmu Ris, kenang-kenangan biar kamu nggak lupa sama kita kalau sudah di kota,” ujar Ririn sedih.

“Kalian nggak kasih apa apa pun aku ga bakalan lupa sama kalian gaes, kalian bagiku istimewa yang tidak bisa aku lupakan,” jawabku sambil mengusap air mata.

Mereka pun berpelukan dengan diiringi kesedihan. Namun hari semakin petang, Tarissa pamit pulang karena takut dicari ibunya.

“Aku pulang dulu ya gaes, takut dicariin ibu. Aku harap besok pagi kalian bisa kerumahku sebelum aku berangkat,” Kataku sedih.

“Pasti Ris, kami pasti kerumahmu,” ujar Denaya.

“Iya Ris,” saut ririn.

Akhirnya Tarissa pulang dengan sedih. Sesampainya dirumah, Tarissa membuat sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk sahabatnya.

Di malam hari itu, kesedihan Tarissa semakin dalam saat ia mengemas barang-barang yang akan dibawanyaa. Tarissa sempat meneteskan air mata, sangat berat baginya harus pergi dari tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Malam semakin larut, ibunya menyuruh Tarissa untuk segera tidur agar besok bisa bangun pagi. Tarissa pun menjalankan perintah dari ibunya itu.

------

Pagi pun tiba, Tarissa dan ibunya kembali prepare agar tidak ada barang yang tertinggal. Tidak lama kemudian Ririn dan Denaya datang kerumah Tarissa untuk membantu mempersiapkan barang-barang.

Sekarang pukul 08.45 WIB, dimana tinggal 15 menit lagi mobil travel akan menjemput Tarissa dan ibunya. Sungguh sangat menyedihkan bagi mereka, persahabatan yang sedari kecil dibangun harus dipisahkan karena suatu keadaan. Kini Ririn hanya bersama Denaya di rumah, sungguh sangat hampa akan tidak adanya Tarissa di tengah mereka.

Tidak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Tarissa dan ibunya tiba, kini saatnya mereka harus benar benar berpisah.

“Temen-temen aku berangkat dulu ya, kalian jaga diri baik-baik disini. Maafin aku juga kalo banyak salah sama kalian,” kataku sambil menangis.

“Hari ini sangat berat bagi kita Ris, rasanya sangat kehilangan akan dirimu. Maafkan kami juga kalo kita ada salah, kamu betah ya di kota, dan jangan pernah lupakan kami di sini,” kata Ririn sambil meneteskan air mata.

“Aku punya sesuatu untuk kalian, sebuah kenangan dariku, aku harap kalian dapat menjaganya baik-baik, dan semoga kalian juga tidak akan pernah melupakanku,”ujarku sedih.

Mereka pun berpelukan sebelum Tarissa masuk ke mobil.

“Yaudah aku pamit ya, sesampainnya di kota nanti aku pasti kasih kabar ke kalian,” pamitku.

“Hati-hati Tarissa, kami menyayangimu,” ujar Denaya dengan senyum yang diwarnai kesedihan.

Akhirnya Tarissa dan ibunya pamit masuk ke mobil, dan perlahan mobil itu melaju  meninggalkan desa. Ririn dan  Denaya hanya bisa menangis melihat kepergian Tarissa bersama ibunyaa.

----------

Sesampainya dikota, Tarissa tidak lupa memberi kabar kedua sahabatnya melalui pesan singkat di whatsapp. Sungguh lega hati kedua sahabatnya itu ketika menerima pesan dari Tarissa. Walaupun mereka berpisah dengan jarak yang jauh, mereka tidak pernah putus komunikasi walaupun hanya melalui handphone.

 SELESAI.

  Karya  : AYU KRIS SINTYA & IRMA YUNITA.

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.