Pedagang Kopi Alun-Alun Pacitan, Bertahan Saat Pandemi Covid 19.

 

PEWARTA_NUSANTARA || PACITAN, 13 Oktober 2020 - Pandemi Covid-19 banyak menyita perhatian warga Indonesia, salah satunya warga Pacitan. Hal ini sudah menjadi kecemasan bagi para pedagang karena sumber mata pencariannya terhambat. Tidak dapat dipungkiri bahwa, mayoritas warga Pacitan berprofesi sebagai petani dan pedagang. Salah satu orang yang merasakan dampak Covid-19 ini adalah Ny.Lestari (40) salah seorang pedagang di warung kopi Alun-alun, Kabupaten/Kota Pacitan. 

Keseharian Lestari yaitu mengurus rumah tangga saat siang hari, dan juga berjualan kopi, aneka minuman, bakaran sate tahu dan juga jadah bakar saat malam hari di warung kopi Alun-alun Pacitan.

"Alun-alun Pacitan yang selalu menjadi tujuan para wisatawan maupun warga lokal saat ini sudah sangat sepi pengunjung. Hal ini juga berdampak pada pedagang di Alun-alun Pacitan, tidak terkecuali warung kopi "Bu Lestari". Yang sebelumnya sangat ramai dikunjungi, baik untuk ngopi santai sambil berdiskusi ataupun nongkrong, kini sudah sangat sepi pelanggan,"tuturnya.

Walaupun sudah sepi pelanggan, warung kopi Alun-alun Pacitan tetap buka dengan pendapatan yang menurun drastis dari hari biasanya sebelum ada pandemi Covid-19. 

"Sejak pandemi langsung sepi, yang biasanya sebelum ada Covid-19 keuntungan yang saya peroleh Rp 200 ribu-Rp 300 ribu per hari, sekarang hanya berkisar Rp 50 ribu-Rp 100 ribu per hari. Apalagi kalau malam minggu yang biasanya warung sangat ramai, akan tetapi sekarang sudah sangat sepi," ungkap Lestari dalam wawancara Rabu (7/10/2020).

Pemerintah Kabupaten/Kota Pacitan telah menerapkan PSBB untuk mencegah virus corona. Akan tetapi, hal ini berdampak pada pendapat masyarakat. "Kondisi saat ini tidak ada jalan tengahnya. Saya yang merupakan masyarakat kelas menengah ke bawah ini merasa PSBB yang diterapkan pemerintah menghambat perekonomian saya. Sabar dan terus berusaha yang hanya bisa saya lakukan," ucap Ibu Lestari.

"Akibat corona, masyarakat lebih memilih membeli makanan online. Anak muda yang seringkali nongkrong juga beberapa kali dibubarkan oleh polisi, karena dirasa berkerumun akan menambah jumlah klaster di Kabupaten/Kota Pacitan. Semoga pemerintah secepat mungkin bisa mencari solusi yang lebih baik bagi kami masyarakat kecil dan harapan saya bisa cepat normal seperti kemarin-kemarin," harap Lestari kepada jurnalis.

Harapan  Lestari ini mewakili harapan semua pedagang kecil yang berada di Indonesia termasuk pedang kecil yang berada di Kabupaten/Kota  Pacitan. Pemerintah diharapkan segera untuk mencari alernatif solusi yang lebih bijak untuk menangani keluhan masyarakat. Karena bantuan sosial yang diberikan kepada masyarakat tidak merata, sehingga perekonomian semakin menurun tidak terbendung.

Masyarakat Kabupaten/Kota Pacitan juga diharap mampu membantu dalam mencegah dan meminimalisir tersebarnya Covid-19. Para pedagang juga harus tetap mematuhi protokol kesehatan, karena virus corona tidak dapat dilihat akan tetapi mematikan. Dampaknya tidak hanya mematikan perekonomian, akan tetapi juga mematikan manusia jika tidak menerapkan protokol kesehatan. (Riska/Fadhil/AHY)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.