RESESI MENGANCAM PETANI DI ERA PANDEMI COVID-19

 

PEWARTA_NUSANTARA || PACITAN - Pandemi yang sudah berlangsung selama kurang lebih 10 bulan di Indonesia, mengakibatkan banyak sektor mengalami krisis finansial. Bahkan bisa disebut sebagai resesi atau juga bisa disebut sebagai kelesuan dan menurunnya kegiatan dagang maupun industri.

Dampak pandemi covid˗19 ini dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat marginal atau biasa dikenal sebagai masyarakat yang menggantungkan hidup pada penghasilan pas-pasan atau bahkan bisa dikatakan kekurangan.

Kepada jurnalis Komariyanto (56) petani yang berasal dari Desa Losari, Kecamatan Tulakan, kabupaten Pacitan  ini juga mengungkapkan, pandemi ini sangat berdampak untuk semua lapisan masyarakat. Terutama masyarakat terdampak  bermata pencarian sebagai petani.  Minggu (11/10/2020).

Pada masa pandemi ini berlangsung, pemerintah juga menyediakan BLT atau Bantuan Langsung Tunai dan beragam bantuan lainnya. Baik itu bersyarat maupun tak bersyarat untuk masyarakat yang membutuhkan. Tetapi dalam pelaksanaannya banyak warga yang kekurangan dan masih belum terjamah.

"Bagi yang mendapatkan BLT cukup meringankan, karena dapat membantu menunjang kebutuhan. Bagi yang tidak mendapatkan BLT  seperti saya hanya bisa berpikiran mban cinde mban ciladan,” ungkapnya.

Pada keadaan normal sebelum pandemi menyerang, banyak masyarakat marginal yang sangat sulit mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan. Bahkan, untuk membuat dapur mereka tetap berasap saja harus kerja keras banting tulang.

"Pandemi ini sangat berdampak. Harga jual di pasaran sekarang juga ikut merosot. Dulu harga jual cengkeh bisa mencapai 100 ribu perkilonya. Namun, setelah adanya pandemi harga cengkeh anjlok sampai 40 ribu perkilonya. Tetapi bukan hanya cengkeh saja, hampir semua hasil pertanian mengalami penurunan harga jual, " jawab Komariyanto.

"Sejak wabah covid-19 menyerang dunia terutama Indonesia, hasil pertanian sangat diburu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun di pasaran hasil pertanian sangat dicari, kenyataannya berbeda dengan apa yang dirasakan oleh para petani di lapangan. Mereka bahkan merugi hanya demi memenuhi permintaan konsumen, "ujarnya.

Komariyanto juga  berujar bahwa, mayoritas dari mereka tetap melanjutkan pekerjaan yang telah mereka geluti selama bertahun-tahun itu. Mereka bukannya tidak peduli dengan harga yang anjlok dan tetap bekerja dalam situasi yang tidak kondusif seperti ini. Hanya demi memenuhi tuntutan dan  kebutuhan rumah tangga. (Puput/Dewi Evida/AHY)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.