Terganggunya Distribusi Hasil Panen Singkong Akibat Covid-19

 

PEWARTA_NUSANTARA || PACITAN - Di tengah pandemi Covid-19 saat ini suplai pasokan pangan harus selalu ada. Berbagai kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah tampaknya tidak berlaku bagi petani. Petani tetap berjuang sebagai garda terdepan dalam menyediakan pangan nasional, para petani mau tidak mau harus pergi ke kebun dan sawah. Padahal sebagian besar penduduk yang bekerja di sektor pertanian berusia lanjut, akibat minimnya regenerasi petani muda di Indonesia. 

Sehat jasmani dan sejahtera menjadi kunci agar ketahanan pangan tetap terjaga. Setiap tahun selalu mengimpikan panen raya yang menjadi peluang emas agar terlepas dari jeritan kemiskinan. Namun impian tersebut sirna akibat pandemi Covid-19. Hal itu dikarenakan terganggunya proses distribusi hasil produksi ditambah menurunnya permintaan  seperti warung atau pasar. 

Menurut Sugiyo (46) petani yang berasal dari RT 40 RW 19 Dusun Ngrumpon, Desa Karangmulyo Kecamatan Sudimoro Kabupaten Pacitan, menuturkan bahwa dengan adanya pandemi Covid-19 ini membuat banyak petani merugi karena penghasilan yang didapat tidak seperti biasanya.

“Sebelum adanya pandemi, singkong hasil panen ketela atau singkong dapat terjual dengan laris di pasaran tetapi setelah adanya pandemi ini penghasilan menurun, pembelinya juga berkurang” kata Sugiyo petani Desa Karangmulyo, Senin (12/10/2020).

Para petani tidak putus asa, mereka tetap berusaha agar menghasilkan singkong yang berkualitas yang nantinya bisa dijual di pasaran. Walaupun penghasilan tidak sebanyak sebelum pandemi tidak menurunkan semangat petani dalam menanam singkong. Singkong dapat dipanen dalam waktu 7 bulan sampai 3 tahun, terkadang juga terdapat hama yang merusak tanaman singkong, jenis hamanya salah satunya tikus.

“Singkong saat sebelum pandemi bisa terjual dengan harga empat ribu rupiah per kilogramnya, tetapi setelah adanya pandemi ini menurun menjadi dua ribu rupiah per kilogram. Singkong dapat dipanen dalam waktu 7 bulan sampai 3 tahun. Terkadang banyak hama yang menyerang tanaman singkong sehingga tanaman singkong menjadi rusak” ujar Sugiyo.

Sugiyo memilih tanaman singkong karena bisa dibuat makanan apa saja, ia biasanya menjual singkong ke pasar dan dimakan sendiri. Dengan adanya pandemi Covid-19 ini membuat banyak keluhan yang dirasakan para petani. Mereka harus tetap bertahan hidup dengan hanya mengandalkan apa yang ditanamnya lalu dijual. Para petani juga sudah mendapatkan bantuan sembako dari Pemerintah, sehingga membuat petani sedikit lebih lega dan bersyukur.

“Saya memilih tanaman singkong untuk ditanam karena bisa dibuat makanan apa saja misalnya bisa dibuat menjadi kolong, tape dan banyak kegunaan singkong lainnya. Saya juga mengeluhkan dengan adanya pandemi ini mau kemana-mana tidak bebas, tidak boleh berkerumun, sedangkan saya juga harus keluar untuk menjual hasil panen, ditambah lagi penghasilan juga menurun” jawab Sugiyo.

Secercah banyak harapan yang diimpikan para petani agar sektor pertanian bisa berjalan dengan lancar. Mereka hanya seorang petani yang harus menanggung keluarganya agar tetap bisa bertahan. Dengan harapan pandemi ini segera berakhir, hasil panennya melimpah ruah, dan penghasilannya bisa meningkat kembali. Mereka juga berharap agar Pemerintah memperhatikan para petani dan mau membantu modal untuk para petani demi kesejahteraan bersama. (Anggi E.R/ Uun A.P/AHY)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.