Magenta di Langit Kota; Oleh Ria Maharani



 MAGENTA DI LANGIT KOTA

Oleh; Ria Maharani

Mata sembab, hidung merah, dan rambut acak-acakan, begitulah keadaan Maya pagi ini. “Besok kamu akan pindah, kemasi barang-barangmu.” Itulah kalimat yang membuat Maya tidak bisa tidur semalaman. Bagaimana ia bisa meninggalkan kota yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama 18 tahun. Pindah ke kota yang belum pernah Maya singgahi sebelumnya, kota yang indah namun terpencil. Tidak, ibukota terlalu nyaman untuk Maya tinggalkan.

"Sayang, ayo bangun.” Kalimat itu selalu berhasil membangunkan Maya di pagi hari.

 "Bundaaa” Ucap Maya dengan jejak air mata yang masih tertinggal di pipi mulusnya. Indah segera memeluk Maya, seakan tahu apa yang dirasakan putrinya itu.

 "Disana asik kok, Maya pasti betah.” Rayu Bunda.

“Tapi disana Maya sendirian Bun.” Maya terus saja merengek.

“Disanakan ada Lisa dan Bulik Rini.” Ucap Bunda mencoba membujuk Maya.

“Maya mandi, kita akan berangkat satu jam lagi.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Bunda lalu meninggalkan Maya  yang masih di atas tempat tidur.

 Satu bulan yang lalu.

 Acara purnawiyata siswa kelas 12 SMA Pelita Bangsa  digelar dengan sangat meriah. Para murid dan orang tua sangat berbahagia mengikuti acara itu. Namun tidak dengan Maya Dinar Anandhita, sesak di dadanya sudah tidak dapat tertahan lagi. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos juga ketika namanya tidak terpanggil sebagai siswa dengan nilai ujian nasional tertinggi di SMA Pelita Bangsa. Beasiswa kuliah ke negeri sakura yang sangat ia dambakan, kini harus ia kubur dalam-dalam.

Suasana di dalam mobil terasa begitu berbeda. Maya yang biasanya tidak bisa diam saat mengobrol dengan sang bunda, kini hanya tertunduk lesu.

“Ayah akan menitipkan kamu sama Bulik Rini dan kuliah disana.” Ucap Damar, ayah Maya.“Tapi Yah, Maya mau di Jakarta saja. Maya tidak kuliah tidak masalah kok, asal tidak jauh sama Ayah dan Bunda” Ucap Maya lirih.

 “Ayah tidak menerima penolakan.” Ucap Damar.

“Oh iya, jangan lupa kamu putuskan pacarmu itu, Ayah tidak suka.”

 Lanjutnya.

Maya memilih tidak menanggapi ucapan ayahnya. Hatinya sudah terlanjur hancur, cita-cita yang ia impikan untuk kuliah di Jepang gagal dan laki-laki yang ia cintai harus secepatnya ia putuskan.

Sebenarnya alasan utama Maya harus pindah keluar kota adalah karena ekonomi Keluarga Damar sedang sulit. Damar dirumahkan oleh bank tempat ia bekerja. Sedangkan Indah, Bunda Maya hanya seorang ibu rumah tangga. Maya mempunyai dua adik laki-laki yang masih kecil. Galuh Arsya Dewantara,  adik pertama Kinan kini sedang duduk di kelas 4 sd, sedangkan Auzan Fatah Narendra  masih kelas 1 sd. Damar tidak bisa melihat putrinya itu tidak melanjutkan pendidikan, tetapi biaya kuliah di Jakarta sangat mahal. Akhirnya, dengan amat terpaksa Damar harus menitipkan putri sulungnya itu kepada adik perempuannya di kota yang jauh dengan Jakarta.

Terbang dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta selama 1 jam 10 menit dan dilanjut dengan menaiki travel bus dari Yogyakarta ke Pacitan, membuat badan Maya pegal-pegal. Tidur, itulah yang Maya butuhkan saat ini.

Sinar mentari pagi di kota yang berbeda. Pacitan, itulah kota tempat tinggal Maya saat ini. Kota yang jauh berbeda dengan ibukota. Tidak sepanas dan seramai ibukota.

“Kak, ayo kita sarapan bareng. Aku, Bunda, Ayah, sama Fatah mau pulang hari ini.” Ucap Arsya di depan pintu kamar.

“Iya Ar.” Jawab Maya lesu.

Koper besar sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Sedangkan Maya sedari tadi hanya melamun, entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Kak. Ayah percayakan kamu kepada Bulik Rini, jaga kepercayaan Ayah. Kamu jangan membantah Bulik Rini.” Ucap Ayah dengan nada lembut, tidak seperti biasanya.

“Iya Yah.” Jawabku sembari memeluk ayah.

Bunda, Arsya, dan Fatah juga ikut kedalam pelukan hangat yang pasti akan sangat Maya rindukan.

***

Pagi-pagi sekali Maya dan Bulik Rini sudah sampai di pasar. Lumayan ramai, walaupun tidak seramai dengan pasar yang biasa Maya dan Bunda datangi di Jakarta.

“Mana Bulik biar aku yang bawa tas belanjannya.” Pinta Maya.

“Ini nduk. Makasih ya.” Bulik Rini menyerahkan tas belanja yang sudah terisi  dengan beberapa sayur kepada Maya.

Pulang dari pasar, Maya dan Bulik Rini menaiki becak. Jujur, inilah kali pertama Maya menaiki angkutan tradisional ini.

“Nduk, ayahmu sudah mendaftarkan kamu kuliah di situ.” Tunjuk Bulik Rini ke sebuah gedung bertingkat di sebelah kiri jalan.

“Bulik tahu kalau kamu tidak ingin kuliah disini, tapi ini keinginan ayahmu, insyaallah ini yang terbaik untuk kamu nduk. Jangan kecewakan orang tuamu.” Sambung Bulik Rini.

Diam, itulah yang Maya lakukan setelah perbincangan tentang kuliah dengan Bulik Rini sepulang dari pasar tadi. Ia tidak ingin kuliah disini, dengan kuliah maka Maya akan membutuhkan waktu minimal 4 tahun di kota yang sangat asing baginya. Apa mungkin semuanya bisa berjalan sesuai rencana?

Sudah genap dua minggu seorang Maya Dinar tinggal di kota dengan julukan kota 1001 goa ini. Tak ada yang ia lakukan selain di rumah. Sekali pun keluar rumah, itu hanya pergi ke pasar dengan Bulik Rini atau ke mini market. Tidak ada yang menarik. Itulah yang ada di otak Maya.

“Mbak Maya, where are youuuuu?” Suara heboh itu adalah suara Lisa, anak semata wayang Bulik Rini.

“Berisik Lis, sakit nih telinga” protes Maya.

“Mbak, aku ajarin pakai bahasa Jawa ya. Biar gampang gitu kalau ngomong disini.” Ucap Lisa.

“Nggak usah Lis, aku pakai bahasa Indonesia orang-orang juga paham kok.” Tolak Maya.           

“Karepmu.” (terserah) Jawab Lisa kesal.

“Kamu hari Senin kok nggak sekolah. Bolos ya?” Tanya Maya penuh selidik.

“Hari ini itu libur tau.” Jawab Lisa sewot. Sedangkan Maya hanya ber-oh ria.

“Mbak, kita jalan-jalan yuk. Disini banyak pantai loh.” Ucap Lisa dengan antusias.

“Enggak ah, udah sore juga.” Jawaban Maya itu membuat Lisa kecewa. Ekspresi menyedihkan dari anak kelas 12 ini berhasil membuat Maya tidak tega.

 Ya udah ayo. Tapi jangan lama-lama ya.” 

Ucapan Maya itu membuat Lisa melompat kegirangan.

“Siap kakak.” Ucap Lisa sambil mengacungkan jari jempolnya. Ia lalu pergi untuk bersiap-siap.

Maya hanya menggunakan hodie over size berwarna merah muda dipadukan dengan celana jeans dan hijab berwarna hitam tanpa motif. Maya memang tidak terlalu memperhatikan style yang ia gunakan, prisipnya adalah yang penting nyaman.

     

Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit akhirnya Maya dan Lisa sudah  sampai. Aroma laut menyeruak ke indra penyiuman. Sudah lama Maya tidak pergi ke pantai. Terakhir pergi ke pantai 1 tahun lalu saat acara SMA.

 Pantai Teleng Ria, itulah pantai yang sedang dikunjungi Maya dan Lisa saat ini. 

Pantai indah dengan laut berwarna biru cerah, ditambah dengan hamparan pasir putih, dan ombak yang tidak terlalu besar.

“Mbak May makan yuk.” Ucap Lisa yang baru saja selesai memarkirkan motornya.

“Mbak belum lapar, kamu makan sendiri sana.” Jawab Maya geram dengan saudara sepupunya itu. Baru saja sampai, sudah minta makan.

“Ayolah udah lapar banget ini, kalau maag aku kambuh gimana.” Bujuk Lisa dengan puppy eyes andalannya yang lagi-lagi membuat Maya tidak tega. Bagaimana bisa ada remaja umur 17 tahun masih kekanak-kanakan seperti ini.

Setelah berkeliling mencari tempat makan yang sekaligus bisa menjadi spot untuk menikmati senja, akhirnya mereka memilih satu tempat makan di ujung pantai. Lisa langsung memesan nasi goreng seafood dan jus jeruk sedangkan Maya hanya memesan jus alpukat.

“Gila, sunsetnya keren banget.” Ucap Lisa dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.

Dulu Maya sering sekali menikmati hangatnya senja bersama Raka, kekasihnya yang belum ia kabari selama 2 minggu ini. Sungguh sulit bagi Maya untuk memenuhi permintaan sang ayah agar mengakhiri hubungannya dengan Raka.

 

Senja sedang Merindu

 

Teramat kejam langit sore ini

Hangatnya membuatku semakin sakit

Apa disana juga sama

Atau hanya aku seorang diri yang merasakannya

 Teramat miris kisah kita

Burung pun enggan menikmati senja

Inikah akhir dari perjuangan dan rasa cinta

Seperti laut yang menenggelamkan sang senja

 

Kenangan yang engkau torehkan begitu dalam

Sehingga sulit bagiku untuk mengucapkan kata pisah

Bisakah aku terus melangkah ke depan

Sedangkan rasa cinta ini adalah sebuah kesepakatan

 

 

Tulisan Maya itu menjelaskan segala kegundahan dihatinya. Masih beribu kata yang ingin ia tulis. Namun, kedatangan seorang pelayan merusak semuanya.

“Ini Mbak satu nasi goreng seafood, jus jeruk, dan jus alpukat.” Kata pelayan itu dengan sopan.

 “Iya.” Singkat dan padat itulah jawaban yang dilontarkan Maya.

5 detik berlalu.

 

“Tunggu.” Panggil Maya sedikit keras yang membuat pelayan tampan itu menghentikan langkahnya.

“Iya Mbak.” Jawab si pelayan.

“Apa kamu melihat ponsel saya? Tadi saya taruh di meja sini.” Tanya Maya.

“Maaf mbak saya tidak melihat ada ponsel di atas meja.” Jawab pelayan itu.

“Apa saya bisa mempercayai ucapanmu?” Tanya Maya lagi, seakan meragukan ucapan si pelayan.

 

“Sungguh saya tidak melihatnya. Bukannya tadi anda datang bersama seorang teman?” Ucap pelayan itu.

Melihat adanya sedikit keributan, Lisa yang sedari tadi sibuk bersua foto langsung menghampiri sepupunya.

  ***

Hari ini adalah hari pertama Maya masuk kuliah setelah masa ospek berakhir satu minggu lalu. Semangat untuk menuntut ilmu masih belum ia miliki. Tidak ada teman apalagi sahabat, bahkan kenalan pun ia tidak punya. Sekarang Maya harus berkeliling sendirian untuk mencari kelasnya. Setelah menaiki puluhan anak tangga akhirnya ia menemukan ruangan yang sedari tadi membuatnya kebingungan.

 Suasana kelas sudah ramai, karena memang 5 menit lagi kelas akan segera dimulai. Mencari diseluruh penjuru kelas, namun nihil. Tidak ada satu bangku pun yang tersisa. Sial, kelas Maya berada di lantai tiga dan tidak ada lift di kampus ini.

Setelah bertanya kepada beberapa orang, akhirnya Maya berhasil menemukan gudang yang berisi puluhan bangku di dalamnya.

“Ini gimana caranya ngambil kalau ditumpuk gini.” Gumam Maya sambil melihat tumpukan bangku yang ada di depannya.

Berjinjit dan mulai meraih bangku ditumpukan paling atas. Namun nasib sial kembali berpihak kepada Maya, tumpukan bangku-bangku itu tidak tersusun dengan kuat hingga hampir menimpa tubuh Maya. 1 detik, 2 detik, 3 detik.

“Kok nggak ada?” Ucap Maya yang masih menutup mata dengan kedua telapak tangannya di atas kepala.

Eheemmm. Deheman itu sontak membuat Maya membuka mata. Sepasang tangan menahan tumpukan bangku yang hendak menimpa Maya. Maya langsung beranjak agar si pemuda itu bisa membenarkan posisi bangku-bangku yang hampir roboh tadi.

“Ini bangkunya.” Ucap pemuda itu. Maya langsung membawanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Senyum tipis terlihat dari wajah si pemuda..        

Tiga minggu telah berlalu dan belum ada teman yang dimiliki Maya. Rindu kepada ibukota terus saja menyiksanya. Ia sangat jarang mendengarkan penjelasan dari dosen. “Tugas kelompok dikumpulkan paling lambat 2 minggu.” Itulah kalimat yang Maya tangkap dari kelas hari ini. Entah siapa anggota kelompoknya ia tidak tahu.

Tidur dari selepas pulang kuliah hingga sekarang pukul 4 sore membuat beban pikiran Maya sedikit berkurang. Diambilnya benda pipih di atas meja samping tempat tidur. Rentetan pesan dari aplikasi whatsapp memenuhi layar ponsel yang baru saja Maya nyalakan. Setelah membalas pesan dari sang bunda, ia lalu membuka sebuah pesan dari nomor tak dikenal. “Besok saya tunggu di alun-alun kota jam 9 untuk membicarakan tugas kelompok. Jendra Ramadhan.

 Itulah isi pesan singkat yang Maya baca. Suasana hatinya kembali memburuk, hari Jumat yang seharusnya dihabiskan untuk bermalas-malasan karena tidak ada kuliah, malah harus digunakan untuk mengerjakan tugas kelompok.

 Pukul 09.00 tepat Maya sudah berada di alun-alun kota. 10 menit berlalu dan belum ada seorang pun yang menghampiri Maya. Akhirnya Maya memilih untuk ke pinggir air mancur.

“Apa kamu tidak takut kesurupan karena terlalu sering melamun.” Suara itu membuat Maya sedikit terkejut.

“Kita sudah sering bertemu tapi belum sempat berkenalan. Saya Jendra, rekan satu kelompokmu.” Sambung laki-laki muda itu.

“Maya.” Ucap Maya sambil menjawab uluran tangan pemuda bernama Jendra itu. Mereka lalu mencari tempat duduk dan membahas tugas kelompok

“Oke, lansung saja ke tugas kelompok. Tadi sudah dibagi dan tugas kita adalah membuat artikel tentang beberapa tempat wisata di Pacitan.” Jelas Jendra.  Sedangkan Maya hanya mengangguk-anggukan kepala karena mulutnya seakan beku untuk mengucapkan sepatah kata.

Siapa sangka jika Jendra adalah pelayan restoran yang Maya tuduh telah mengambil ponselnya satu bulan lalu, dan ternyata ponselnya dipinjam oleh Lisa untuk berfoto. Saat Lisa meminta izin untuk meminjam ponselnya, ia tidak mendengar karena terlau fokus menulis. Setelah mengetahui hal itu Maya langsung pergi meninggalkan tempat makan itu tanpa mengucapkan kalimat maaf kepada Jendra. Selain kejadian memalukan itu, Maya juga sudah berhutang budi kepada Jendra. Jendra lah dewa penolong yang telah menyelamatkan Maya dari insiden tertimpa tumpukan bangku di gudang kampus.

“Emm, gimana kalau weekend ini kita gunakan untuk pergi ke tempat-tempat wisata sebagai bahan dari artikel yang akan kita buat?” Ajak Jendra.

“Oke, setuju” Jawab Maya. Setelah mencari referensi di internet tentang tempat-tempat keren di Pacitan,  akhirnya mereka memilih dua tempat yang akan mereka datangi.

Kemeja polos berwarna putih dipadukan dengan celana jeans dan jilbab berwarna abu sangat sesuai ditubuh Maya. Ditambah dengan polesan make up tipis membuat Maya terlihat makin cantik.

“Cie yang mau kencan, cantik bener.” Goda Lisa yang sedang bermain ponsel sambil tiduran di sofa ruang tamu. Maya dengan sengaja melempar bantal sofa dan tepat mengenai wajah Lisa.

“Aduh, sakit tau.” Protes Lisa, walapun sebenarnya tidak sakit sama sekali.

  Tiinnn. Terdengar suara klakson motor dari luar rumah.

“Tuh, doinya udah dateng.” Goda Lisa lagi, yang dihadiahi tatapan ingin menerkam dari Maya.

“Yaudah aku berangkat dulu.” Pamit Maya, karena jika terlalu lama bersama Lisa maka saudara sepupunya itu akan terus menggodanya.

“Oke say. Jangan lupa ngopi.” Ucap Lisa ngawur.

“Karepmu.” (terserah) Jawab Maya geram. Lalu pergi meninggalkan Lisa.Ternyata benar   dugaan Maya, suara klakson tadi berasal dari motor Jendra.

Tempat yang akan didatangi oleh Maya dan Jendra yang pertama adalah Pantai Klayar. Pantai yang terkenal dengan seruling samuderanya ini terletak di Kecamatan Pringkuku. Perjalanan menuju Pantai Klayar dari pusat kota membutuhkan waktu kurang lebih 60 menit.

  “Ayo.” Ajak Jendra kepada Maya.

“Kita keliling dan mengambil beberapa foto.” Lanjut Jendra yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Maya.

Suasana di Pantai Klayar tidak kalah eksotis dengan Pantai Teleng Ria. Laut berwana biru dan hamparan pasir putih yang sangat luas membuat siapa saja betah berada di pantai ini jadi tidak heran jika pantai ini tidak pernah sepi pengunjung.

“Eh May, tunggu sebentar.” Ucap Jendra yang berhenti di depan ruko sambil memegang sebuah kain dengan motif unik.

  “Kamu tau nggak ini motif apa?” Tanya Jendra.

“Emmm. Anggur.” Jawaban Maya tersebut membuat Jendra terkekeh geli.

“Ini itu motif mengkudu atau pace dan yang aku pegang ini adalah batik pace, batik khas Kota Pacitan. Nah, menurut sejarah nama Pacitan diambil dari nama buah  ini.” Jelas Jendra, lalu mereka pun melanjutkan perjalanannya.

Matahari yang begitu terik menyebabkan Maya sedikit kelelahan. Sebotol air mineral sudah habis ditenggaknya.

“Naik atv yuk.” Ajak Jendra yang tidak tega melihat Maya yang sudah tampak kelelahan.

  “Ha?” Tanya Maya meminta kejelasan.

“Pak. Sewa satu ya.” Ucap Jendra kepada laki-laki yang sedang berdiri di samping motor beroda empat yang hendak Jendra sewa. Akhirnya Maya dan Jendra mengelilingi Pantai Klayar dengan menggunakan atv. Setelah dirasa bahan artikelnya sudah cukup, Maya memilih untuk langsung pulang, meski Jendra sudah mengajaknya untuk makan siang terlebih dulu. Untuk ke tempat wisata yang kedua, mereka melanjutkannya esok hari karena Jendra harus bekerja siang ini.

Hari kedua pembuatan artikel. Maya dan Jendra berangkat siang hari karena saat hari Minggu Jendra bekerja shift pagi. Tempat kedua yang mereka kunjungi setelah Pantai Klayar adalah Sungai Maron.

“Kita naik perahu kecil ini?” Tanya Maya sedikit gugup, karena ia belum pernah menaiki perahu sebelumnya.

“Iya. Aman kok.” Jawab Jendra.

Mereka pun menyusuri Sungai Maron dengan perahu dan didampingi oleh seorang bapak-bapak.

Pemandangan yang baru bagi Maya, air berwarna biru kehijauan dengan pohon-pohon kelapa di bibir sungai dan semilir angin segar, membuat hati Maya sangat damai. Namun sayang, kedamaian itu tidak bertahan lama ketika Maya membuka halaman aplikasi instagram dan melihat sebuah postingan gambar sepasang kekasih baru yang sedang tertawa bahagia. Raka sudah memiliki kekasih baru meski hubungannya dengan Maya belum resmi berakhir.

 “Dasar buaya.” Umpat Maya.

“HA” Ucap Jendra dan si bapak secara bersamaan. Tak sengaja Jendra melirik ke ponsel Maya dan ia paham maksud dari ucapan Maya tadi.

“Eh May coba tebak. Buaya-buaya apa yang bikin miskin?” Jendra mencoba menghibur Maya dengan memberinya tebak-tebakkan.

“Nggak tau.” Jawab Maya dengan nada kesal.

“Beneran nggak tahu nih? Jawabannya tuh buayarin belanjaan Syahrini.” Tebak-tebakan receh Jendra tadi membuat Maya sedikit tersenyum.

“Nek mesem ngono kan ayu.” (Kalau senyum begitu kan cantik) Ucap Jendra.

“Apaan?” Tanya Maya yang tidak paham dengan ucapan Jendra.

“Nih nyamuk gigitin aku terus. Emang gini nih derita orang ganteng, nyamuk aja pada ngerumunin.” Elak Jendra sambil terkekeh. Sedangkan Maya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dari pemuda di sampingnya itu.

Sang surya sudah hendak berpulang dan berganti tugas dengan bintang dan bulan, tetapi Jendra malah mengajak Maya pergi entah kemana.

“Ini kita mau kemana sih? Udah sore tahu.” Ucap Maya yang tidak tahu akan dibawa ke mana oleh Jendra.

Tahu kok, aku mau lihat sunset di Pantai Watu Karung.” Ucap Jendra yang mulai menghentikan laju motornya.

“Aku nggak mau. Kita pulang aja.” Tolak Maya.

“Kenapa? Takut inget pacar? Dengerin ya May, cara paling ampuh buat melupakan seseorang itu adalah dengan mengganti kenangan bersama dia dulu dengan orang baru.” Tips move on dari seorang Jendra Ramadhan.

Setelah ada berdebatan kecil, akhirnya Maya mau menuruti ajakan Jendra untuk menikmati langit sore di Pantai Watu Karung yang tempatnya tidak terlalu jauh dari Sungai Maron tadi. Mereka memilih duduk di atas pasir, diiringi musik alam dari deburan ombak. Warna jingga mulai terlihat di langit kota Pacitan ini.

Sesak di hati Maya masih amat terasa. Kekasih yang telah menjalin asmara bersamanya selama 3 tahun di SMA, kini menghianati cinta tulusnya. Tembok pertahanan yang Maya bangun sejak tadi akhirnya runtuh juga. Air matanya mulai berjatuhan. Jendra yang menyadari hal itu hanya diam dan membiarkan Maya meluapkan semua emosinya.

“Kenapa aku harus pindah ke kota ini.” Ucap Maya dengan suara serak sambil memeluk kedua lututnya.

“May, coba lihat langit di depanmu.” Ucap Jendra dan Maya pun mendongak mengikutinya.

“Disana ada warna apa aja?” Tanya Jendra kepada Maya.

“Jingga.” Jawab Maya dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Lagi.” Ucap Jendra.

“Biru.” Jawab Maya masih dengan suara lirih.

“Selain itu?” Tanya Jendra lagi. Maya yang tidak tahu hanya menggelengkan kepalanya.

“Diantara warna jingga dan biru ada satu warna lagi May yaitu magenta, memang kecil bahkan sebagian orang tidak menyadari keberadaanya. Namun, tanpa kehadiran magenta, senja akan terasa kurang berwarna. Sesuatu yang kecil bukan berarti tidak berharga May.” Jendra berhenti sejenak lalu melanjutkan ucapannya lagi.

“Begitu juga dengan kota yang kamu tinggali saat ini. Memang bukan kota yang besar tapi bukan berarti kota ini buruk untuk kamu. Aku yakin kamu akan nyaman tinggal disini.” Lanjut Jendra.

“Caranya?” Tanya Maya.

“Akan ada seseorang yang membuatmu nyaman tinggal disini.” Ucapan ambigu Jendra itu, entah mengapa membuat hati Maya menjadi sedikit lebih tenang.

Hubungan antara Maya dan Jendra tidak berhenti sampai tugas artikel itu saja. Jendra telah berhasil membuka hati Maya. Sekarang Maya sudah memiliki banyak teman di kampus dan juga di luar kampus dan semua itu berkat Jendra Ramadhan.

 

*SELESAI*

                  

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.