Aditiya Daffa Al Haqi Merajut Mimpi (Alm) Bapaknya Untuk Jadi Pemain Timnas

 

PEWARTA_NUSANTARA || JAKARTA - Aditiya Daffa Al Haqi merasa bersyukur kembali dipanggil oleh pelatih Bima Sakti pada pemusatan latihan (TC) Tim Nasional U-16. Pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini tak berhenti memanjatkan puji syukur, karena hingga saat ini dirinya masih diberikan kesempatan untuk bergabung bersama ke-25 pemain lain pada pemusatan latihan Timnas U-16 bulan November.

Pemain kelahiran 11 Januari 2004 ini memang kerap dipanggil masuk skuat Garuda Asia sejak penyelenggaraan seleksi pemain pada tahun 2019 lalu. Bahkan pemain yang akrab disapa Tile ini menjadi satu dari 23 pemain yang dibawa oleh pelatih Bima Sakti pada gelaran Piala AFF U-16, Chonburi, Thailand.

“Saat itu saya merasa kaget, bahkan sampai hari ini pun tidak menyangka bisa masuk Tim Nasional U-16. Apalagi saya dan teman-teman dilatih oleh sosok pelatih Bima Sakti. Masih ingat saat itu semua berawal ketika saya ikut seleksi tahap kedua pada 13 Mei 2019. Saat seleksi pertama, yang dipanggil hanya Alex (Alexandro Felix), teman satu tim di klub dan sejak itu punya keinginan juga untuk masuk Timnas. Alhamdulillah bisa tercapai” ungkap Tile.

Pemain yang mengidolakan sosok pelatih BIma Sakti ini pun mengungkapkan bakat dan minat sepakbolanya sudah mulai muncul sejak usia 8 tahun. Tile yang kini telah menginjak usia 16 tahun pun merasa bangga karena bisa mewujudkan mimpi almarhum sang ayah yang ingin dirinya bermain untuk tim nasional dan membela lambang Garuda.

“Dulu waktu usia 10 tahun saya pernah diajak sama (alm) bapak ke stadion GBK. (Alm) Bapak pernah bilang, suatu saat nanti kamu pasti akan masuk timnas. Mungkin sekarang kamu hanya bisa nonton, tapi suatu saat nanti kamu akan main di sini dan ditonton banyak orang” lanjutnya

“Sayangnya bapak tidak sempat lihat saya masuk timnas. Tahun 2016, setelah ashar, bapak berpulang ke hadapan Allah SWT, persis di depan saya saat mau pamit latihan. Persisnya, saat mau salim ke bapak, trus tiba-tiba bapak susah bernapas, saya lari untuk manggil ibu, tapi bapak akhirnya berpulang. Itu 2 minggu sebelum saya berangkat ke China untuk ajang Gothia Cup,” tambahnya.

Sosok ayah bagi Tile memang sangatlah penting. Almarhum ayahnya yang memperkenalkan dunia sepakbola sejak dirinya masih kecil.    

“Saat umur 8 tahun saya sudah sering diajak sama (alm) bapak untuk ikut sekolah sepakbola (ssb) deket rumah. Tapi karena untuk usia 8 tahun belum ada, saya ikut latihan bersama kelompok usia 10 tahun. Awalnya ssb Panser di Ciputat, lalu pindah ke SSB Astam umur 11 tahun. Mulai ikut liga, dan mungkin dari situ kepantaunya juga,”ungkap Tile

Perjuangan Tile bermain si kulit bundar kala masih berlatih di ssb hingga sekarang membela Tim Nasional pun tak lepas dari cerita masa kecilnya. Tile kecil yang sudah diperkenalkan dengan dunia sepakbola oleh sang ayah bahkan tak memiliki sepatu khusus sepakbola untuk berlatih 8 tahun silam.

“Usia saya masih 8 tahun waktu itu dan saat latihan di ssb, saya tidak punya sepatu. Bahkan pertama kali latihan, saya memakai sepatu yang sama untuk sekolah. Melihat anak-anak lain sudah pakai sepatu bola yang layak, rasanya ingin juga tetapi belum bisa beli saat itu. Itu yang tidak bisa saya lupa” lanjut Tile.

Semua perjuangan ketika belum berseragam Timnas menjadi penyemangat Tile dalam mengemban tugas membawa lambang Garuda di dada. Menjadi pemain yang beberapa kali masuk pemusatan latihan sejak tahun lalu ini, membuat dirinya termotivasi lebih untuk selalu fokus dan disiplin saat latihan maupun pertandingan.

“Yang paling memotivasi saya adalah almarhum bapak, karena inget sekali dulu bapak sering mengantar saya latihan dengan sepeda motor, meski harus menempuh jarak tempuh yang jauh, contohnya Jakarta ke Bogor. Sekarang sedih bapak sudah tidak ada, tapi saya lega karena setidaknya walaupun bapak tidak ada tapi harapan almarhum tercapai. Saya akan selalu bersungguh-sunguh agar selalu dipilih dan membela timnas” ungkapnya.

Ada satu momen yang diungkapkan pemain yang kerap menggunakan nomor punggung 18 ini. Momen tersebut tak lain saat Timnas U-16 berhasil mengunci satu tiket ke ajang Piala Asia U-16 2020 yang rencananya akan digelar tahun depan.

“Rasa kekeluargaan di Timnas U-16 sangat kental terasa dan banyak momen yang sudah kami lalui bersama sebagai keluarga. Momen yang paling diingat ialah saat pertandingan kualifikasi Piala Asia U-16 di GBK. Rasanya sedih campur senang, karena kami pikir tidak akan lolos. Tetapi kenyataanya kami masuk putaran final setelah menjadi runner up terbaik. Rasanya campur aduk, senang karena pertama kali injak rumput GBK, senang bisa lolos, namun sedih karena (alm) bapak tidak melihat saya main di sini” tutup Tile.(pssi.org)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.