Membangun Generasi Zilenial Penggerak Bangkitnya Kebudayaan di Kota Pacitan


Oleh: Riska Anggraini (*)

Perubahan zaman saat ini melahirkan generasi baru yang dikenal dengan julukan generasi Z, yang sering disalahpahami dengan sebutan generasi milenial (padahal generasi milenial adalah generasi Y). Kelahiran generasi Z memiliki tantangan baru dalam menyambut Revolusi Industri 4.0 dan kesempatan generasi Z untuk memperoleh bonus demografi tahun 2030. Generasi Z biasanya didefinisikan sebagai anak-anak yang lahir antara tahun 1995 hingga awal 2000-an, yang ditandai perubahan sikap terhadap penggunaan teknologi atau era digitalisasi dibandingkan generasi sebelumnya (generasi Y atau generasi milenial).  Regenerasi yang terjadi secara alami membuat terjadinya pergantian pada aturan-aturan, sikap, dan gaya hidup dari masing-masing generasi itu sendiri. (1)

“Kebudayaan” berasal dari kata sansekerta buddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal, sehingga menurut kebudayaan dapat diartikan sebagai hal- hal yang bersangkutan dengan budi dan akal, ada juga yang berpendapat sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi- daya yang artinya daya dari budi atau kekuatan dari akal. Menurut Koentjaraningrat unsur kebudayaan adalah sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. (2)

Seorang ahli bernama Ralph Linton yang memberikan definisi kebudayaan yang berbeda dengan perngertian kebudayaan dalam kehidupan sehari- hari : “kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan". (3)

Indonesia adalah negara yang kaya dengan ragam budaya, suku, etnis dan keragaman ini yang membentuk luhurnya nilai budaya yang sangat membanggakan. Pola kehidupan modern mulai menunjukan perkembangan ke arah masyarakat yang bersikap individualis, konsumtif dan materialistis, terlihat semakin pudar nilai-nilai gotong royong, bahkan masyarakat menunjukkan sikap sekuler. Terdapat kesamaan dengan generasi yang digambarkan berkarakter positif, kreatif dan inovatif, namun memiliki ciri negatif seperti materialistis, konsumtif, hedonis dan lebih bangga atau merasa bergengsi apabila dapat menampilkan atau meniru gaya budaya bangsa lain dengan gaya dan pola hidup yang bebas dibandingkan dengan budaya sendiri. Kebudayaan lokal (daerah) di Indonesia yang sangat beranekaragam juga terbukti selaras dengan nilai Pancasila, hal ini yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. (4)

Budaya merupakan suatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang dan menjadi salah satu kebiasaan yang akan dilakukan terus-menerus. Budaya bisa dikatakan sebagai sesuatu yang berkembang dan dilakukan oleh masyarakat ataupun kelompok tertentu dan diwariskan kepada generasi ke generasi. Kota Pacitan dengan segala kearifan lokal serta kebudayaan yang harus tetap dilestarikan dan diwariskan ke generasi selanjutnya. Salah satu warisan budaya di kota Pacitan yang masih dilestarikan adalah Upacara Adat Tetaken, upacara ini merupakan upacara leluhur budaya yang masih dilakukan di Kabupaten Pacitan. Masyarakat Pacitan masih mempercayai upacara ini sebagai upacara budaya untuk tetap dilaksanakan sebagai warisan budaya lokal. Tetaken merupakan upacara adat berupa ritual sedekah bumi (syukuran yang dilakukan sebagai tanda syukur) yang dilaksanakan oleh warga sekitar di lereng Gunung Limo, selatan Kota Pacitan. Tetaken ini dilakukan sebagai peringatan tahun baru islam, yang biasanya tahun baru islam dilakukan dengan acara pengajian, melekan, dan doa kepada Tuhan Yang Mahe Esa agar tetap terlindungi.  Hubungan manusia dengan alam merupakan suatu kewajiban yang tetap harus terjaga karena memiliki nilai-nilai luhur yang harus tetap terjaga. Upacara tetaken membawa hal positif. Upacara Tetaken ini mengajarkan kita untuk berusaha dalam menjalani tujuan hidup, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa. Upacara ini dilakukan dalam gotong royong dan dapat medekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa karena upacara ini dilakukan dengan meminta pertolongan juga keselamatan. Untuk menjaga warisan budaya ini harus dilakukan setiap tahun agar warisan budaya tidak luntur, dan warisan ini harus diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya tanpa henti. (5)

Generasi Z kerap dinilai sebagai generasi yang kreatif dan berani mengambil risiko. Mereka juga dianggap sangat konsumtif. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh budaya digital dan penggunaan internet yang telah mengambil peran yang sangat signifikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ada perbedaan nilai pada anak dan remaja generasi sebelumnya. Perbedaan tersebut tampak dari kecenderungan perilaku anak dan remaja zaman sekarang yang dihadapkan pada gaya hidup mewah dan mengutamakan kesenangan semata sebagai tujuan hidup. Mereka lebih memilih memenuhi keinginan daripada kebutuhan. Eksistensi sebagai remaja masa kini ialah ketika mereka mampu mengikuti tren gaya hidup, sekalipun mereka tidak mampu, atau mereka mampu, tetapi menyampingkan kebutuhannya.

Generasi Z perlu diajak berdiskusi tentang bagaimana cara mengelola kehidupan sebagai manusia yang beruntung, yang mampu menyederhanakan diri tanpa mengabaikan eksistensi. Salah satu cara adalah melalui proses pendidikan yang bermuatan kepada kearifan lokal masyarakat. Upaya melestarikan nilai-nilai kearifan lokal sudah diatur dalam Peraturan Presiden No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pasal 9, yang menyatakan bahwa satuan pendidikan dan komite sekolah wajib mempertimbangkan unsur kearifan lokal. Hal ini sebagai upaya pewarisan budaya sekaligus meyakini bahwa nilai-nilai pada kearifan lokal memiliki kekuatan untuk membentuk pribadi remaja. Penanaman nilai-nilai karakter berbasis kearifan lokal dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah melalui pendidikan karakter bangsa. Pendidikan karakter bangsa ini seharusnya dapat mencakup berbagai elemen, yang paling utama adalah di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hidup sederhana adalah perilaku yang disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Perilaku atau gaya hidup ini mementingkan pemenuhan kebutuhan utama seperti makanan bergizi, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan dalam keluarga. (6)

Masyarakat Indonesia tidak lagi dijajah oleh senjata api tapi dijajah dengan teknologi yang bernama Gadget. Fungsi gadget kini adalah untuk mengubah sesuatu menjadi hal yang dibutuhkan manusia. Kalau di zaman dahulu para pelajar merasa gelisah hati karena ketinggalan buku atau alat tulis, kini para pelajar khususnya mahasiswa merasa gelisah hati karena ketinggalan handphone. Teknologi digital sangat berpengaruh dalam pembentukan budaya dan moral anak bangsa. Pemuda pada era sekarang terlihat mengalami penurunan dalam berbagai hal. Pemuda sekarang ini telah mengalami krisis moral. Mereka mulai meninggalkan budaya mereka dan menggantikannya dengan budaya yang berbeda nilai budayanya dengan budaya bangsa Indonesia. Tidak jarang mereka mengagung-agungkan budaya asing tanpa rasa bersalah menjelek-jelekkan kebudayaan bangsa sendiri. Seakan-akan mereka tidak sadar bahwa mereka hidup di negara Indonesia. Era globalisasi memberikan efek yang besar pada perkembangan pemuda Indonesia seperti berkurangnya rasa nasionalisme. Bagaimana mereka bisa memajukan bangsa kalau pada bangsa sendiri pun mereka kehilangan rasa cinta tanah airnya. Para pemuda bangsa memiliki pola pikir pragmatis yang kemudian mereka menjadi generasi instan, yaitu menginginkan kesenangan dengan waktu yang singkat. (7)

Generasi muda berpeluang memiliki potensi yang besar untuk membangun negaranya. Namun fakta yang menyedihkan akibat pengaruh budaya global generasi zilenial justru menghabiskan waktunya dengan menyaksikan tayangan-tayangan  budaya bangsa lain yang tidak normatif, padahal kejayaan Indonesia terletak di tangan mereka. Saat ini bangsa Indonesia sedang menjalani proses mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dan diaraih melalui kesatuan dan pengorbanan seluruh elemen bangsa, yang seharusnya bangsa ini memiliki kearifan sosial dan dapat membagi seluruh pengalaman kepada bangsa lain atau setidaknya memperkenalkan budaya asli bangsa Indonesia yang sangat luhur. Untuk itu pentingnya membangun generasi zilenial untuk membangkitkan kembali kebudayaan di Indonesia terutama di kota kita tercinta dengan banyaknya budaya yang harus diperkenalkan kepada generasi zilenial atau generasi selanjutnya diiringi perkembangan teknologi dan informasi.

Generasi Zilenial perlu diberi pemahaman untuk menghayati nilai-nilai Pancasila agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui pembinaan dan kaderisasi. Degradasi budaya dapat diminimalisir dengan upaya memperkokoh rasa nasionalisme dan menjaga kebhineka tunggal-ika-an. Banyaknya keragaman budaya di wilayah Nusantara ini mendorong untuk lebih jelas dalam melihat lebih dalam bagaimana proses belajar pada setiap budaya itu terjadi, namun karena minimnya kesadaran akan perbedaan etnis, perbedaan kultural, juga kurangnya hasrat untuk belajar budaya dan melestarikannya menjadi pembatas kita untuk memperdalam hal itu semua. Banyaknya konflik antar etnik budaya yang disebabkan karena keaneka-ragaman budaya sempat menjadi viral, hal inipun belum menggugah dan memotivasi banyak orang untuk mempelajari dan memperdalamnya. Padahal bangsa ini seharusnya bersyukur karena keragaman..

Kita sebagai generasi muda harus cerdas memilih dan mengendalikan dengan baik. Sadar dan bangkit dari keterpurukan selama ini. Teknologi memberikan banyak sekali kemudahan, sehingga potensi ini harus secepatnya disadari oleh para generasi muda. Pada  zaman pra-kemerdekaan hingga era reformasi para pemuda memberikan pengaruh melalui pergerakan, maka hari ini kita bisa memberikan pengaruh melalui teknologi informasi. Para generasi muda harus mampu mengendalikan hadirnya kecanggihan teknologi bukan malah tenggelam didalamnya. Banyak sekali polemik yang terjadi di sekitar kita, namun yang paling harus kita soroti adalah polemik terhadap kurangnya kepedulian masyarakat khususnya generasi muda terhadap kebudayaan di daerah masing-masing. Contohnya di kota Pacitan kebudayaan daerah terus dilestarikan dan diwariskan ke generasi zilenaial maupun generasi selanjutnya agar tidak hilang termakan oleh pengaruh globalisasi.

Peran gadget harus dijadikan senjata untuk mengembalikan kepedulian para generasi muda terhadap kebudayaan di daerahnya. Para pemuda harus bisa menyelesaikan polemik ini. Kita bisa membuat kampanye-kampanye positif yang dapat mengembalikan citra budaya daerah ke ranah publik, sehingga dapat memunculkan kebanggaan di hati para pemuda di daerahnya masing-masing.

Apalagi kalau budaya daerah bisa diangkat dan diperkenalkan ke mancanegara, maka budaya       daerah bisa menjadi daya tarik pariwisata internasional, dan lagi-lagi ini akan memunculkan kembali kepedulian para generasi muda kepada budaya daerah tersebut. Hal tersebut menjadi salah satu upaya untuk membangkitkan budaya daerah. Upaya ini dapat dijadikan wujud nyata untuk mengembalikan kepedulian generasi muda terhadap polemik budaya sekitar. Para generasi muda tidak boleh terus-terusan larut dalam pembodohan dan harus bangkit mengendalikan. Julukan 'Generasi Digital' atau 'Generasi Z' harus bisa menjadi jawaban untuk membangkitkan budaya daerah.

 

Referensi

(1) http://majalah1000guru.net/2019/03/kesederhanaan-generasi-z/ (diakses pada tanggal 17 November 2020).

(2)  Koentjaraningrat. 1993. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

(3) Tasmuji, Dkk. 2011. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.

(4) http://ijc.ilearning.co/index.php/mozaik/article/download/755/137/ (diakses pada tanggal 17 November 2020).

(5) http://www.agoeshendriyanto.com/2019/11/tetaken-sebagai-warisan-budaya-lokal.html?m=0 (diakses pada tanggal 17 November 2020).

(6) http://majalah1000guru.net/2019/03/kesederhanaan-generasi-z/ (diakses pada tanggal 17 November 2020).

(7) https://jogjaprov.go.id/berita/detail/7568-generasi-millenial-sebagai-penerus-kebudayaan (diakses pada tanggal 17 November 2020).

 

(*) Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Pacitan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.