Meningkatnya Konsumsi Media Siber dan Sosial di Tengah Pandemi Covid-19

 Oleh: Riska Fitriana (*)

Media merupakan suatu alat perantara atau pengantar yang berfungsi untuk menyalurkan pesan atau informasi dari suatu sumber kepada penerima pesan. (1) Media dapat dibagi menjadi beberapa yaitu, media massa, media cetak, media elektronik, dan media online. Media massa meliputi media cetak, media elektronik dan media online. Media cetak terbagi menjadi beberapa macam diantaranya seperti koran, majalah, buku, dan sebagainya, begitupula dengan media elektronik terbagi menjadi dua macam, diantaranya radio dan televisi, sedangkan media online meliputi media internet seperti website, dan lainnya.

Kemudian, peran media dalam kehidupan sehari-hari yaitu, sebagai komunikator serta agen of change dan sarana interaksi. Media memiliki peran yang sangat penting di masyarakat dan setiap jenis media mempunyai khalayak yang berbeda. Seperti media yang dominan membahas berita sering dimanfaatkan oleh orang dewasa. Media yang lebih dominan membahas informasi dan hiburan memiliki posisi yang penting dikalangan ibu-ibu, remaja serta anak-anak. Media online memiliki khalayak yang netral dari kalangan dewasa hingga anak-anak. (2)

Pandemi Covid-19 belum juga mereda, peran media yang mampu menyebarkan informasi secara global pun sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat. Dengan demikian masyarakat membutuhkan literasi yang baik agar terhindar dari hoaks serta  masyarakat harus bisa selektif dalam memilih informasi dan jangan sampai menelan mentah-mentah informasi yang belum tentu jelas sumbernya. Selain itu, walaupun media dimasa pandemi Covid-19 sedang naik daun namun media harus tetap peduli dengan keadaan sekitar. Media harus bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk turut membantu tenaga medis dan masyarakat yang terdampak Covid-19. (3)

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan perilaku konsumen, termasuk dalam hal mengonsumsi media. Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan penemuan kasus pertama Covid-19 pada 2 Maret 2020, belum terlihat perubahan yang signifikan pada pola konsumsi media. Namun, makin intensnya pemberitaan membuat masyarakat mulai memantau setiap perkembangan terkait Covid-19 melalui berbagai media, tak terkecuali televisi. Hasil pantauan Nielsen Television Audience Measurement (TAM) di 11 kota menunjukkan rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat dalam seminggu terakhir, dari rata-rata rating 12 persen di tanggal 11 Maret menjadi 13,8 persen di tanggal 18 Maret atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV. Durasi menonton TV pun mengalami lonjakan lebih dari 40 menit, dari rata-rata 4 jam 48 menit di tanggal 11 Maret menjadi 5 jam 29 menit di tanggal 18 Maret. Penonton dari kelas atas (upper class) menunjukkan kecenderungan lebih lama menonton televisi sejak 14 Maret dan jumlahnya juga terus meningkat. Peningkatan ini terlihat dari rata-rata rating 11.2 persen di tanggal 11 Maret menjadi 13.7 persen di tanggal 18 Maret. Maraknya pemberitaan di sejumlah stasiun televisi terkait Covid-19 di sepanjang periode 1-18 Maret berkontribusi kepada kenaikan kepemirsaan program berita. Kepemirsaan televisi terhadap Program Berita naik signifikan (+25%), terutama pada penonton kelas atas. Kenaikan juga terlihat pada Program Anak-anak dan Series. Kebijakan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang diterapkan sejak pertengahan Maret juga memengaruhi kepemirsaan televisi. Segmen pemirsa Anak (usia 5-9 tahun) meningkat signifikan, dari rata-rata rating 12 persen menjadi 15.8 persen di tanggal 18 Maret. Bahkan, di Jakarta kepemirsaan di segmen ini mencapai rating tertinggi yaitu 16,2 persen. Pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan isu kesehatan dan kebersihan menjadi hal yang sangat diperhatikan. (4)

Laporan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel) memperlihatkan bahwa sepanjang bulan Maret, frekuensi iklan di televisi meningkat secara signifikan untuk beberapa produk yaitu produk pencegah penyakit seperti vitamin dan suplemen, serta penyembuh penyakit seperti obat batuk. Di awal Maret, kategori vitamin menayangkan 300 spot iklan per hari, sedangkan di tanggal 18 Maret iklan kategori produk ini tayang 601 spot per hari dengan total belanja iklan mencapai Rp15,3 miliar per hari. Hal yang serupa juga terjadi pada kategori obat batuk yang menayangkan kurang dari 50 spot iklan di awal Maret dan meningkat menjadi 180 spot pada 18 Maret dengan total belanja iklan Rp5,6 miliar per hari. Selain di televisi, kategori produk vitamin dan suplemen juga meningkatkan belanja iklannya di media digital. Berdasarkan pantauan Nielsen di Top 200 situs lokal, kedua kategori produk tersebut menggelontorkan total belanja iklan lebih dari Rp20 miliar pada minggu kedua bulan Maret, naik signifikan yang hanya Rp6 miliar di minggu kedua bulan Februari. (4)

Peran media dalam memberikan informasi yang sebenarnya kepada publik. Mengacu pada Undang-Undang (UU) Pers Nomor 49 Tahun 1999, Kode Etik Jurnalistik, Kode Perilaku, dan UU Nomor 14 tahun 2009 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Peran media sangat besar. Terutama mengedukasi masyarakat dalam rangka memberikan pemahaman terkait virus Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS COV-2). Karena masih banyak masyarakat yang awam terhadap wabah asal Negeri Tirai Bambu ini. Karena sebagian masyarakat, menganggap peyakit Covid-19 sebagai ‘kutukan.’ Sehingga tak sedikit pasien positif yang menerima diskriminasi. Di situ lah peran media, menjelaskan. Konstruksi berita terkait Covid-19 merujuk pada beberapa sumber. (5)

Di antaranya dari pemerintah, seperti Gugus Tugas, dinas kesehatan (Diskes), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Serta dari pihak rumah sakit, masyarakat sekitar, dan media sosial. Dengan catatan pihak media melakukan disiplin verifikasi jika sumber informasi yang diterima berasal dari media sosial. Terkait isu yang dikembangkan media Kaltim. Khususnya Disway, selama pandemi Covid-19 ada beberapa hal. Pertama, mengeksplorasi kasus positif dan penanganannya. Kedua, terkait fasilitas kesehatan dan persoalannya. Ketiga, terkait kebijakan pemerintah daerah dalam menghadapi wabah bencana non-alam ini. Banyak kebijakan yang tergolong gagap. Seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), new normal, dan segala macam. Tantangan jurnalis saat ini adalah media sosial. Karena saat ini, informasi dari media sosial jauh lebih cepat dan masif. Kuncinya, kata dia adalah disiplin verifikasi. Jurnalis harus dapat sumber yang valid. Yang tidak bisa didapat dari media sosial. Fungsi media yang paling krusial di masa Covid-19 sebagai enlightenment atau pencerahan. (5)

Namun, tupoksi menyatakan kebenaran sering kali punya efek samping yang tidak menyenangkan. Terutama di masa Covid-19 ini. Fakta informasi yang disampaikan kadang justru menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat. Seperti menyebutkan jumlah korban seolah-olah menimbulkan ketakutan. Tantangan media massa di masa pandemi adalah ancaman kolaps perusahaan media. Imbas dari efek domino perekonomian yang hancur karena wabah Covid-19. Muncul pandemi, anggaran budget pemerintah mulai dipangkas. Serta iklan yang semakin berkurang dari swasta. Sehingga pendapatan media, mulai hilang. Yang seharusnya dilakukan media yaitu, harus mampu lebih kreatif. Dan beralih memanfaatkan platform internet sebagai langkah inovasi platform digital. Tidak hanya mengandalkan migrasi ke media online. Tapi juga lebih menjangkau pembaca yang lebih luas. (5)

Keterbatasan aktivitas sehari-hari di tengah pandemi Covid-19 tentu menyisakan banyak waktu luang bagi masyarakat. Keterbatasan aktivitas ini membuat kebiasaan sehari-hari mulai berubah. Biasanya masyarakat sering melakukan aktivitas secara offline, namun kini semuanya dilakukan secara online. Gawai sudah menjadi teman sejati yang membantu kehidupan masyarakat selama pandemi agar tetap dapat terhubung dengan dunia luar. Selama pandemi Covid-19, masyarakat akan terus mengikuti perkembangan informasi seputar COVID-19 baik melalui media elektronik seperti televisi maupun media online seperti internet. (6)

Dan secara tidak sadar, pola perilaku masyarakat dalam mengonsumsi media sudah mulai berubah karena adanya pandemi Covid-19. Kebiasaan mengonsumsi media pada masyarakat Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh situasi pandemi Covid-19. Selama pandemi ini, waktu luang menjadi alasan bagi kebanyakan orang untuk mengonsumsi media sebagai sarana menghabiskan waktu dan mendapat informasi. Yang awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, kemudian dapat berpotensi menjadi ketergantungan akibat terlalu sering mengonsumsi media. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan mencari informasi seputar perkembangan COVID-19. Akan tetapi, dapat menjadi masalah jika sampai menimbulkan efek ketergantungan. Hingga kemudian seseorang justru menjadi stres setelah mengetahui bahwa masa pandemi tidak akan berakhir dalam waktu dekat ini. Akibat berita-berita yang telah mereka baca. Memang kesehatan fisik sangatlah penting di situasi saat ini. (6)

Namun, kesehatan mental juga tetap harus diperhatikan. Terkadang berita seputar pandemi yang dimuat di media sengaja dibuat "menakutkan" untuk menarik para pembaca. Ditambah lagi jika ada headline "Breaking News" dengan latar merah di belakangnya yang tentunya dapat membuat pembaca panik. Sebaiknya, kita cukup mencari informasi seputar pandemi sesekali saja dalam sehari. Agar tidak menjadi ketergantungan dan untuk menjaga kesehatan mental kita supaya tidak stres. Perhatikan juga kredibilitas media tersebut. Hibur diri dengan perbanyak mencari berita seputar hiburan atau konten hiburan di internet. Seperti melihat meme lucu, menonton video hewan yang menggemaskan, dan hiburan-hiburan lainnya. (6)

Sumber Referensi:

  1. https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-media.html#:~:text=Jadi/secara/umum/pengertian/media,untuk/menyampaikan/informasi/atau/20pesan (diakses pada hari Jum’at tanggal 13 November 2020 pukul 13.00 WIB).
  2. Khatimah, Husnul, Posisi Dan Peran Media Dalam Kehidupan Masyarakat, Vol. 16 No. 1 (Bandung: UIN Sunan Gunung Djati, Desember 2018.
  3. https://modernis.co/konsumsi-media-di-tengah-pandemi/06/06/2020/ (diakses pada hari Jum’at tanggal 13 November 2020 pukul 13.15 WIB).
  4. https://www.wartaekonomi.co.id/read277752/dampak-covid-19-pada-tren-konsumsi-media-di-indonesia (diakses pada hari Sabtu tanggal 14 November 2020 pukul 08.00WIB).
  5. https://nomorsatukaltim.com/2020/09/05/masa-pandemi-media-berperan-mengedukasi-masyarakat/ (diakses pada hari Sabtu tanggal 14 November 2020 pukul 09.00 WIB).
  6. https://modernis.co/konsumsi-media-di-tengah-pandemi/06/06/2020/ (diakses pada hari Sabtu tanggal 14 November 2020 pukul 13.00 WIB).
(*) Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Pacitan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.