PEMBATASAN ASN/PNS, MAU KERJA APA ?


Oleh: Rosita Dewi

Upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) kini sudah ramai diperbincangkan. Pasalnya, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi akan mengurangi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pengurangan-pengurangan ini tidak lain karena banyaknya anggota-anggota yang tidak produktif.

Pada saat virus Corona melanda indonesia, pemerintah menggencarkan program Work From Home (WFH) yang menjadikan banyak tugas yang tidak terselesaikan di bidang pemerintahan dan birokrasi. Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN-RB) Tjahyo Kumolo menyebut kelompok yang produktif selama Work From Home (WFH) kelebihan beban/tugas yang kemudian tugas yang belum selesai diselesaikan oleh kelompok yang tidak produktif. Hal inilah yang medasari pemerintah dalam upaya mengurangi jumlah aparatur sipil negara (ASN) atau pegwai negeri sipil (PNS) (Tim CNN, 2020).

Dalam upaya pengurangan ini pemerintah kini mengedepankan aparatur sipil negara (ASN) yang menguasai teknologi informasi (IT). Penguasaan terhadap teknologi kini dinilai sangat penting karena tuntutan zaman yang semakin mengedepankan teknologi. Apalagi dalam lingkup pemerintahan yang bertugas mengatur negara yang harus benar-benar menguasai teknologi informasi. Maka dari itu dalam perekrutan kedepannya pemilihan aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) harus mengutamakan skill dan pengetahuan yang  mumpuni.

Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN-RB) Tjahyo Kumolo penerimaan aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai negeri sipil (PNS) tidak lagi harus berjumlah banyak, namun penggunaan teknologi dalam pemerintahan harus dioptimalkan (Hendriyanto, 2020). karena pada kenyataannya saat ini banyak tenaga kerja ASN atau PNS yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan kekurangan tenaga ASN atau PNS yang dibutuhkan. Saat ni upaya yang bisa dilakukan pemerintah yaitu dengan memperbaiki kinerja PNS mulai tahap rekrutmen, dengan proses dilakukan menggunakan digital.

Jika kita menilik lebih jauh tentang penekanan jumlah aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) ini sebagai calon pendidik kedepannya harus memiliki strategi dalam mengahadapinya. Kita tidak bisa serta merta mengaharapkan harus diterima dan bekerja sebagai anggota aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS).  Mindset kita harus dirancang sejak dini agar sebagai generasi perubahan dapat memberikan perubahan yang sebenarnya.

Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Harya Wibisana menyatakan statement menarik bahwa 65% pekerjaan saat ini akan hilang dalam 10 tahun kedepan. Sebagain besar urusan pekerjaan dalam di BKN telah berbasis teknologi informasi sehingga tingkat kinerja menjadi efektif dan efisien. Pernyataan tersebut pati memiliki dasar, telah mengalami, akan terjadi, dan bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan calon pegawai negeri sipil (CPNS) merupakan early warning agar bersiap menghadapi kondisi di 10 tahun mendatang (Boedijanto, 2019).

Sebagai pegawai negeri sipil (PNS) ataupun calon pegawai negeri sipil (CPNS) pasti memiliki tantangan juga dalam memasuki revolusi industri 4.0. Hal ini harus benar-benar dipikirkan mulai dai sekarang, karena waktu tidak bisa diprediksi dan akan terus melaju. Kiat yang harus diperhatikan untuk mengahadapi 10 tahun yang akan datang adalah sebagai beritkut: (a) Memanfaatkan dan mempelajari teknologi dalam rangka untuk mengantisipasi kemungkinan di masa mendatang. Kebanyakan masyarakat termasuk PNS memanfaatkan terknologi hanya sebatas mengikuti trend dan menumpuk sampah informasi yang seharusnya tidak penting. Pemanfaatan teknologi belum pada tataan kepentingan peningkatan kapasitas; (b) Memperluas relasi dengan berbagai pihak. Memperluas jaringan pertemanan dapat memberikan motivasi dan memberikan kesempatan untuk meraih kesempatan yang lain; (c) Membangun kepercayaan dan memberikan pelayanan yang terbaik; (d) Bekerja tidak hanya untuk hari ini; (e) Belajar jangan berhenti di hari ini, bila mendapatkan pengetahuan untuk hari ini maka hari esok harus mendapatkan informasi untuk merencanakan kehidupan di masa mendatang (Boedijanto, 2019). Menurut Irianto (2017) menyebutkan bahwa struktur kerja pada tahun 2020 menjadi (a) pemecahan masalah yang kompleks; (b) berpikir kritis; (c) kreativitas; (d) manajemen orang; (e) kerjasama dengan orang lain; (f) kecerdasan emosional; (g) penilaian dan pengambilan keputusan; (h) orientasi pelayanan; (i) negosiasi dan; (j) fleksibilitas kognitif.

Dari pernyataan diatas, persiapan dan strategi harus benar-benar dirancang mulai sekarang. Pekerjaan yang memanfaatkan teknologi semakin banyak dan pemanfaatan teknologi ini harus benar-benar mampu mengubah pola kehidupan masyarakat yang lebih efisien. Pada dasarnya sekarang ini kehadiran teknologi informasi dapat menggantikan fungsi kehidupan. Teknologi informasi ini bisa digunakan oleh semua orang tidak mengenal usia, jabatan, dan statusnya di dalam kehidupan atau bersifat universal. 

Sebagai lulusan bidang pendidikan, salah satu pekerjaan yang diharapkan semua orang adalah menjadi PNS, tetapi dengan adanya pembatasan ini harus menyiapkan rancangan kerja yang akan dilakukan. Persiapan-persiapan yang dilakukan saat ini untuk menunjang kehidupan kedepannya yaitu dengan membuat rancangan pekerjaan dengan pemanfaatan teknologi informasi yang tersedia saat ini. Dengan pembatasan penerimaan aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) tidak menutup niat untuk tetap bekerja. Dalam rangkan mempersiapkan hal tersebut saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang produktif, yaitu tetap bekerja walau di rumah.  Pekerjaan yang bisa dilakukan dirumah dengan pemanfaatan teknologi  adalah menjadi enterpreneur dan guru les privat.

Pertama profesi guru les privat, profesi ini sangat sesuai dengan lulusan pendidikan. Jika di kemudian hari tidak bisa diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS) karena adanya penekanan pengurangan PNS, pekerjaan lain yang sesuai dengan lulusan pendidikan adalah menjadi guru les privat. Menurut Mellina (2015) dengan menjadi guru les privat akan sangat mendorong seseorang untuk terus mengasah ilmu pengetahuan yang dikuasai. Selain berbagi ilmu dan skill, menjadi guru les privat juga akan mengasah kesabaran dalam mendidik seorang anak. Langkah awal nyata yang mudah dikerjakan untuk menjadi guru les privat yaitu dengan membantu saudara atau anak sekitar yang mengalami kesuliatan belajar.

Kedua, pekerjaan produktif yang bisa dilakukan dirumah adalah dengan menjadi enterpreneur yaitu dengan membuka bisnis online ataupun offline. Enterpreneur adalah salah satu pekerjaan yang fleksibel dilakukan (Idris, 2019). Kita bisa menjadi owner dapat mengatur dan memegang kendali usaha yang dikerjakan.  Pekerjaan ini tidak membutuhkan waktu banyak karena bisa dilakukan kapanpun. Contohnya yaitu dengan membuka bisnis online seperti online shop dan drop shipper merupakan binis yang menjanjikan bagi seorang ibu rumah tangga. Pemanfaatan teknologi seperti aplikasi WhatsApp, Instagram, Facebook, dan lainnya dapat digunakan sebagai media atau wadah dalam promosi produk yang dijual. Selain itu bisa juga membuka usaha kuliner yang dipromosikan melalui aplikasi-aplikasi yang dimiliki.

Dari paparan diatas cukup jelas bahwa persiapan yang dilakukan mulai sekarang untuk mengantisipasi pengurangan pegawai negeri sipil (PNS) yaitu dengan bekerja dirumah menjadi ibu rumah tangga yang produktif. Bisa membuka bisnis maupun membuka les privat. Pemanfaatan teknologi menjadi fokus utama dalam bekerja dirumah.  Pengembangan kreativitas juga sangat diperlukan dalam memulai bisnis. Ibu rumah tangga yang produktif harus mampu memberikan inovasi agar apa yang dikerjakan semakin berkembang. Selain pemanfaatan teknologi, pemanfaatan jaringan atau relasi sangat dibutuhkan untuk menjadi enterpreneur yang sukses. Sebagai lulusan pendidikan tidak perlu risau jika tidak bisa bekerja sesuai dengan jurusan. Karena masih banyak pekerjaan yang menjanjikan lainnya yang bisa dimanfaatkan.

Upaya pemerintah dalam menguarangi anggota ASN juga memiliki tujuan, yaitu agar ASN/PNS yang diterima bisa memberikan pelayanann terbaik dengan penguasaan teknologi informasinya. Sebagai calon pendidik ataupun calon pegawai negeri sipil (PNS) harus tetap berusaha dan belajar agar semua yang dilakukan membuahkan hasil yang maksimal serta melek teknologi agar tidak tertinggal arus kehidupan yang terus berjalan.

Sumber Referensi:

Boedijanto, Eko. 2019. Tantangan ASN Pada Revolusi industri 4.0. https://bkpsdm.bulelengkab.go.id/artikel/tantangan-asn-pada-revolusi-industri-40-45. Diakses pada 20-11-2020 Pukul 19.45. 

Hendriyanto, A. 2020. Penggunaan teknologi untuk Menekan jumlah ASN/PNS. http://www.agoeshendriyanto.com/2020/11penggunaan-teknologi-untuk-menekan.html?=1. Diakses pada 20-11-2020 pukul 07.55.

Idris, Rismawati. 2019. Selain PNS, Ini Alternatif Pilihan yang Paling Menjanjikan. https://www.seva.id/blog/selain-pns-ini-alternatif-pilihan-pekerjaan-yang-paling-menjanjikan/. Diakses pada 20-11-2020 Pukul 17.59.

Mellina, Septa. 2015. 7 Profesi untuk Istri Yang Ingin Bekerja Di Rumah. thebridedept.com/7-profesi-untuk-istri-yang-ingin-bekerja-di-rumah/. Diakses pada 20-11-2020 Pukul 20.30.

Tim. 2020. Tjahjo Siapkan Skema Kurangi PNS Tak Produktif. CNN Indonesia. https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200620093231-20-515425/tjahjo-siapkan-skema-kurangi-pns-tak-produktif. Diakses pada 20-11-2020 Pukul 17.09.

(*) Mahasiswa Semester Akhir Program Studi PBSI STKIP PGRI Pacitan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.