Pertemuan Singkat Malam Ahad Berujung Akad, By Nila Handayani

Oleh: Nila Handayani (*)

Perkenalkan, namaku Nisa Sabila, biasa dipanggil Nisa. Aku merupakan anak tunggal dan berasal dari keluarga sederhana. Saat ini aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku sangat menyukai salah satu klub sepak bola yaitu Arema. Tidak hanya aku, namun teman sekelasku juga banyak yang menyukai Arema, salah satunya adalah Mbak Mida. Dalam satu kelas itu aku adalah murid yang paling muda, sehingga banyak yang memanggilku Dek Nisa. 

Sebagai wujud untuk mendukung Arema aku mulai dari membeli kaos-kaos klub tersebut hingga mengikuti salah satu group WhatsApp yang anggotanya adalah para fans dari Jawa Timur. Dari group tersebut, tiba-tiba aku menemukan salah satu anggota laki-laki dengan suara yang cukup halus dan terlihat begitu pengertian dan kita pun berbalas pesan dalam group itu. Aku hanya mengikuti di group itu saja, sampai akhirnya dia chatt aku secara pribadi. Dengan foto profil yang islami dan suara yang cukup membuat para wanita jatuh hati membuatku merasa terkagum-kagum.

Setelah beberapa lama chatt pribadi, aku banyak memperoleh informasi tentang dirinya. Dia merupakan Ubaid, santri salah satu pondok di Kabupaten Tritisan yang lumayan jauh dari tempat tinggalku yaitu Kabupaten Vrindafan. Membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai dirumahnya. Namun, mungkin karena aku masih duduk di bangku SMP dan masih terlihat labil, sedangkan dirinya sudah duduk di bangku kelas 2 SMA. Dirinya menganggap aku sebagai adiknya dan juga sebaliknya, akupun begitu..

Pada pagi hari aku langsung menemui Mbak Mida dan bercerita tentangnya.

Nisa                 : “Mbak, kemarin aku dapet chatt pribadi dari Mas Ubaid yang ada di group Arema itu loh. Kamu dengerin voice note dari dia gak di group itu? Kayaknya dia laki-laki idaman deh.”

Mbak Mida     : “Iya aku denger, tapi menurutku sih biasa aja. Mungkin karena dia anak pondok jadi lebih memukau dihadapan kamu aja gitu. Kamu suka sama Mas Ubaid ? (sambil tertawa terbahak-bahak)

Nisa                 : “Iya sih, mungkin karena dia bilang anak pondok jadi aku berpikir dia adalah anak baik, sholeh, hafalannya juga mantab. Tapi kan kita gak tau juga ya soalnya kan belum pernah ketemu.”

Mbak Mida     : “Ya sudah, ajakin ketemu aja.”

Nisa                 : “Ya tidak semudah itu, dia kan anak pondok.”

Mbak Mida     : ”Ya sudahlah, yang paling penting jangan menaruh rasa dulu sebelum kamu bisa memandang dia di dunia nyata ini kan itu baru di dunia maya.”

Nisa                 : “Iya betul sih, yuk masuk kelas ! “

Akhirnya mereka berdua masuk kelas dan mengikuti pembelajaran seperti biasa.

Hari demi hari aku mendapat notifikasi pesan dari Mas Ubaid, sampai-sampai tidak hanya mengetahui nomor WhatsApp saja namun juga merambah saling follow facebook dan juga instagram. Biasanya kita menggunakan ketiga media sosial tersebut. Saling menyukai dan berkomentar tentang postingan pribadi masing-masing. Dia sering memberi semangat kepadaku untuk selalu belajar dengan tekun dan selalu bersyukur atas apa yang telah kita miliki.

Hingga pada suatu hari tidak ada WhatsApp sama sekali dari dirinya, tidak ada pesan dari facebook dan juga instagram. Terkadang aku merasa bingung mengapa dia menghilang dengan tiba-tiba. Hari demi hari dia tak kunjung mengabariku lagi dan aku mulai berfikir, mungkin karena dia adalah santri pondok yang biasanya dibatasi untuk bermain handphone atau mungkin handphone miliknya disita oleh salah satu pengasuhnya. Sampai akhirnya aku sedikit lupa dengan dirinya.

Berselang beberapa bulan aku mendapat notifikasi dari facebook yang ternyata adalah pesan dari Mas Ubaid, dia yang selama ini telah menghilang. Aku pun segera membuka pesan darinya, hingga pada akhirnya perasaan senang telah kembali. Mas Ubaid meminta maaf padaku karena saat ini dia sedang di pondok dan tidak membawa handphone, dia menggunakan handphone milik temannya untuk mengirim pesan padaku, dan dia juga berpesan untuk selalu memberi kabar apabila suatu saat nomor WhatsApp milikku ganti.

Setelah pesan pada hari itu, sudah tidak ada pesan lagi sampai aku naik ke kelas 3 SMP.  Dari awal memang aku terkesan cuek menanggapi dirinya. Setiap ada kesempatan mengirim pesan untukku, dirinya pasti mengungkapkan keinginan untuk menemuiku, keinginan untuk bermain di Pantai Citra yang jaraknya lumayan dekat dengan tempat tinggalku. Saat kota Vrindafan terkena musibah banjir pun, dirinya juga menanyakan bagaimana keadaan rumahku.

Setelah lulus dari MA, dirinya memutuskan untuk mengabdi di pondok tempat dirinya menimba ilmu. Sejak itu aku hanya melihat perjalanannya melalui foto yang dibagikannya saja. Selain mengabdi dengan mengajar anak-anak pondok, Mas Ubaid juga pernah mencoba untuk mengikuti seleksi TNI-AL. Namun dirinya gagal menjadi anggota TNI-AL dan akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti seleksi kuliah di Universitas Islam Negeri yang akhirnya dinyatakan lolos dengan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Kita mulai jarang menjalin komunikasi hingga kita berpencar selama kurang lebih satu tahun. Saat aku menginjak kelas 2 SMK, aku melaksanakan Praktik Kerja Lapangan. Namun sebelum berangkat untuk Praktik Kerja Lapangan aku mengalami kecelakaan yang mengharuskan telunjuk tangan kananku di amputasi satu ruas. Dan akhirnya aku mengawali untuk mengirim pesan untuknya, dan bercerita tentang keadaanku. Karena tidak bisa membatalkan lokasi Praktik Kerja Lapangan, maka aku harus tetap berangkat untuk Praktik Kerja Lapangan di luar kota.

 Saat aku melaksanakan Praktik Kerja Lapangan, dirinya kembali menyapaku melalui instagram dan meminta nomor WhatsApp milikku. Kita juga menyambung perbincangan melalui WhatsApp dan tak jarang juga kita menggunakan fitur VideoCall. Rasa ingin bertemu selalu menggebu-gebu, namun Tuhan belum memberi kesempatan kita untuk bertemu.

Saat aku menginjak kelas 3 SMK, dirinya mulai aktif sebagai mahasiswa di salah satu Universitas Islam Negeri. Saat itu sangat jarang bahkan hampir tidak pernah ada interaksi di antara kita, mungkin memang dia sibuk dengan tugas kuliah atau juga banyak kemungkinan lainnya. Jika dilihat dari beberapa postingannya, mungkin dia juga sudah berubah tidak seperti dirinya yang dulu. Dulu dirinya selalu ada banyak waktu luang dan bisa memberikan respon cepat sedangkan saat ini untuk berbalas kabar pun jarang.

Saat aku akan menempuh Ujian Nasional, Mas Ubaid tiba-tiba mengirim pesan padaku.

“Selamat dan semangat UN ya dek, jangan lupa belajar dan berdo’a.”

Dari pesan itu memang membuatku jadi melek dan tergugah untuk semangat memperoleh hasil yang maksimal. Entah kenapa jika dia yang memberi semangat aku langsung bisa sadar dan bangkit lagi untuk lebih tekun. Namun sampai saat ini pun aku tak kunjung bertemu dengannya. Apalagi saat ini dia kuliah lebih jauh lagi dari tempat tinggalku. Membutuhkan waktu 6 jam untuk sampai di kampus tempat dirinya menimba ilmu.

Ternyata, UN yang sudah aku laksanakan tidak jadi digunakan karena adanya pandemi Covid-19. Aku merasa sedikit kecewa, namun apalah daya aku hanya seorang siswa yang harus taat dengan peraturan. Aku harus bangkit dan berjuang untuk bisa masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Aku sangat menginginkan bisa masuk di kampus negeri, dan akhirnya aku mencoba untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pada saat beberapa jam sebelum pengumuman aku mendapat pesan dari Mas Ubaid.

Mas Ubaid      : “Nisa, kamu nyoba Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri gak?”

Nisa                 : “Iya mas, aku nyoba.”

Mas Ubaid      : “Daftar dimana saja Nis ?”

Nisa                 : “Aku ngambil Universitas Indonesia sama Universitas Negeri Surabaya.”

Mas Ubaid      : “Wah, Universitas Negeri Surabaya deket loh sama kampusku. Semoga lolos ya. Adekku juga nyoba di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, kampusku ini. Oh iya, kamu ngambil program studi apa?”

Nisa                 : “Adekmu juga sepantaran sama aku ? Aku ngambil S1 Pendidikan Tata Busana sama S1 Manajemen. Semoga sukses semuanya ya. Aamiin”

Mas Ubaid      : “Iya Nis. Aamiin”

Aku tidak membalas pesan terakhir yang dia kirim padaku, karena aku sangat tidak sabar melihat pengumuman. Aku hanya berada di web itu saja tanpa membuka WhatsApp, facebook, maupun instagram. Sampai akhirnya aku melihat laman web itu berubah dan menyatakan bahwa aku diterima di Universitas Negeri Surabaya yang dekat dengan kampus Mas Ubaid. Tentu rasa senang terus menyelimuti diriku. Berselang beberapa menit dari pengumuman, ada notifikasi pesan lagi dari Mas Ubaid dan aku pun segera membukanya.

Mas Ubaid      : “Gimana kamu Nis ? Diterima dimana ?”

Nisa                 : “Alhamdulillah diterima di Universitas Negeri Surabaya program studi Manajemen. Adik kamu gimana Mas ?”

Mas Ubaid      : “ Alhamdulillah, adikku diterima di kampusku ini dan program studinya juga sama Manajemen. Semoga nanti bisa ketemu di Surabaya ya. Agendakan saja akhir pekan kita jalan-jalan naik bis tayo. Hehehe.”

Nisa                 : “Siap, aku bilang Bapak sama Ibu dulu.”

Aku segera menemui Bapak dan Ibuku yang sedang di ruang tamu.

Nisa                 : “Pak, Nisa diterima di Universitas Negeri Surabaya program studinya S1 Manajemen.”

Ibu Nisa          : “Itu kampusnya di Surabaya ?”

Nisa                 : “Iya bu, namanya saja Universitas Negeri Surabaya.”

Bapak              : “Lihato itu di TV Surabaya zona hitam. Kuliah di Vrindafan saja, lagian di Surabaya kamu sama siapa? Surabaya juga jauh dari sini. Belum lagi kost dan makanmu juga biaya lagi. Coba kalau ngambil di Vrindafan tempat tinggal, makan gratis bareng Bapak sama Ibu.

Nisa                 : “Jadi, ini gak jadi diambil Pak ?”

Ibu                   : “Ya, kalau kamu nurut sama Bapak Ibu kuliah disini saja. Lagian kuliah itu bukan dimana kamu belajar, tapi bagaimana kamu belajar.”

Nisa                 : “Iya bu.” (sambil berjalan menuju ke kamar)

Perasaan sedih dan kecewa pasti ada dalam diriku. Banyak anak yang menginginkan kuliah di kampus negeri dengan akreditasi A. Namun diriku yang sudah dinyatakan lolos ini harus berhenti karena kemauan orang tua. Aku segera memberi kabar ini ke Mas Ubaid.

Nisa     : “Mas, aku belum bisa meyakinkan Bapak sama Ibu. Soalnya Surabaya juga zona hitam Covid-19 dan aku dituntut untuk kuliah di Vrindafan saja.”

Mas Ubaid      : “Yah, kalau menyangkut orang tua udah gak bisa setengah- setengah lagi Nis. Gak jadi ketemu di Surabaya, gak masalah ya. Yang penting karier dulu semangat.”

Nisa                 : “Iya, semangat kok.”

Mas Ubaid sempat menelepon aku dan berbincang dengan Bapak. Namun akhirnya aku memutuskan untuk menuruti kemauan Bapak dan juga Ibu. Aku mengikuti pendaftaran gelombang terakhir salah satu Perguruan Tinggi Swasta dengan memilih program studi Sastra Indonesia. Sebenarnya aku sangat tidak menginginkan untuk masuk di Perguruan Tinggi Swasta, selain itu program studi yang aku ambil juga tidak begitu suka. Namun, aku selalu berusaha untuk menerima itu semua dan aku yakin bahwa tuntunan orang tua pasti jalan terbaik untuk anaknya.

Aku mulai beradaptasi dengan keadaanku yang penuh dengan imajinasi ini. Terkadang aku juga merasa sedih karena telah melepas kampus yang telah ku idam-idamkan sejak dulu. Selain itu, aku juga belum bisa bertemu dengan Mas Ubaid. Namun, aku dan juga Mas Ubaid selalu berharap untuk segera dipertemukan. Mas Ubaid memang belum nyata ada di hadapanku, namun dirinya telah banyak membantuku. Dirinya selalu mengingatkanku untuk terus bersyukur atas apa yang kudapat setiap harinya. Mas Ubaid banyak memberikan perhatian untukku, begitupula adiknya yang bernama Jamil, Jamil ini sepantaran denganku bahkan aku lebih muda darinya. Namun Jamil selalu memanggilku “Mbak” karena dia menganggap aku sebagai calon kakaknya. Jamil juga sering bercerita tentang Mas Ubaid dan memang semua ceritanya adalah hal positif. Terkadang, Jamil juga mengatakan bahwa yang menginginkan kakaknya tidak hanya satu orang.

Aku masih menjalin hubungan baik dengan Mbak Mida, walaupun sudah terpisah sejak SMK dan saat ini aku kuliah, dirinya bekerja. Kita masih sering jalan berdua dan bercerita apa yang dirasakan saat itu pula. Hingga pada suatu hari, aku dan Mbak Mida berniat untuk jalan- jalan dan membeli jajan pada malam Ahad di sekitar Alun- Alun Vrindafan yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Sesampainya di Alun- Alun Vrindafan aku mendapat notifikasi pesan dari Mas Ubaid.

Mas Ubaid      : “Nis, kalau aku ke Vrindafan mau disambut gak nih ? Ini tamu loh. Hehehe”

Nisa                 : “Tak kenalin Bapak sama Ibukku sekalian Mas. Hehehe bercanda ya.”

Mas Ubaid      : “Kamu lagi dimana sekarang?”

Nisa                 : “Lagi di Alun- Alun Vrindafan sama Mbak Mida nih. Kenapa emang?”

Mas Ubaid      : “Gak. Aku juga di Pacitan ini.”

Nisa                 : “Serius? Sekarang dimana ? Kok gak bilang dari awal kalo mau ke Vrindafan ?”

Mas Ubaid      : (mengirimkan foto depan Alun-Alun Vrindafan)

Nisa                 : “Gak mampir ke rumah ? Rumahku deket kok sama Alun- Alun.”

Mas Ubaid      : “Kan kamu di Alun-Alun juga, kalo aku ke rumah ya gak ada kamu. Coba fotoin kamu lagi dimana ?”

Nisa                 : “Sebentar, kamu tunggu disitu aja dulu.”

Aku pun bergegas menghampiri Mas Ubaid di depan tulisan Alun-Alun Vrindafan. Tak lama kemudian, aku menjumpainya dan spontan langsung ku sapa.

Nisa                 : “Mas Ubaid ya ?”

Mas Ubaid      : “Iya, Nisa ya?”

Nisa                 : “Iya, aku Nisa. Hehehe. Ayo cari tempat ngopi aja, jangan dijalan nanti gak enak dipandang banyak orang.”

Mas Ubaid      : “Ayolah, kamu yang lebih paham tempatnya. Aku ngikut aja.”

Akhirnya kita pergi ke salah satu tempat yang agak tertutup dan memesan kopi. Disana kita banyak bercerita dan terkadang masih belum percaya akhirnya bisa bertemu di dunia nyata. Dia juga bercerita bahwa target menikah minimal setelah nanti lulus S1. Sampai akhirnya waktu mulai malam dan kita pun pulang.

Setelah pertemuan itu, sepertinya rasaku masih sama. Masih tetap menginginkan dirinya. Dan setelah pertemuan itu pun kita masih sering berbalas pesan dan sering membahas keluarga, cinta, juga tugas kuliah masing-masing. Aku dan dia memang sama-sama jomblo dan kita juga saling mendukung satu sama lain. Namun untuk memiliki dirinyaa terkadang aku berpikir harus sadar diri.

Dan aku sadar bahwa orang baik yang menginginkan tidak hanya satu orang saja. Jadi kita berhak untuk berlomba demi mendapat yang terbaik. Namun, bila kita menginginkan yang baik seharusnya kita juga baik.

Sesuai Q.S An-Nur Ayat 26

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُوْلَئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٢٦﴾

 “ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)  

Dari firman Allah di atas, telah gamblang dijelaskan bahwa jodoh itu sesuai dengan cerminan diri. Jika kita menginginkan yang terbaik dan ingin mendapatkan pasangan yang baik pula, maka teruslah berikhtiar memperbaiki diri dengan niat hanya karena Allah, bukan karena hal lain. Dengan ridho Allah, seseorang yang baik akan dipertemukan dengan jodoh yang baik juga, karena tidak ada ketetapan Allah yang salah. Sungguh Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Teliti. Kita perlu istikharah yang benar, bukan berdo’a untuk “Jadikanlah dia pasanganku” namun “Jika dia baik untukku jadikan untukku, jika dia tidak baik untukku maka jauhkan dariku, dan berikan yang terbaik untukku.”

Selang beberapa bulan setelah dirinya wisuda sarjana, dia mengirim pesan kepadaku.

Mas Ubaid      : “Nis, kamu target nikah kapan? Hehehe.”

Nisa                 : “Aku kalau ada yang cocok dan dia berani untuk khitbah setelah ta’aruf ya gak masalah langsung akad. Emang kenapa? Hehehe.”

Mas Ubaid      : “Pengen punya suami yang seperti apa sih kamu?”

Nisa                 : “Tentunya aku mau dia yang mampu membimbingku, yang terpenting dia paham agama.”

Mas Ubaid      : “Kalo besok aku kerumah gimana?”

Nisa                 : “Boleh aja, kan mau main. Hehehe. ”

Mas Ubaid      : “Niatnya gak cuma main Nis. Pengen ketemu Bapak sama Ibu kamu, nanti dari sini aku juga sama Abi, sama Umi.”

Nisa                 : “Hah, mau ngapain Mas ? Main bareng ? Hayuk lah.”

Mas Ubaid      : “Aku rasa ta’aruf kita sudah cukup. Aku sudah cukup mengenal kamu dan aku merasa kita cocok, jadi besok niatnya adalah proses selanjutnya yaitu Khitbah, namun sederhanya saja. Hehehe.”

Nisa                 : “Serius? Aku kira hanya aku saja yang punya rasa seperti ini, tapi ternyata kamu juga demikian.” (Nisa sangat terharu, sampai-sampai air mata haru jatuh di handphone miliknya)

Aku masih belum bisa percaya akan berakhir seperti ini. Akupun bergegas untuk memberi tahu Bapak dan Ibu, lalu Bapak menelpon Mas Ubaid untuk meyakinkan. Setelah dinyatakan hal itu benar, Bapak dan Ibu segera mempersiapkan segala sesuatunya.  

Keesokan harinya perasaan bahagia sangat jelas terpancar dari diriku. Aku pun juga menunggu kedatangannya bersama keluarganya. Hingga pada siang harinya mereka pun telah sampai di rumahku. Aku semakin deg-degan saat keluarga Mas Ubaid masuk menuju rumahku. Wajah Mas Ubaid juga terlihat aneh dan sepertinya dia juga gugup. Kemudian, Abi dari Mas Ubaid mengutarakan niat dan maksud tujuan mendatangi rumahku.

Abi      : “Selain silaturahim, maksud kami datang ke rumah Bapak Ibu ini adalah untuk mengantar anak kami, Ubaid yang ingin mengkhitbah putri Bapak Ibu, yaitu Dek Nisa.”

Mas Ubaid pun dengan mantap, yakin dan tegas mengutarakan niatnya untuk meminangku. Aku pun sudah sering bercerita tentang Mas Ubaid kepada Bapak sehingga Bapak menjawab, “Saya menerima karena saya sudah mendapat banyak cerita dari Nisa tentang Ubaid anak Bapak. Semua tetap kembali pada keputusan putri saya.”

Mas Ubaid pun tersenyum melihat Bapakku yang juga tersenyum ramah. Abi pun akhirnya bertanya padaku, “Bagaimana Nisa? Apakah kamu menerimanya? ”

Dan aku pun menjawab, “Dari hatiku yang terdalam, Mas Ubaid dan juga semua yang hadir disini, aku menyatakan siap menjadi pendamping hidupmu. Aku sudah mengetahui banyak tentang dirimu dari adikmu dan juga dirimu sendiri. Dan memang aku yang meminta adikmu untuk mengatur bagaimana aku bisa menikah denganmu. Aku yang meminta. (dengan nada tegas)

Seusai mendengar jawabanku yang sedemikian mantap Abi merasa acara meminang sudah selesai dan segera berunding untuk segera menentukan acara walimahnya. Setelah menemukan hari yang pas untuk akad, Mas Ubaid dan keluarga pamit untuk pulang.

Abi      : “Baiklah kami rasa sudah waktunya kami pamit, dan saya merasa senang akhirnya anak saya Ubaid akan menikah dengan Nisa. Kami mohon pamit, (sambil menyalami dan memeluk Bapakku) Assalamu’alaikum.

Bapak, Ibu, Aku, dan tetangga yang hadir : “Wa’alaikumsalam.” (sambil melambaikan tangan)

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan saat khitbah itu, aku melangsungkan akad nikah. Aku bahagia dan juga lega, karena apa yang selama ini aku impikan akhirnya terwujud. Akhirnya kita dipersatukan dalam ikatan halal pernikahan tanpa ada status pacaran sebelumnya.

(*) Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Pacitan 


 

Nila Handayani, lahir di Pacitan, 28 April 2002. Menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SDN Pringkuku 1, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Pringkuku, Sekolah Menengah Kejuruan di SMK Negeri Pringkuku, dan saat ini menempuh S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI Pacitan. Dalam bidang kepenulisan, pernah mendapat Juara 1 Sinopsis tingkat Kabupaten, Juara 2 Artikel Tri Bakti PMR tingkat Kabupaten. Selain aktif menjadi mahasiswa, kini juga menjadi sekretaris PAC salah satu partai politik.

 Alamat            : Jln. Pacitan-Solo Pringkuku, Pacitan.

Email               : nilaahandayani2@gmail.com

HP/WA           : 083845559800

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.