PNS Tergantikan Artificial Intelegence. Siapkah?


Oleh: Catur Apriyani (*)

Permasalahan di instansi pemerintah adalah kerja yang begitu lama dan birokrasi yang berbelit-belit. Terdapat banyak PNS  yang tidak melakukan tugas dengan semestinya. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pemeberitaan tentang PNS  yang tidak patuh terhadap peraturan pemerintah. Selama dekade ini birokrasi pemerintah masih terbilang cukup lambat khususnya dalam proses pelayanan dan pengambilan keputusan. Padahal di era disrupsi seperti sekarang ini menuntut segalanya untuk bergerak dengan cepat. Tentu saja hal itu membuat pekerjaan PNS  menjadi tidak mudah, mereka harus berfikir cepat karena semakin banyak tugas yang harus dilakukan.

Semakin tahun semakin banyak orang yang berminat menjadi PNS. Akan tetapi semakin canggihnya teknologi saat ini menjadikan ancaman seorang PNS  lama, dan  PNS baru. Ancaman ini datang dari yang tak terlihat dan tak terdeteksi. Di era disrupsi ini ancaman bagi seorang PNS  yaitu AI (Artificial Intelegence) yang berwujud robot. Era disrupsi merupakan era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental yang mengubah semua system, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Akibatnya pemain yang masih menggunakan cara dan system lama akan kalah bersaing.

Dilansir dari Cnbindonesia “Presiden RI Joko Widodo memiliki komitmen untuk menggantikan PNS (Pegawai Negeri Sipil) dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Nantinya, eselon III dan eselon IV di kementrian yang dinilai menghambat birokrasi akan diganti dengan robot AI”. Jokowi menegaskan ini merupakan upaya pemerintah untuk melakukan penyederhanaan birokrasi agar cepat dalam merespons perubahan dunia yang semakin dinamis. “Kita butuh kecepatan dalam bekerja, dalam memutuskan. Kita butuh kecepatan dalam bertindak di lapangan, karena perubahan ini sangat cepat. Karena sekarang ini, pemerintah yang fleksible sangat dibutuhkan” kata Jokowi saat berbicara di Kompleks Istana Merdeka Jakarta.

Wacana PNS yang akan digantikan dengan robottersebut mendapat tanggapan beragam dari pengamat pemerintah. Pengamat pemerintah Fisip ULM, Budi Suryadi berpendapat, penggunaan system dengan kecerdasan buatan itu dinilai tepat, bahkan dengan adanya robot akan mengoptimalkan kinerja pemerintah terutama dalam aspek pelayanan. Hal itu ditegaskan dengan pendapat Mentri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jhonny G Plate yakni bahwa menggantikan kerja Aparatur Sipil Negara dengan Artificial Inttelegence (AI) atau robot dengan kecerdasan buatan memungkinkan untuk diterapkan pada kinerja birokrasi di Indonesia. 

Di sisi lain, pengamat pemerintah Fisip ULM lain, Ghazali Rahman menilai dampak lain dari penggunaan robot sebagai pengganti PNS yaitu semakin membludaknya pengangguran. Pergantian tugas PNS dengan robot tentu memiliki damak positif dan negative. Dampak positifnya yaitu mampu memberikan pelayanan masyarakat dengan cepat, minim kesalahan dan biaya serta aman dari korupsi. Dampak negatifnya yaitu akan banyak pengangguaran yang digantikan oleh robot. Dengan adanya robot tentu mau tidak mau mereka harus keluar dari mata pencaharainnya sebagai PNS. Selain itu banyaknya pengangguran akan membuat perekonomian masyarakat menjadi semakin terpuruk.

Sejumlah survey menyebutkan, minat masyarakat generasi muda yang telah lulus sarjana untuk menjadi PNS semakin meningkat. Hal itu dikarenakan paradigma masyarakat yang menganggap menjadi PNS akan hidup sejahtera, mapan serta aman dari resiko dan juga ada tunjangan hari tua, selain itu hingga saat ini status PNS lebih disegani dan dihormati di lingkungan masyarakat. Dengan adanya gagasan Joko Widodo tentang penggunaan robot sebagai engganti PNS tentunya berdampak pada paradigma menjadi PNS adalah pekerjaan impian bagi banyak orang semakin lama akan semakin tergeser karena peran PNS akan tergantikan oleh kecanggihan robot.

Berdasarkan permasalahan diatas, tentu kita sebagai generasi muda tidak harus beredoman lulus kuliah harus jadi PNS, atau PNS adalah satu satunya pekerjaan impian. Generasi muda sekarang harus berani merubah mindset serta membuat strategi atau langkah-langkah konkrit guna menghadapi era disrupsi. Sukses tidak hanya menjadi PNS, tapi sukses juga bisa diraih disegala bidang asalkan kita mau berusaha. Apalagi kita sekarang hidup ditengah kemajuan teknologi yang berkembang sangat pesat, maka mau tak mau, suka tak suka kita harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi. 

Di era disrupsi ini tentu banyak tantangan dan peluang, peluang yang menjanjikan salah satunya yaitu dengan membuka suatu usaha atau bisnis. Dengan membuka usaha atau bisnis maka tidak hanya bermanfaat pada diri kita sendiri, tetapi bisa bermanfaat juga bagi orang lain karena secara tidak langsung kita telah membuka peluang pekerjaan bagi orang lain. Dilansir dari ajaib.co.id banyak langkah-langkah strategis guna menghadapi era disrupsi yang tentunya akan membuka peluang pekerjaan.

Pertama, Trend Whatching. Trend whatching merupakan kegiatan dalam memantau perubahan trend yang ada dalam lingkungan bisnis. Dengan ini maka seorang pebisnis akan mengetahui perubahan yang sedang dan akan terjadi misalnya trend teknologi, ekonomi, budaya, politik dan sebagainya. Dengan mencari tahu perubahan trend maka akan meminimalisir terjadinya disrupsi bagi suatu bisnis yang sedang dijalankan. 

Kedua Research, strategi untuk menghadapi disrupsi berikutnya adalah dengan melakukan riset. Supaya trend whatching yang dilakukan hasilnya lebih meyakinkan maka harus dilakukan pendekatan riset. Sebab dengan riset informasi yang akan didapat bisa dipertanggungjawabkan. Baik terkait kesahihan dan keabsahannya. Sebab semua dilakukan secara alamiah. Maka dari itu bisnis di era saat ini harus memiliki fungsi riset atau yang sering disebut dengan R&D (Research&Development). 

Ketiga Risk Management. Strategi dalam mengahadapi disrupsi selanjutnya adalah selalu melakukan pengelolaan terhadap resiko. Sementara itu risk management bisa difokuskan kepada disruption management yang isinya adalah bagaimana disrupsi diidentifikasika, dianalisis, dan dievaluasi. Dengan demikian bisnis memiliki ruang dan waktu dalam mengantisipasi gelaja disrupsi.

Keempat Innovation. Inovasi yang dimaksud disini yaitu mencari terobosan-terobosan baru. Salah satunya yaitu mengganti model bisnis offline menjadi online. apalagi sekarang sudah banyak toko offline yang berpindah marketplace online seperti tokopedia, shopee, lazada dan lain sebagainya.

Kelima Switching. Switching atau memutar haluan bisnis dilakukan jika memnag bisnis tidak bisa diotak-atik lagi. Jika kondisi seperti itu maka harus berani putar balik.  

Keenam Partnership. Cara mengahadapi era disrupsi selanjutnya yaitu dengan strategi partnership. Hal itu dikarenakan persaingan yang semakin sulit. Contohnya seperti kolaborasi antara tokopedia dengan BTS. 

Ketujuh Change Management. Change management dimaksudkan untuk merubah pola pikir dan kesadaran dari setiap elemen sumber daya manusia dalam organisasi bisnis. Tujuannya agar dapat bahu-membahu melakukan perubahan. Pasalnya efek dari disrupsi ini bisa merubah segala hal. Tak terkecuali pada budaya organisasi dalam melakukan proses bisnisnya. Maka dari itu solusinya adalah organisasi bisnis harus mampu berubah menyesuaikan budaya organisasi dengan era yang ada pada saat ini.

Lantas persiapan apa yg saya lakukan?

Persiapan yang saya lakukan yaitu saya mulai tertarik dan mempelajari binis online. Karena saya harus tahu bahwa masa deppan tidak akan sesempurna seperti apa yang kita bayangkan, tetapi masa depan bisa kita rencanakan dan rubah dari sekarang.

Sumber Referensi.

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200220154807-37-139344/pak-jokowi-yakin-mau-ganti-pns-dengan-robot-ai Diakses pada 20 November 2020 Pukul 18.30 WIB.

https://kalsel.prokal.co/read/news/28772-wacana-pns-diganti-robot-akankah-menambah-pengangguran.html Diakses pada 20 November 2020 Pukul 18.55 WIB.

https://ajaib.co.id/mengenal-7-strategi-bisnis-untuk-menghadapi-era-disrupsi/ Diakses pada 20 November 2020 Pukul 20.00 WIB.

(*) Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Pacitan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.