Resensi Buku Gerakan Pokok Seni Kethek Ogleng; Karya Agoes Hendriyanto

 


Resensi Buku Gerakan Pokok Seni Kethek Ogleng

Oleh: Al Rifa Rahayu Dianthi (*)





 

Judul Buku    : Gerakan Pokok Seni Kethek Ogleng 

Penulis           : Agoes Hendriyanto, Bakti Sutopo, Arif Mustofa

Penerbit          : Lembaga Ladang Kata

Cetakan          : Pertama, Mei 2019

Tebal              : 108 halaman

Tahun Terbit  : 2019

ISBN              : 978-623-7089-35-3

Sinopsis

Sutiman, seorang pengarang dan penggagas tari Kethek Ogleng Pacitan adalah masyarakat Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Sebagai seni, Kethek Ogleng yang diciptakan oleh Sutiman telah diserahkan kepada masyarakat desa Tokawi dan umumnya masyarakat Pacitan sehingga dikenal sebagai seni Kethek Ogleng Pacitan. Perjuangan Kethek Ogleng pada awal berdirinya sampai sekarang ini penuh dengan semangat perjuangan dengan berbagai keterbatasan terutama fasilitas yang tidak mendukung. Sebagai seni rakyat Seni Kethek Ogleng tidak seperti kesenian keraton atau istana yang serba mudah mencari pendukung penampilan. Perjuangan perlu diwariskan kembali sat ini kepada generasi penerus Kethek Ogleng di tengah-tengah gencarnya media online yang menarik jika dibandingkan dengan Kethek Ogleng. 

Baca Juga:  

 Kethek Ogleng Pacitan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2019 

 Kethek Ogleng Pacitan Setelah Mendapatkan Penetapan WBTB Indonesian 2019

 

Gerakan dasar tari Kethek Ogleng sendiri terdiri dari 6 gerakan dan masing-masing memiliki makna yang penting. Enam gerakan tersebut di atas dikembangkan menjadi beberapa gerakan yang akan dibahas lebih lanjut. Gerakan dalam seni Kethek Ogleng dapat dilakukan secara selang seling atau tidak selalu berurutan. Prinsip tari Kethek Ogleng seperti penuturan Bapak Sukiman bahwa gerakannya tidak memperhatikan urutan secara kaku disebabkan gerakan tari ini meniru gerakan kera di hutan yang terkesan spontanitas.

 

Isi Buku

Buku ini menceritakan tentang sejarah dan seni Kethek Ogleng. Kethek Ogleng Pacitan merupakan sebuah seni tari yang diciptakan oleh Sutiman, masyarakat Pacitan tepatnya Dusun Banaran, Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Sebagai sebuah seni yang terlahir di lingkungan masyarakat biasa, secara otomatis pakaian, gerakan, perlengkapan, pengiringnya berbeda dengan seni keraton. Sebagai seni, Kethek Ogleng yang diciptakan oleh Sutiman telah diserahkan kepada masyarakat desa Tokawi dan umumnya masyarakat Pacitan sehingga dikenal sebagai seni Kethek Ogleng Pacitan.


Pada saat pertama kali mementaskan Kethek Ogleng banyak yang menganggap Sukiman atau Sutiman sebagai orang gila. Akan tetapi Sukiman terus melakukan gerakan meniru tingkah laku kera pada setiap kegiatan baik di ladang, di rumah maupun di luar rumah. Hal itu semakin memperkuat anggapan warga masyarakat bahwa Sukiman/Sutiman orang gila atau tidak waras. Namun demikian ketika  Sukiman tidak menghiraukan cacian dan hinaan. Sebaliknya cacian dan hinaan tersebut menjadi penyemangat Sukiman untuk segera mewujudkan tariannya. Kerja keras Sukiman/Sutiman membuahkan hasil. Gerakan tarian yang mirip dengan kera hasil kreasinya mampu menghibur penonton meski hanya saat sedang latihan.


Seni Tari Kethek Ogleng sebagai salah satu seni pertunjukan khususnya di kabupaten Pacitan. Sebagai seni pertunjukan Kethek Ogleng diharapkan dapat menjadi alternatif hiburan masyarakat di Pacitan dan sekitarnya. Tarian Kethek Ogleng terinspirasi dari perilaku kera di alam bebas ketika Sutiman mencari kayu bakar. Gerakan lincah kera menginspirasi Sutiman untuk menciptakan gerakan tari yang sama sekali berbeda dengan tarian Keraton yang saat itu sudah ada. Seni Kethek Ogleng yang Sutiman kreasi mempunyai unsur keindahan pada gerak sehingga gerakan tari Kethek Ogleng, sehingga memiliki gerakan yang unik dan indah.

Ada gerakan blendrong yang ada di dalam seni Kethek Ogleng. Blendrong merupakan salah satu bagian gerakan yang melengkapi pertunjukan seni Kethek Ogleng. Paparan blendrong dalam seni Kethek Ogleng yang berbeda dengan blendrong pada umumnya. Ada 17 gerakan blendrong yang dipaparkan dalam buku ini secara rinci dan jelas. 


Ada enam pokok gerakan tari Kethek Ogleng yang terdiri dari gerakan: 1) koprol, berguling, dan akrobatik; 2) Duduk termenung dengan menyerupai duduknya kera; 3) berjalan seperti jalannya kera dengan posisi tangan dan kaki menapak di tanah dengan posisi badan membungkuk dengan tatapan mengarah ke depan; 4) gerakan dengan posisi berjalan dengan kaki dan tangan menyentuh di tanah bermain dengan penonton; 5) gerakan menjaili penonton dengan maksud untuk berinteraksi; 6) gerakan jika telah mendapatkan hadiah dari penonton berupa makanan ataupun bentuk lainnya dibawa ke rumah dengan gerakan mirip kera atau monyet.

Enam gerakan tersebut di atas dikembangkan menjadi beberapa gerakan yang akan dibahas lebih lanjut. Gerakan dalam seni Kethek Ogleng dapat dilakukan secara selang seling atau tidak selalu berurutan. Prinsip tari Kethek Ogleng seperti penuturan Bapak Sukiman bahwa gerakannya tidak memperhatikan urutan secara kaku disebabkan gerakan tari ini meniru gerakan kera di hutan yang terkesan spontanitas.

Pelatih, penari maupun pemerhati tari Kethek Ogleng tidak diharuskan melakukan gerakan tari secara urut atau berpedoman pada gambar yang akan kami uraian selanjutnya. Urutan tersebut hanya sebagai salah satu contoh gerakan klasik Kethek Ogleng. Kethek Ogleng dapat dieksplorasi sesuai kondisi asal enam gerakan tersebut masih ada.

 Kelebihan Buku

Kelebihan buku ini menceritakan secara detail sejarah seni dan tarian Kethek Ogleng. Di dalam buku ini juga disertai deskripsi gambar gerakan-gerakan Kethek Ogleng beserta maknanya. Susunan kalimat dalam buku ini tertulis secara terperinci, jelas, singkat, padat, dan mudah dipahami. Sehingga buku ini sangat direkomendasikan untuk dipelajari semua orang terutama generasi muda yang akan menjadi calon penerus seni Kethek Ogleng.

Selain itu, setelah mempelajari buku ini dapat menumbuhkan jiwa pantang menyerah untuk mencapai tujuan, meningkatkan nilai kedisiplinan, menumbuhkan sifat pemberani untuk mengeluarkan kemampuan dan keterampilan di depan umum, menumbuhkan jiwa solidaritas, dan menumbuhkan sifat kemandirian.

 Kekurangan Buku

 Kekurangan dalam buku ini banyak terdapat kata-kata yang salah dalam pengetikan. Misal, (Kethek = Kethak, Ogleng = Oglen, Eksistensi = Eksisitensi, Tempat = Temapt, Ceremony = Cerenemoni, Menampilkan = Menempilkan, Pagelaran tari = Pagearan tri, Adalah = adalag, dan lain-lain). Selain itu, dalam buku ini juga terdapat kesalahan dalam letak tanda titik (.) dan koma (,).

Buku ini kurang memberikan dorongan dan semangat kepada kaum milenial sebagai generasi penerus Kethek Ogleng untuk terus mempelajari buku ini dan melestarikan budaya Kethek Ogleng. Terlebih di dalam buku ini juga banyak menggunakan istilah Jawa, sehingga sebagian kaum milenial menilai bahwa buku ini kurang menarik dan terkesan jadul atau kuno. 

(*) Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Pacitan

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.