Semoga Januari Effect Terus Berlanjut

PEWARTA_NUSANTARA || Pasar saham sedang dikelilingi banyak optimisme. Mulai dari kehadiran vaksin Covid-19, perbaikan permintaan komoditas dunia, hingga pengesahan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat. Tak ayal, kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) pun kian ciamik. Kinerja yang cukup moncer itu, paling tidak, tergambarkan dalam minggu awal Januari ini. Pada perdagangan Senin (11/1/2021), IHSG mencetak rekor tertinggi sejak 24 Januari 2020, yakni di level 6.382,835, menguat 2% dalam sehari.

Optimisme pasar turut dibumbui pengumuman kenaikan cadangan devisa periode Desember 2020 sebesar USD135,9 miliar, naik USD2,3 miliar dari bulan sebelumnya.  Menurut Direktur Eksekutif dan Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,2 bulan impor atau 9,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Erwin dalam pernyataan resmi, Jumat (8/1/2021).  Adapun, BI mengklaim peningkatan posisi cadangan devisa pada Desember 2020, terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan penerimaan pajak.

IHSG sejatinya telah menunjukkan gelagat positif dalam beberapa waktu terakhir. Harapannya, tren positif terus berlanjut. Kendati, adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali pada 11-25 Januari 2021 bisa menjadi ujian terhadap kinerja bursa hingga ke depannya.

Walau begitu, sejumlah perusahaan sekuritas memberikan proyeksi yang positif berkaitan dengan kinerja bursa tersebut. Penguatan indeks dipicu oleh pasar saham AS yang menutup perdagangan Kamis (7/1/2021) dengan rekor tertinggi. Indeks Dow Jones untuk pertama kalinya menyentuh 31.000, begitu pula Nasdaq Composite yang ditutup di level 13.000, tertinggi sepanjang sejarah.

Faktor lain pendongkrak IHSG adalah kenaikan harga batu bara. Tren penguatan harga batu bara akan berlanjut seiring dengan pemulihan ekonomi global. Pasar saat ini menyambut baik periode January effect (efek Januari). Benar, Januari selalu memberikan harapan lebih bagi para investor di pasar modal.

Meski dihajar virus corona, tahun ini January effect ternyata tetap membawa sinyal yang bagus bagi para pemilik modal. Bukan tanpa sebab, para investor tetap percaya diri dalam bertransaksi di pasar saham, salah satunya, karena optimisme kehadiran vaksin Covid-19 yang mulai didistribusikan di seluruh wilayah Indonesia.

Mulai 13 Januari 2021, vaksin tersebut dipergunakan ke masyarakat terpilih. Presiden Joko Widodo menjadi yang pertama divaksin. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun sudah mengeluarkan mengeluarkan fatwa halal vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh Sinovac.

Menurut keterangan pemerintah, vaksinasi akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama akan dilakukan pada Januari--April 2021, diutamakan bagi 1,3 juta tenaga kesehatan dan 17,4 juta petugas pelayan publik. Tahap kedua, diperuntukkan bagi 63,9 juta masyarakat rentan dan 77,4 juta masyarakat lainnya yang diberikan sesuai pendekatan kluster.  Tahap kedua ini rencananya akan dilakukan pada April 2021 hingga Maret 2022. Kita tentu mengharapkan pelaksanaan vaksin dapat berjalan dengan baik sehingga angka pasien positif terpapar virus ini dapat berkurang signifikan.

Kembali lagi berkaitan dengan kinerja bursa, pasar dikelilingi beragam optimisme setelah hampir sepanjang tahun lalu tertekan. Optimisme pemulihan ekonomi baik dari domestik maupun global telah menjadi fokus utama pasar saat ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, saat konferensi pers Realisasi Pelaksanaan APBN TA 2020, pada Rabu (6/1/2021), juga mengemukakan optimistisnya berkaitan dengan kinerja bursa. Menurutnya, pulihnya aliran modal mendorong peningkatan IHSG dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD.

Arus modal masuk di pasar keuangan (net foreign buy/NFB) mulai membaik di triwulan IV setelah mengalami outflow sangat besar di triwulan II-2020. IHSG terus melanjutkan tren kenaikan setelah mengalami kondisi terburuk di bulan April. Nilai tukar rupiah terus menunjukkan penguatan menjelang akhir tahun dengan rata-rata sampai dengan akhir tahun mencapai Rp14.577/USD.

“Ini adalah situasi yang kita hadapi. Namun, Indonesia dibanding negara lain, kita akan terus keep-up untuk selalu relatif lebih baik atau meresepons secara lebih efektif, sehingga perekonomian dan masyarakat kita bisa bangkit kembali,” ujar Sri Mulyani Indrawati.

 

Hadapi Tantangan

Bila kita sejenak menengok ke belakang, sepanjang 2020, pasar modal kerap dihadapkan oleh berbagai tantangan dalam kondisi pandemi Covid-19. Kendati demikian, regulator pasar modal mampu beradaptasi secara dinamis dan terus berupaya menjawab kebutuhan pasar, serta kembali mencatatkan sejumlah pencapaian yang mendukung kemajuan pasar modal Indonesia.

Di tengah pandemi Covid-19, minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal tidak surut. Hingga 30 Desember 2020, telah terdapat 51 perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) dan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Artinya, hingga saat ini terdapat 713 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI. Indonesia pun masih menjadi bursa dengan jumlah IPO terbanyak di Asean.

 Aktivitas perdagangan BEI pada 2020 juga mengalami peningkatan. Itu tecermin dari kenaikan rata-rata frekuensi perdagangan yang tumbuh 32 persen menjadi 619 ribu kali per hari di November 2020. Itu juga menjadikan likuiditas perdagangan saham BEI lebih tinggi di antara bursa-bursa lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Pada periode yang sama, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) berangsur-angsur pulih dan mencapai nilai Rp9,18 triliun. Sepanjang 2020, jumlah investor di pasar modal Indonesia yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksadana mengalami peningkatan sebesar 56 persen mencapai 3,87 juta single investor identification (SID) sampai dengan 29 Desember 2020. Kenaikan investor ini 4 kali lipat lebih tinggi sejak 4 tahun terakhir dari 894.000 investor pada 2016. Selain itu, investor saham juga naik sebesar 53 persen menjadi sejumlah 1,68 juta SID.

Jika dilihat dari jumlah investor aktif harian, hingga 29 Desember 2020 terdapat 94.000 investor atau naik 73 persen dibandingkan akhir tahun lalu. Peningkatan jumlah investor serta aktivitas transaksi investor harian tentu merupakan hasil upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization (SRO) dalam mengedepankan sosialisasi dan edukasi terkait investasi di pasar modal kepada masyarakat.

Seiring dengan meningkatnya partisipasi investor ritel domestik, rekor transaksi perdagangan baru juga berhasil dicapai pada 2020, yaitu frekuensi transaksi harian saham tertinggi pada 22 Desember 2020 sebanyak 1.697.537 transaksi. Dari kondisi itu, harapannya, kinerja pasar modal yang cukup ciamik di awal Januari ini menjadi sinyal yang bagus bagi perekonomian Indonesia dan January effect terus berlanjut.

Penulis: Firman Hidranto
Editor: Eri Sutrisno/ Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Sumber: Indonesia.go.id



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.