Investasi Pembangunan Ekosistem Baterai Listrik Besar, untuk Jadi Pemain Terbesar

 

PEWARTA_NUSANTARA || Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, dalam lima tahun ke depan pemerintah ingin fokus ke industri hilir dari komoditas bijih nikel, karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. “Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia. Sekitar 25 persen cadangan nikel dunia, ada di Indonesia. Jumlahnya kurang lebih 21 juta ton. Indonesia mengontrol hampir 30 persen produksi nikel di dunia,” kata Presiden Jokowi, Minggu (10/1/2021).

Pernyataan Presiden Jokowi itu bukan bernuansa asa semata. Sebagaimana disampaikan Ketua Tim Percepatan Proyek Electric Vehicle (EV) Battery Nasional Agus Tjahajana Wirakusumah, dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, pada Senin, 1 Februari 2021, investasi pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu hingga hilir diproyeksikan mencapai USD13 miliar--USD17 miliar (setara Rp182 triliun hingga Rp238 triliun).

"Dari berbagai sumber informasi dan benchmark, diketahui bahwa nilai investasi baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir, terendah sampai tertinggi, untuk kapasitas hingga 140 GWh berkisar antara USD13,4 miliar hingga USD17,4 miliar," paparnya.

Pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik itu meliputi industri baterai dari hulu sampai hilir, termasuk infrastruktur stasiun pengisian daya (charging station) hingga daur ulang baterai. Perlu diketahui, Indonesia telah menentukan peta jalan menuju kendaraan bermotor listrik.

Dalam peta itu terdapat rencana pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU).  Detailnya, di peta jalan itu juga disebutkan rencana pembangunan SPKLU di 2.400 titik dan SPBKLU di 10 ribu titik hingga 2025. Selain juga, peningkatan daya listrik di rumah tangga pengguna kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).

Selain memiliki cadangan mineral sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik, pasar otomotif Indonesia juga jadi yang terbesar di kawasan. Itulah sebabnya, peluang Indonesia menjadi pemain global material produk hulu baterai atau nikel sulfat, pemain global produk antara (katoda) baterai, serta jadi pemain hilir regional dan domestik di baterai kendaraan listrik, sampai menjadi pusat manufaktur kendaraan berbasis listrik di Asia Tenggara, terbuka sangat luas.

Untuk menyiapkan itu semua, Kementerian BUMN membentuk konsorsium yang akan membangun industri baterai kendaraan listrik. Konsorsium itu terdiri dari empat BUMN, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pertamina (Persero), dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Konsorsium BUMN itu dinamai Indonesia Battery Holding (IBH) dan dibentuk atas penugasan Menteri BUMN pada September 2020.

Langkah itu semakin terang. Pada akhir 2020, telah ditandatangani nota kesepahaman (MoU) proyek pengembangan baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai USD9,8 (setara Rp142 triliun) antara konsorsium BUMN dan LG Energy Solution Ltd, anak perusahaan konglomerasi LG Group. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dengan LG Energy Solution di Seoul, Korea Selatan, pada 18 Desember 2020.

Lokasi pembangunan smelter dan tambang akan ditempatkan di Maluku Utara. Sedangkan produksi prekursor dan katoda serta sebagian baterai sel akan ditempatkan di Kawasan Industri Terpadu Batang, di Jawa Tengah. Pembangunan dimulai pada semester pertama 2021. Rencananya, sebagian baterai yang dihasilkan dari proyek ini akan disuplai ke pabrik mobil listrik yang dalam waktu dekat akan segera memulai tahap produksi.

Selain grup LG, yang sudah melakukan penandatanganan kontrak, juga raksasa industri baterai dari Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL). Perusahaan itu berencana membangun industri baterai terintegrasi dengan nilai foreign direct investment (FDI) mencapai USD5,2 miliar. 

Selain itu, ada juga perusahaan Jerman, yakni Badische Anilin-und Soda-Fabrik atau BASF, yang berencana membangun industri precursor dan katoda. Demikian juga dengan raksasa industri mobil listrik dari Amerika, Tesla, Inc, yang berencana membuat ekosistem industri mobil listrik.

Pengembangan industri baterai listrik terintegrasi merupakan langkah konkret yang sesuai dengan target Presiden Jokowi untuk mendorong transformasi ekonomi menuju Indonesia Maju di 2045. Hilirisasi pertambangan adalah salah satu wujud transformasi tersebut.

Seiring itu, target penerapan kendaraan listrik di dunia akan terus meningkat secara bertahap. Dalam kurun 2020-2030, negara-negara Asia akan mulai menerapkannya, antara lain, Republik Rakyat Tiongkok sebanyak 8,75 juta unit kendaraan listrik, Thailand (250 ribu unit kendaraan), Vietnam (100 ribu unit kendaraan), Malaysia (100 ribu unit kendaraan), serta India (55 ribu unit mobil listrik dan 1 juta unit motor listrik).

Sementara itu, di dalam negeri kebijakan senada pun mulai diberlakukan. Targetnya, penerapan kendaraan listrik Indonesia pada 2035 sebanyak 4 juta unit mobil listrik dan 10 juta unit motor listrik. Bagi Indonesia, mendorong pengembangan kendaraan listrik sekaligus berdampak pada berkurangnya impor minyak karena berkurangnya kendaraan berbasis energi fosil. Dalam catatan Kementerian ESDM, saat ini konsumsi BBM Indonesia sekitar 1,2 juta barel per hari dan kebutuhan BBM tersebut sebagian besar dipasok dari impor.

Berdasarkan Global Battery Alliance, peningkatan produksi kendaraan listrik akan menciptakan 10 juta pekerjaan. Nilai ekonomi dari industri ini sekitar 150 miliar dolar AS karena berkontribusi pada kemajuan, terkait dengan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM menargetkan bisa menghemat devisa sebesar 1,8 miliar dolar AS dari pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM) setara 77 ribu barel minyak per hari (barrel oil per day/bopd) dari penggunaan 2 juta unit mobil dan 13 juta motor atau kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dan dapat menurunkan emisi CO2 sebesar 1,1 juta ton CO2e sampai dengan 2030.

Saat ini konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,2 juta bopd dan sebagian besar dipasok dari impor. Dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi, ketergantungan pada BBM impor akan terus meningkat. Dengan begitu kendaraan listrik adalah solusi masa depan.

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/ Elvira Inda Sari

Sumber: Indonesia.go.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.