Kiat UMKM Jagorani Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

 
Oleh: Dewi Wulan Sari (*)

Kegiatan perekonomian di Indonesia kian hari semakin melemah terutama bidang ekonomi mikro. Hal ini terjadi karena penyebaran virus covid 19 belum menemui kabar baik untuk menghilang. Dengan demikian para pelaku usaha mikro harus extra dalam merancang strategi guna melakukan mitigasi risiko untuk mempertahankan usahanya agar tidak mengalami gulung tikar. Salah satu UMKM yang terdampak adalah olahan jamur Jagorani yang terletak di Kelurahan Ploso, Pacitan, Provinsi Jawa Timur.

 Usaha ini telah bertahun-tahun berdiri dengan berbagai upaya dan saat ini harus mengalami dampak yang luar biasa akibat pandemi sehingga mengakibatkan omzet menurun drastis. Agar kondisi pendapatannya tidak semakin memburuk pemilik Jagorani memiliki beberapa upaya yang dilakukan antara lain 1) mempertahankan kualitas produk dari olahan jamur itu sendiri sehingga para pelanggan tidak merasa kecewa dan pelanggan tetap juga tidak berpindah ke lain hati. 2) melakukan pemasaran melalui media online yang ada karena segala aktivitas masyarakat diluar rumah dibatasi oleh pemerintah. Hal ini menjadikan media online sebagai solusi pemasaran produk olahan jamur. 3) mencari reseler baru yang berbeda daerah sebagai upaya pengenalan jagorani kepada umum dan selain itu juga untuk menambah konsumen. Mengetahui dampak pandemi dan upaya-upaya yang dilakukan pemilik UMKM Jagorani dalam mempertahankan usahanya merupakan tujuan diadakannya penelitian ini.

Situasi di sekitar Alun-Alun Pacitan yang terpantau sepi dan tidak terlihat seperti hari hari biasa. Outlet makanan dan minuman banyak yang memilih tutup akibat sedikitnya pengunjung yang mampir dan singgah di tempat mereka. Bahkan pada malam tahun baru 2021 hanya satu dua orang yang terlihat di sekitaran alun-alun. Kalaupun ada masyarakat yang keluar hanya karna ada kepentingan atau kebutuhan yang harus dibeli. Outlet Jagorani di depan Indomart pojok alun-alun pun ikut sepi. Hal ini dikarenakan sejak tanggal 1-8 Januari ditetapkannya jam malam yang mengkibatkan aktifitas toko dan pusat jual beli hanya boleh beroperasi maksimal pukul 20.00 WIB.

Berdasarkan penuturan Bu Ani selaku pemilik UMKM Jagorani sejak berdiri pada tahun 2013 hingga sekarang ini baru menghadapi masa sulit yang luar biasa akibat dampak yang diakibatkan adanya pandemi. Mulai dari omzet yang mengalami penurunan drastis sehingga Bu Ani juga harus mengurangi karyawan guna pengurangan beban gaji. Oleh karena tenaga karyawan yang berkurang tentunya pemilik harus turun tangan dalam proses produksi. Tujuannya agar olahan jamur tetap dapat dipasarkan baik melalui online ataupun offline dengan kondisi yang serba terbatas ini.

Sangat terlihat jelas di tengah kota Pacitan lebih tepatnya di alun-alun banyak outlet berjejeran tetapi tidak banyak konsumen yang mendatangi mereka. Seperti yang dirasakan Dewi, penjaga outlet Olahan Jamur Jagorani bahwa selama pandemi ini omzet menurun drastis sementara setiap hari modal terus memutar utuk memproduksi dan juga membayar gaji karyawan lain. Penuturan tersebut memperkuat ungkapan Bu Ani sebelumnya, dimana beliau selaku pemilik dari UMKM Jagorani. UMKM Jagorani ini didirikan oleh Bu Ani beserta suami pada tanggal 5 Mei 2013.

Nama Jagorani sendiri memiliki kepanjangan yakni Jamur Goreng Ani yang tidak banyak diketahui masyarakat. Alasan Bu Ani merintis usaha ini berawa dari suami yang membudidayakan jamur dan dikarenakan pasar tidak lagi mampu menampung akhirnya muncul ide untuk mendirikan olahan jamur. Usaha ini berada tepatnya di Kelurahan Ploso Pacitan berdekatan dengan PP Al-Anwar. Pada awal berdiri Jagorani hanya membuka satu outlet. Melihat minat masyarakat terhadap olahan jamur yang tinggi sejalan waktu outlet ditambah dan berada di daerah yang berbeda-beda. Hal ini menjadi pencapaian yang membanggakan bagi Bu Ani sehingga beliau lebih bersemangat dan ulet dalam mengembangkan usahanya ini. Hari silih berganti seiring makin pesatnya perkembangan olahan jamur di masyarakat. Dengan adanya peluang bagus, pemilik tentunya menambah outlet Jagorani agar olahan jamur ini semakin di kenal oleh masyarakat Pacitan. Pada kenyataannya Bu Ani mampu menguasai peluang yang ada, dari yang semula hanya satu outlet saja kini telah membuka tujuh outlet Jagorani yang menyediakan berbagai jenis olahan jamur.

Beberapa tahun berjalan usaha ini baik-baik saja hingga pada tahun 2020 terjadi perubahan luar biasa akibat datangnya virus covid 19. Seluruh aktivitas seakan mati diselimuti rasa ketakutan. Perlahan-lahan masyarakat mulai mengurangi interaksi dengan dunia luar. Mereka akan keluar rumah jika ada hal yang benar-benar pentingataupun harus membeli kebutuhan sehari-hari. Hal ini mengakibatkan merosotnya angka pembeli olahan jamur yang hampir 80%.

Sekitar satu tahun lebih pandemi ada dan kondisi belum kunjung membaik. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika semakin hari konsumen dari olahan jamur semakin berkurang. Sebab banyak masyarakat yang memilih makanan cepat saji sebagai stok mereka di rumah. Menyadari hal itu, Bu Ani memiliki ide untuk memasarkan produk olahan jamur melalui media sosial baik wa, IG, dan facebook. Masyarakat yang ingin delivery juga bisa melalui grab. Dengan begitu pemasaran tetap berjalan untuk memperbaiki omzet sedikit demi sedikit.

Selain pemasaran online, Bu Ani mencari reseler-reseler baru untuk memasarkan produk ini. Karerna dari tujuh outlet hanya dua outlet saja yang tetap buka selama masa pandemi. Dengan adanya reseller ini mampu meminimalisir penurunan omzet sebanyak 20-25% dari total penurunan yang dirasakan sebanyak 50%. Tidak sampai disitu saja, beliau terus megembangkan ide-ide untuk memperbaiki kondisi UMKM nya.

Pantang menyerah meski sebenarnya pandemi ini memaksa setiap orang untuk extra berpikir menemukan inovasi baru di dalam kelangsungsan hidup. Setelah mampu menghasilkan reseler baru di daerah yang berbeda, pemilik terfokus pada kualitas produk olahan jamur. Bagaimana untuk mempertahankan kualitas yang tetap bagus meski dengan omzet pas-pasan. Bagus atau tidaknya kualiats suatu produk adalah salah satu pengaruh yang besar dalam proses pemasaran. Apabila kualitas produk semakin menurun pasti banyak konsumen yang kecewa.

Namun sebaliknya, jika kualitas dari olahan jamur UMKM Jagorani semakin bagus tentunya para pelanggan semakin puas dengan kualitas produk yang dihasilkan. Inilah alasan Bu Ani mengedepankan kualitas dari olahan jamur Jagorani.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan ini, Bu Ani sangat berharap UMKM nya tetap mampu bersaing dengan UMKM yang lain dengan keunggulan yang dimiliki Jagorani sendiri. Karena memang kondisi yang seperti ini harus dihadapi dengan inovasi dan kreatifitas agar usaha tetap berjalan dan bertahan di tengah pandemi. Hal seperti ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi UMKM Jagorani ke depannya dalam menyusun strategi untuk terus mengembangkan hasil produksinya.

(*) Mahasiswa Pend.Matematika STKIP PGRI Pacitan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.