Michael Foukault; Kuasa dan Pengetahuan


 
Oleh: Agoes Hendriyanto (*)

Foucault berpendapat  kuasa menjadi penentu wajah peradaban sangat dipengaruhi secara mendasar oleh gerak pengetahuan itu.  Oleh sebab itu setiap periode peradaban niscaya memiliki kekhasannya sendiri. Kekhasan masing-masing entitas peradaban  sepenuhnya dikendalikan oleh wajah penguasa yang disokong wajah pengetahuannya, yang  pelaksanaan kuasa terdapat  rezim wacana dan kebenaran yang bersifat esensial dalam setiap kebudayaan dan berbagai peristiwa historis. Oleh sebab itu analisis Foucault tentang pelaksanaan  kuasa akan mengantarkan pada gagasan dasarnya  untuk memperoleh kebenaran (Konrad Kebung Beoang, Michel Foucault; 1997: 50-51).

Pada suatu proses pembentukan dan penyebaran gugus-gugus diskursif tersebut ternyata tidak bebas dari limitasi, seleksi dan kontrol.  Pernyataa Foucault dengan adanya kesadaran akan adanya limitasi, seleksi, kontrol dan organisasi dapat dikatakan merupakan pintu awal yang menghantarkan pemikiran arkeologi masuk menuju pemikiran kekuasaan.   Foucault mengakui bahwa ada sekian banyak kekuatan dan kuasa yang menyebar luas dalam relasi antar manusia dengan manusia lain dan juga relasi manusia dengan lingkungan dan situasi mereka, dan lain-lain ( K. Bertens,1996; 302).

Kekuasaan menurut Foucault kekuasaan diartikan secara represif dan kadangkala malah opresif, yaitu  adanya dominasi antara subjek dan objek kekuasaan, seperti misalnya kekuasaan negara pada masyarakat, raja pada rakyatnya, suami pada isteri, pemilik modal kepada para karyawannya, ketua dengan anggotanya, dan sebagainya. Pengertian semacam itu banyak digunakan oleh para ahli sejarah, politik dan sosial (Haryatmoko, 2002: 10). 

Dasar pemikiran Foucault yaitu meneliti kekuasaan lebih pada individu, subjek dalam lingkup yang paling kecil. Karena kekuasaan menyebar tanpa bisa dilokalisasi dan meresap ke dalam seluruh jalinan perhubungan sosial. Kekuasaan beroperasi dan bukan dimiliki oleh oknum siapa pun dalam relasi-relasi pengetahuan, ilmu, lembaga-lembaga. Lagipula sifatnya bukan represif, melainkan menormalisasikan susunan-susunan masyarakat (Haryatmoko, 2002: 10).

Foucault, Michel (2002)  kekuasaan  bukanlah sesuatu yang hanya dikuasai oleh negara, sesuatu yang dapat diukur, namun kekuasaan ada di mana-mana, karena kekuasaan merupakan satu dimensi dari relasi dan  ada kekuasaan.  Kajian arkeologi pengetahuannya ini pada kuasa yang didefinisikannya sebagai berikut, kekuasaan harus dipahami;   pertama sebagai bermacam hubungan kekuatan, yang imanen di bidang hubungan kekuatan itu berlaku, dan yang merupakan unsur-unsur pembentuk dan organisasinya; kedua, permainan yang dengan jalan perjuangan dan pertarungan tanpa henti mengubah, memperkokoh, memutarbaliknya; ketiga, berbagai hubungan kekuatan yang saling mendukung, sehingga membentuk rangkaian atau sistem, atau sebaliknya, kesenjangan, dan kontradiksi yang saling mengucilkan; terakhir, strategi tempat hubungan-hubungan kekuatan itu berdampak, dan rancangan umumnya atau kristalisasinya dalam lembaga terwujud dalam  perangkat negara, perumusan hukum dan hegemoni sosial  (Michel Foucault, 1997)

Foucault mendefinisikan strategi kekuasaan sebagai melekat pada kehendak untuk mengetahui. Melalui wacana, kehendak untuk mengetahui terumus dalam pengetahuan. Wacana bukan muncul begitu saja akan tetapi diproduksi oleh zamannya masing-masing. pandangan kita tentang suatu objek dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh struktur diskursif tersebut; wacana dicirikan oleh batasan bidang dari objek, definisi dari perspektif yang paling dipercaya dan dipandang paling benar. Persepsi kita tentang suatu objek dibatasi oleh praktek diskursif ; dibatasi oleh pandangan yang mendefinisikan sesuatu bahwa ini benar dan yang lain salah.   
 
Wacana merupakan sebuah arena di mana khalayak berpikir dengan jalan tertentu, bukan yang lain. Wacana mampu menepis segala hal yang tidak termasuk dalam garis ketentuannya namun juga bisa memasukkan apa yang dianggap oleh struktur diskursif yang membentuknya benar. Dalam hal ini objek bisa jadi tidak berubah namun struktur diskursif dibuat, menjadikan objek tersebut berubah.

(*) Jurnalis dan Mahasiswa S3 Kajian Budaya UNS

(

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.