Keanekaragaman Budaya Indonesia Menyebabkan Perbedaan Menyikapi Fenomena Alam

 

Oleh: Agoes Hendriyanto

Indonesia sebagai sebuah Negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, agama, kepercayaan, dan adat istiadat akan semakin menambah keanekaragaman budaya.  Budaya yang dilahirkan melalui proses berpikir manusia atau sering disebut dengan akal budi dalam rangka untuk interaksi antara manusia dengan alam.

Keanekaragaman Budaya tersebut menyebabkan perbedaan masyarakat dalam menyikapi fenomena alam.  Salah satu yang masih dilestarikan oleh masyarakat Indonesia upacara adat.  Upacara adat tersebut berupa ruwatan, bersih desa, upacara kematian, upacara perkawinan, upacara kematian, upacara nyadran.

Upacara adat tersebut ada yang bentuknya ritual maupun hanya kebiasaan masyarakat setempat.   Leeuw (1987: 247) memberikan definisi ritual secara implisit atau eksplisit terkait dengan  kebiasaan  yang  dipahami sebagai tradisi  dan ibadah. Upacara ritual    diungkapkan dalam personifikasi mistik kekuatan alam, yakni kepercayaan pada makhluk gaib, kepercayaan pada dewa pencipta, atau dengan mengkonseptualisasikan hubungan antara berbagai kelompok sosial sebagai hubungan antara binatang-binatang, burung-burung, atau kekuatan-kekuatan alam (Keesing, 1992: 131). Lebih jauh Robertson Smith (1969: 23)  ritual adalah komponen utama agama, dan secara fundamental melayani fungsi sosial dasar untuk menciptakan dan memelihara komunitas.

Upacara keagamaan sebagai kegiatan ritual untuk berkumpulnya secara berkala  kelompok social,  untuk memproyeksikan gambar-gambar suci yang benar-benar mewakili komunitasnya.  Pada dasarnya  ritual dirancang untuk membangkitkan intensitas, semangat kebersamaan dalam sebuah upacara ritual tersebut yang lebih besar dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri manusia.  Respons emosional ini menyebabkan orang untuk mengidentifikasi diri mereka yang terdalam dengan perasaan realitas yang lebih besar  yaitu adanya Tuhan (Catherine Bell, 1997: 24).

Malinowski (1974: 34) mengakui bahwa beberapa ritual publik memiliki fungsi social, ada dua jenis ritual: pertama  ritual magis sebagai ritual yang memiliki fungsi sosial untuk meredakan kecemasan, kedua ritual keagamaan adalah ritual yang tidak memiliki tujuan sosial semacam itu dan hanya merupakan bentuk komunikasi dengan para dewa..  Bagi Leach (1968: 26), ritual adalah media untuk pengekspresian cita-cita dan model budaya yang, pada gilirannya, berfungsi untuk mengarahkan, meskipun tidak meresepkan, bentuk-bentuk lain dari perilaku sosial

Sebagai contohnya upacara adat  Ummemo di Afrika Selatan,  bertujuan sebagai bentuk seruan  dan himbauan tahunan untuk persatuan dan pelestarian nilai-nilai dan tradisi budaya otentik yang sangat penting untuk meningkatkan pembangunan dalam masyarakat, berhubungan dengan hak istimewa dari beberapa kepala suku dan didukung oleh delegasi raja  (J.J. Thwala, 2017).

Ritual sebagai bagian dari budaya masyarakat multikulturalisme di Indonesia harus dibina agar mempunyai dampak yang positif yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur dalam setiap kegiatan.  Jangan sampai ritual tersebut disalahgunakan untuk hal-hal yang secara nilai etis melanggar baik norma agama, norma adat, maupun norma negara.  Oleh sebab itu peran dari semua pihak untuk melakukan suatu pembinaan jika ritual ataupun upacara adat menyimpang dari semua norma yang berlaku di masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU PAPAK PRIMADONA BARU WISATA PANTAI PACITAN

KELOKAN TAK BERUJUNG

PESONA PANTAI KASAP RAJA AMPATNYA PACITAN

DESTINASI WISATA ALAM PANTAI PANCER DOR PACITAN ”

"Berdiri Aku" Karya Amir Hamzah 1933

PESONA SISI ROMANTIS BEIJI PARK PACITAN

Penambahan 1 Positif Covid 19 di Pacitan, Jawa Timur per 12 Juni 2020

Diduga Tak Bisa Berenang Bocah Asal Ketanggungan Brebes Mengapung di Sungai

Yuk Memulai Wirausaha Saat Pandemi Covid-19

Sajikan Informasi Kredibel, Dispenad-MNC Latih 20 Jurnalis Militer